Sindrom “Supdibilheb”

null

Orang yang terlalu menginginkan pujian dari orang lain sering kehilangan diri sendiri.” ― Michael Bassey Johnson

Judul artikel ini bukan bahasa Thailand, atau bahasa-bahasa negara lain. “Supdibilheb” adalah akronim dari kata-kata dalam bahasa Indonesia, “supaya dibilang hebat”.

Seorang bapak, kepala keluarga, hidupnya serba paspasan, sangat sederhana. Sebagai seorang pegawai di level bawah, di Jakarta, ia harus sangat berhemat dalam kehidupannya.

Ndilalah, di hari Lebaran ia didorong sang istri untuk menyewa mobil untuk keperluan mudik. Suatu permintaan yang berat. Namun akhirnya, sang bapak sepakat. Hingga untuk membiayai mudik kali ini, ia terpaksa melakukan pinjol. Ini suatu tambahan beban hidup yang berat. Semata-mata agar keluarganya supdibilheb.

Seorang gadis remaja, dari sebuah keluarga sederhana, mendapat undangan pesta dari seorang kawannya, seorang remaja juga, anak seorang selebritas yang amat tajir. Pesta diadakan di hotel premium, mengundang banyak orang. Suatu model pesta yang sangat gemerlap.

Sang gadis, untuk keperluan ini, meminjam kepada seorang kawan lain, gaun pesta yang wah. Gaun pesta premium. Tak terhindarkan, ada faktor supdibilheb.

Kisah klasik di banyak wilayah, satu keluarga menjual tanah, aset paling berharga yang mereka miliki, semata-mata agar bisa mengadakan pesta pernikahan anak mereka. Mereka pun, dalam soal hajatan nikah, tak mampu lepas dari sindrom supdibilheb.

Mereka seakan tak sayang, bahwa penjualan aset berharga mereka tak sebanding dengan kemungkinan kesulitan keuangan dalam perjalanan hidup mereka di kemudian hari.

Seorang ayah muda, yang cukup lama gelisah karena merasa tertinggal dari kawan-kawannya yang berhobi main moge, akhirnya nekat mengambil kredit untuk membeli moge dambaannya. Sudah tentu, soal ini membuatnya berselisih keras dengan sang istri yang tak melihat urgensi pembelian moge.

Sang istri berpikir, banyak hal lain yang lebih penting dan memerlukan banyak biaya. Apalagi, sudah ada pula kredit-kredit lain yang harus dicicil selama ini. Kembali, faktor supdibilheb berperan di sini.

Mereka terobsesi kepada predikat supdibilheb. Padahal, kenyataannya mereka tak punya modal cukup untuk dibilang hebat.

Padahal, ada petitih bijak, “Jangan mencoba menjadi hebat di depan orang lain, karena itu akan membuatmu kehilangan keaslian diri sendiri. Jadilah diri sendiri, dan biarkan kehebatanmu bersinar dari dalam.”

Di sisi lain, “Kenikmatan terbesar dalam hidup adalah melakukan apa-apa yang orang katakan Anda tak akan mampu melakukannya,” kata Walter Bagehot, jurnalis terkemuka sekaligus seorang pebisnis Inggris abad ke-19.

Mereka terpacu untuk melakukan aksi-aksi yang nampak hebat, mengagetkan, sekaligus membuat orang lain terpana karena kagum. Mereka akan terpuaskan bila mereka akhirnya sukses membuat orang lain memberikan label “orang hebat” kepada diri mereka.

Padahal, “Orang yang menginginkan pujian dari orang lain sering kehilangan kepercayaan pada diri sendiri,” kata Lao Tzu. Supdibilhep adalah perbuatan negatif yang amat sangat merugikan diri sendiri.

Sayang sekali. Padahal, kehidupan di dunia yang amat singkat ini cukup dijalani dengan prinsip sederhana: “berpikir, berkata-kata, dan berbuat baik”. Cukuplah Yang Maha Kuasa yang menilai kita. Dengan prinsip dasar itu, lakukan versi terbaik kita dalam mengarungi kehidupan nan fana ini.

Buang jauh-jauh sindrom supdibilheb sepanjang hayat. Kata George Eliot, jurnalis terkemuka abad ke-19, “Tak akan pernah terlambat untuk menjadi siapa Anda seharusnya.” (*)

Penulis: Pongki Pamungkas

# Tag