Pasar Saham AS dan Kripto Melorot, Adakah Katalis Positif Selanjutnya?

null

Pasar saham AS dan kripto tengah mengalami penurunan signifikan. Pasar saham AS kehilangan nilai sebesar US$4 triliun dalam sehari pada perdagangan Senin (10/3/2025).

Tiga indeks saham utama Wall Street yaitu S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones Industrial Average masing-masing mengalami penurunan lebih dari 2% dalam satu hari tersebut dan investor beralih ke aset safe-haven seperti obligasi pemerintah AS.

Sementara di pasar kripto, Bitcoin turun sekitar 5% sedangkan Ethereum turun 10% lebih, meningkatkan tekanan likuidasi di tengah tingginya volatilitas pasar. Laporan inflasi CPI AS yang akan dirilis pada 12 Maret dan ancaman shutdown pemerintah semakin menambah ketegangan pasar.

Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan fenomena tersebut mengindikasikan kemungkinan sedang terjadinya upaya penyesuaian portofolio besar-besaran yang terjadi di kalangan investor dan aset manajer. Potensi stagflasi kembali terbuka yang diindikasikan dengan pertumbuhan ekonomi lambat, inflasi tinggi serta resesi ekonomi AS.

“Hal itu membuat investor untuk sementara mungkin lebih memilih mengalokasikan aset di instrumen risk-off. Masih minimnya kejelasan terkait resolusi dari potensi risiko tersebut membuat tekanan yang ada di pasar saham AS saat ini mungkin masih akan bertahan selama beberapa saat,” ungkap Fahmi, Selasa (11/3/2025).

Di pasar kripto, koreksi harga Bitcoin di bawah US$80.000 yang terjadi saat ini mungkin menjadi peluang akumulasi bagi investor institusi, khususnya jika Bitcoin dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

“Meskipun demikian, altcoin, terutama yang terkait proyek AI atau teknologi, mungkin akan lebih rentan terkoreksi lebih dalam akibat valuasi yang terlalu optimis dan korelasinya dengan sentimen saham-saham AS di sektor teknologi seperti Nvidia. Ke depan, laporan inflasi dan perkembangan kebijakan fiskal AS akan menjadi katalis utama,” lanjutnya.

Pasar memperkirakan inflasi CPI AS akan mengalami kenaikan sekitar 0,23%, yang mana lebih rendah dibandingkan inflasi Januari yang naik 0,5%. Namun, kenaikan pada angka tersebut masih akan membuat inflasi tahunan AS berada di angka 3%, masih relatif cukup jauh dari target The Fed di 2%.

Fahmi menilai, dengan hasil pertemuan KTT Kripto Gedung Putih yang belum banyak memberikan katalis positif bagi pasar kripto, kembali ditahannya suku bunga The Fed pada pertemuan 19 Maret pekan depan berpotensi membuat pasar kripto berada pada kondisi yang masih minim katalis positif. Kondisi tersebut dapat membuat tekanan yang ada di pasar saat ini berpotensi berlanjut.

“Meskipun demikian, potensi pergeseran sentimen investor tetap terbuka di mana Bitcoin dapat dipandang sebagai inflation hedge. Langkah administrasi Trump untuk mensahkan Strategic Bitcoin Reserve AS dapat semakin meningkatkan legitimasi Bitcoin di kalangan investor tradisional dan negara-negara lain yang sedang mengeksplorasi langkah serupa,” ucap Fahmi. (*)

# Tag