Oto Multiartha (OTMA) Koreksi Laporan Keuangan Tahunan 2024, Laba Naik 7,64% Menjadi Rp53,5 Miliar

Oto Multiartha (OTMA) Koreksi Laporan Keuangan Tahunan 2024, Laba Naik 7,64% Menjadi Rp53,5 Miliar
Ilustrasi gedung PT Oto Multiartha (OTMA). Foto Oto Multiartha

PT Oto Multiartha (OTMA) mengoreksi laporan keuangan tahunan 2024 dalam laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (11/3/2025). OTMA membukukan laba bersih tahun berjalan pada tahun 2024 sebesar Rp53,5 miliar, meningkat 7,64% dibanding periode sebelumnya sebesar Rp49,71 miliar.

Peningkatan laba itu didukung oleh peningkatan total pendapatan 8,61% menjadi Rp2,45 triliun. Tahun sebelumnya, OTMA mencetak pendapatan Rp2,26 triliun. Pendapatan itu didukung dari pendapatan pihak berelasi sebesar Rp6,43 miliar dan pihak ketiga sebesar Rp2,36 triliun.

Dari segi pendapatan, OTMA meraup pendapatan dari sejumlah lini, paling besar di pendapatan pembiayaan konsumen sebesar Rp1,95 triliun pada 2024. Sebelumnya, sebesar Rp1,69 triliun. Lini pendapatan yang mengalami yaitu jasa administrasi sebesar Rp73,48 miliar, sebelumnya Rp72,59 miliar.

Selebihnya, lini pendapatan OTMA mengalami penurunan signifikan. Mulai dari komisi dari perusahaan asuransi sebesar Rp113,55 miliar dari Rp128,61 miliar. Pendapatan sewa dari kendaraan sewa sebesar Rp107,18 miliar yang sebelumnya Rp109,81 miliar.

Selanjutnya, penerimaan/pemulihan kembali atas piutang yang telah dihapusbukukan sebesar Rp44,10 miliar yang sebelumnya Rp73,84 miliar. Pendapatan denda sebesar Rp42,54 miliar, sebelumnya Rp49,15 miliar. Jasa manajemen sebesar Rp32,55 miliar, sebelumnya Rp40 miliar. Sementara lini pendapatan bunga akibat dari kerugian modifikasi anjlok menjadi Rp123 juta, dari sebelumnya Rp6,87 miliar.

“Amortisasi biaya transaksi yang diakui sebagai pengurang dari pendapatan pembiayaan konsumen adalah masing-masing sebesar Rp438,7 miliar (31 Desember 2024) dan Rp344,05 miliar (31 Desember 2023,” tulis manajemen Oto Multiartha dalam laporan keuangan tahunan 2024 dari laman keterbukaan informasi BEI pada Selasa (11/3/2025).

Dari segi total jumlah beban, OTMA masih mencetak kenaikan rugi 8,4% hingga Rp2,37 triliun pada 2024. Tahun sebelumnya, kerugian itu sebesar Rp2,18 triliun. Pos-pos beban yang mencetak rugi OTMA terbesar antara lain beban umum dan administrasi dari pihak ketiga sebesar Rp709,39 miliar.

Kemudian beban keuangan pihak ketiga sebesar Rp605,51 miliar. Untuk beban keuangan, asalnya dari pinjaman yang diterima sebesar Rp698,45 miliar, meningkat dari yang sebelumnya Rp516,08 miliar. Selanjutnya adalah utang obligasi dan liabilitas sewa yang masing-masing sebesar Rp62,7 miliar dan Rp512 juta. Sehingga total beban keuangan meningkat sebesar Rp761,66 miliar dari sebelumnya Rp582,41 miliar.

Meskipun begitu, beban dari lini penambahan cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan menurun hingga Rp504,93 miliar, sebelumnya sebesar Rp515,37 miliar. Sementara itu, gaji dan tunjangan karyawan mengalami fluktuasi. Untuk gaji dan tunjangan karyawan pihak berelasi naik menjadi Rp20,64 miliar, sedangkan untuk pihak ketiga turun Rp228,21 miliar.

Masih seputar gaji dan tunjangan karyawan OTMA, gaji dan tunjangan mengalami penurunan tipis dari tahun sebelumnya sebesar Rp345,31 miliar. Pada tahun 2024, turun menjadi Rp344,86 miliar. Namun, imbalan pascakerja karyawan meningkat di tahun 2024, menjadi Rp13,99 miliar yang sebelumnya Rp12,95 miliar. Ini semua yang membuat pos gaji dan tunjangan karyawan naik tipis menjadi Rp358,85 miliar dibanding sebelumnya Rp358,27 miliar.

Hasilnya, laba sebelum pajak penghasilan OTMA mengalami kenaikan 14,98% menjadi Rp83,11 miliar. Tahun sebelumnya sebesar Rp72,28 miliar. Inilah yang membuat laba bersih tahun berjalan OTMA pada 2024 meningkat menjadi Rp53,5 miliar.

Dari segi aset dan liabilitas OTMA, masing-masing meningkat menjadi Rp15,68 triliun dan Rp10,05 triliun. Sementara itu, ekuitasnya menurun menjadi Rp5,62 triliun, sebelumnya Rp6,03 triliun.

Terkait segmen pelanggan, OTMA mencatatkan pendapatan pembiayaan konsumen dari pihak eksternal - bersih berdasarkan pasar geografis dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Karawang (Jabodetabeka). Area tersebut mengalami penurunan porsi menjadi 22%. Sehingga pendapatan dari area tersebut menjadi Rp431,19 miliar. Pada tahun sebelumnya, sebesar Rp420,94 miliar atau porsinya 24,79%.

Area lain yang mengalami peningkatan pendapatan pembiayaan konsumen dari pihak eksternal antara lain Sumatera menjadi Rp399,7 miliar atau porsinya 20,40%. Jawa Timur dan Bali sebesar Rp257,12 miliar atau porsinya 13,12%. Kalimantan dan Sulawesi sebesar Rp472,2 miliar atau porsinya 24,10%. Jawa Barat dan Banten sebesar Rp320,29 miliar atau porsinya 16,35%. Terakhir, Jawa Tengah sebesar Rp78,90 miliar atau porsinya 4,03%.

Hingga saat ini, OTMA memiliki kantor pusat dan 63 kantor cabang (tidak diaudit) di Jabodetabeka, Sumatera, Jawa Timur dan Bali, Kalimantan dan Sulawesi, Jawa Barat dan Banten, serta Jawa Tengah. (*)

# Tag