Dayu Dara Permata: Dari Frustrasi Menjadi Revolusi Properti Digital
Suatu hari di tahun 2019, Dayu Dara Permata dibelit rasa frustrasi. Ia sedang mencari rumah untuk dibeli — bukan pertama kalinya, tetapi pengalaman ini terasa seperti mimpi buruk yang berulang. Harga properti tidak transparan, agen sering tidak responsif, dan proses negosiasi terasa membingungkan. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, ketika ia membeli rumah pertamanya, prosesnya sudah cukup menyulitkan.
Dia berpikir: mengapa di era digital, industri properti masih tertinggal jauh?
Berawal di Garasi
Ia menutup ponselnya dan menarik napas panjang. Harusnya ada cara yang lebih baik. Begitu pikirnya. Sebagai seseorang yang menghabiskan kariernya di dunia bisnis dan teknologi — mulai dari McKinsey & Company hingga memimpin Go-Life di Gojek — Dayu terbiasa melihat masalah sebagai peluang. Jika dunia transportasi bisa didigitalisasi, mengapa tidak dengan properti?
Saat itulah gagasan itu lahir. Ia tidak hanya ingin menciptakan marketplace properti. Ia ingin membangun platform yang mengintegrasikan seluruh perjalanan kepemilikan rumah — dari pencarian, pembiayaan, hingga transaksi final.
Lahir dari keresahan itu, Pinhome pun dimulai dari garasi rumahnya. Bersama suaminya dan seorang co-founder, ia menghabiskan hari-hari awal dengan menyusun konsep, membangun platform, dan berbicara dengan calon pengguna. Ia tahu tantangan terbesarnya bukan hanya membangun teknologi, tetapi mengubah cara orang berpikir tentang jual beli rumah.
Ketika pertama kali ia mempresentasikan idenya ke calon mitra, respons yang ia dapatkan beragam. Banyak yang skeptis. “Siapa yang mau beli rumah lewat internet?” Pertanyaan itu sering kali muncul.
Properti adalah transaksi besar, melibatkan emosi, kepercayaan, dan dokumen yang kompleks. Dunia properti di Indonesia masih sangat tradisional — orang ingin melihat rumah secara langsung, bertemu agen, dan menyelesaikan transaksi dengan tanda tangan basah.
Tapi Dayu tahu, perubahan tidak terjadi dalam semalam. Ia melihat pola yang sama ketika transportasi online pertama kali diperkenalkan — awal-awalnya ditolak, hingga akhirnya menjadi bagian dari keseharian. Ia yakin, saat orang mulai melihat kemudahan yang ditawarkan, mereka tidak akan mau kembali ke cara lama.
Tiga Pilar
Dengan strategi yang matang, Pinhome mulai memperkenalkan tiga pilar utama yang membedakannya dari platform lain:
Pertama, digitalisasi akses informasi: tidak ada lagi rumah yang sudah terjual tetapi masih terpampang di platform. Pinhome menggunakan teknologi AI untuk memverifikasi setiap listing, memastikan data yang tersedia selalu akurat.
Kedua, digitalisasi pembiayaan: bekerja sama dengan lebih dari 40 bank dan institusi keuangan, Pinhome memudahkan calon pembeli mengetahui kelayakan kredit mereka sebelum mengajukan pinjaman.
Ketiga, digitalisasi transaksi: dengan sistem escrow, pembayaran hanya berpindah setelah dokumen diverifikasi dan transaksi benar-benar sah, menghilangkan risiko penipuan.
Di bulan-bulan pertama, tim kecil mereka bekerja tanpa henti. Tidak ada investor besar di belakang mereka, hanya tekad dan keyakinan bahwa industri ini bisa lebih baik. Hari-hari mereka diisi dengan coding, presentasi ke calon mitra, serta berusaha meyakinkan bank dan agen properti untuk bergabung.
Perjalanan ini jauh dari mudah. Meyakinkan orang untuk mengadopsi cara baru membutuhkan lebih dari sekadar teknologi — dibutuhkan kepercayaan. Ketika transaksi pertama berhasil dilakukan di platform, Dayu merasa ada titik balik. Bukan hanya karena ada pembeli yang menemukan rumah impiannya, tetapi karena itu menjadi bukti bahwa visi mereka bisa terwujud.
Dari satu transaksi, berkembang menjadi ribuan. Dari tim kecil di garasi rumah, menjadi startup dengan lebih dari 200 karyawan dan cakupan layanan di lebih dari 500 kota di Indonesia.
Saat ini, lebih dari 1,6 juta properti telah terdigitalisasi melalui Pinhome, dan menjangkau lebih dari 500 kota, menjadikannya salah satu platform properti digital terbesar di Indonesia.
Tetapi bagi Dayu, perjalanan ini belum selesai.
Melangkah Jauh
Ia melihat bahwa tantangan kepemilikan rumah bukan hanya masalah Indonesia. Malaysia, Filipina, Vietnam—negara-negara ini menghadapi kesulitan serupa: harga rumah yang tidak transparan, transaksi yang lambat, dan pembiayaan yang sulit.
“Kami ingin membawa Pinhome lebih jauh. Kami ingin properti bisa diakses lebih mudah, tidak hanya di Indonesia, tetapi di Asia Tenggara,” katanya dalam BizzComm Podcast, kolaborasi SWA dengan LSPR Faculty of Business.
Perjalanan Pinhome adalah kisah tentang bagaimana sebuah keresahan kecil bisa berubah menjadi inovasi besar. Dari sebuah pengalaman pribadi yang penuh frustrasi, Dayu Dara menciptakan startup yang kini mengubah cara orang membeli rumah di Indonesia.
Dan siapa sangka, semua ini bermula dari sebuah pertanyaan sederhana: "Kenapa ini masih begitu sulit?" (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.