Medela Potentia (MDLA) Menjajaki Ekspansi Bisnis di Asia Tenggara

null
Jajaran direksi dan komisaris MDLA yang didampingi perwakilan penjamin emisi pada IPO MDLA di Jakarta, Kamis (13/3/2025). (Foto : Vicky Rachman/SWA).

PT Medela Potentia Tbk (MDLA) memiliki unit bisnis di Kamboja. Rencananya, perseroan pada jangka pendek-panjang itu bakal mengepakkan sayap bisnisnya di beberapa negara di Asia Tenggara, semisal Filipina , Singapura, dan Thailand. Untuk memuluskan rencana ekspansi regional ini, manajemen MDLA menjajaki kemitraan dengan para mitra bisnis di negara tersebut.

Pada tahap awal, kami mencari partner di ASEAN. Tahap berikutnya, kami bisa saja menjajaki investasi di negara Asia Tenggara untuk distribusi farmasi dan alat-alat kesehatan,” ujar Krestijanto Pandji, Presiden Direktur Medela Potentia saat dijumpai awak media usai Public Expose dan Due Diligence Meeting di Jakarta, Kamis (13/3/ 2025). Perseroan pada saat ini masih mengkaji dan mempertimbangkan lebih lanjut untuk mengeksekusi opsi tersebut agar memuluskan ekspansi ke beberapa negara di Asia Tenggara.

Rencananya, MDLA menggelar penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) pada 15 April 2025. Medela Potentia pada aksi korporasi ini menawarkan sebanyak 3,5 miliar saham, yang setara dengan 25% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh Perusahaan. Pada periode bookbuilding dari 11 Maret 2025 hingga 17 Maret 2025, harga saham MDLA ditawarkan pada rentang harga Rp180 hingga Rp230 per lembar.

Perseroan berpotensi mengumpulkan dana segar dari IPO sebesar Rp805 miliar. Medela Potentia akan menggunakan dana yang terkumpul dari IPO ini untuk mendukung rencana strategis dalam inovasi dan ekspansi secara global. Perusahaan mengambil langkah ini untuk memperkuat posisi sebagai salah satu pemimpin dalam industri pelayanan kesehatan berkualitas tinggi di Indonesia maupun regional Asia Tenggara.

Memiliki pengalaman lebih dari empat dekade membangun akses kesehatan berkualitas, Medela Potentia dan entitas anak telah bertransformasi dari perusahaan penyedia layanan dan produk kesehatan, menjadi platform distribusi terpadu yang menyediakan beragam produk kesehatan serta perangkat medis, untuk memberikan akses luas terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia.

“Kami berkomitmen untuk berinvestasi dalam teknologi, infrastruktur, dan inovasi produk untuk mendukung kebutuhan layanan kesehatan Indonesia yang terus berkembang,” ujar Krestijanto.

Komitmen ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menjadi grup layanan kesehatan global terpercaya, serta memberikan nilai signifikan kepada pelanggan dan mitra bisnis. Dalam mewujudkan visi tersebut, Medela Potentia berfokus pada penyediaan rantai pasokan serta jaringan distribusi yang kuat dan luas.

Kemudian menerapkan sistem dan teknologi mutakhir, memastikan standar kualitas tertinggi dalam setiap produk, serta membangun talenta tim terbaik. MDLA mencetak pertumbuhan pendapatan dua digit dengan mencapai tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 11,8% dari 2021 hingga 2023.

Margin laba kotor perusahaan stabil di 9,4% dalam empat tahun terakhir, mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghadapi fluktuasi pasar sambil mempertahankan profitabilitas. Perusahaan juga mencatat gross profit dengan CAGR sebesar 11,9% dalam tiga tahun, mencapai Rp 1,23 triliun pada 2023 dari Rp 1,08 triliun di 2021.

Sebagai salah satu platform distribusi pelayanan kesehatan terintegrasi terbesar di Indonesia, Medela Potentia terus memimpin dalam distribusi farmasi etis dan manufaktur perangkat medis. Perusahaan memiliki kehadiran dominan di sektor Cakupan Kesehatan Universal (UHC) Indonesia, memanfaatkan sistem e-katalog untuk memastikan akses layanan kesehatan yang terjangkau dan transparan.

“Kekuatan keuangan dan posisi kepemimpinan pasar Medela Potentia menempatkan kami pada posisi yang baik untuk pertumbuhan berkelanjutan,” jelas Krestijanto.

Medela Potentia akan berfokus pada tiga pilar strategis untuk pertumbuhan bisnis berkelanjutan di masa depan. Hal ini meliputi ekspansi pasar dengan memperkuat infrastruktur domestik dengan cabang dan gudang baru, sambil menjajaki ekspansi regional di ASEAN.

Kemudian, modernisasi distribusi dan berinvestasi dalam logistik berbasis AI, otomatisasi gudang (ASRS), dan platform digital untuk meningkatkan efisiensi. Selanjutnya, diversifikasi ke perangkat medis untuk memperluas kemampuan manufaktur internal dan membentuk kemitraan baru di bidang ortopedi, bedah invasif minimal, dan patologi.

Fokus ini dilakukan karena perseroan berpeluang besar untuk memanfaatkan meningkatnya permintaan layanan kesehatan di Indonesia, terutama masa setelah berakhirnya pandemi Covid-19. Demografi dan kondisi umum industri kesehatan Tanah Air menunjukkan komposisi populasi lanjut usia di Indonesia akan mencapai 24,5 juta orang pada 2028 atau meningkat sebesar 4,5% dari 2023.

Indikator kesehatan di Indonesia secara rata-rata dalam 5 tahun terakhir menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, dengan prevalensi diabetes mencapai 10,6%, tekanan darah tinggi 22,4%, dan tekanan darah glukosa 9,8%, serta kolesterol mencapai 37.7% dari populasi. Hal ini menunjukkan kebutuhan tinggi terhadap pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, serta akses merata dan berkualitas. (*)

# Tag