Akeso: Sang Penantang Dominasi Farmasi Barat

Perusahaan-perusahaan bioteknologi China terus menunjukkan taringnya. Salah satunya adalah Akeso. Ia kini menantang dominasi raksasa farmasi Barat dengan inovasi terobosannya di medan obat kanker. Apakah ini awal dari era baru di mana China memimpin inovasi medis?
Di tengah dominasi raksasa farmasi Barat, muncul sebuah nama yang kini menjadi buah bibir. Akeso, perusahaan bioteknologi asal China yang sebelumnya tidak banyak dikenal, kini menjadi pusat perhatian dunia setelah keberhasilannya mengembangkan Ivonescimab. Obat ini bukan sekadar terapi kanker biasa—ia adalah simbol bagaimana sains, keberanian, dan ambisi dapat mengguncang tatanan industri yang telah lama mapan.
Dengan menciptakan terapi bispecific yang mampu mengungguli Keytruda, Akeso yang baru berdiri pada tahun 2012, membuktikan bahwa inovasi tidak lagi hanya milik perusahaan-perusahaan raksasa dari Amerika atau Eropa.
Ivonescimab bukan hanya sekadar obat, melainkan revolusi dalam terapi kanker. Data uji klinis fase III yang diumumkan pada World Lung Cancer Conference (WCLC) 2024 di Santiago menyebutkan bahwa pasien yang menerima Ivonescimab mampu bertahan hampir dua kali lebih lama sebelum tumornya berkembang, dibandingkan dengan mereka yang menerima Keytruda. Ini bukan hanya angka—ini adalah harapan baru bagi pasien kanker paru-paru non-sel kecil (NSCLC) di seluruh dunia.
Ketika berita ini tersebar, dunia farmasi global terkejut. Dalam hitungan hari, pasar modal pun bereaksi cepat. Saham Summit Therapeutics, mitra Akeso di Amerika Serikat, melonjak lebih dari dua kali lipat setelah mereka mengamankan lisensi untuk mengkomersialkan Ivonescimab di Amerika Utara dan Eropa. Investor yang sebelumnya menganggap Akeso sebagai pemain kecil kini melihat perusahaan ini sebagai ancaman serius bagi dominasi raksasa farmasi global.
Namun, perjalanan Akeso bukanlah kebetulan. China telah lama mempersiapkan diri untuk momen seperti ini. Selama bertahun-tahun, negara ini telah melakukan investasi besar dalam riset dan pengembangan bioteknologi.
Dari pembuatan obat generik hingga inovasi terapi berbasis antibodi, China bergerak cepat, melampaui stigma lama bahwa industri farmasi mereka hanya mampu meniru produk Barat. Dengan dukungan penuh dari pemerintah serta kerja sama dengan investor global, perusahaan seperti Akeso kini mampu bersaing dalam arena inovasi tingkat tinggi.
Keberhasilan Akeso juga bertepatan dengan terobosan besar China di bidang kecerdasan buatan (AI) melalui DeepSeek. Dunia kini menyadari bahwa China bukan lagi sekadar “pabrik dunia,” tetapi juga pusat inovasi global. Dari kecerdasan buatan hingga bioteknologi, China menunjukkan bahwa mereka mampu menciptakan, bukan hanya meniru.
Kombinasi antara kekuatan teknologi dan keunggulan sains medis ini membuat negara-negara Barat mulai khawatir—dan bagi Akeso, ini adalah momen emas untuk menegaskan eksistensinya di pasar farmasi dunia.
Selama beberapa dekade, industri farmasi China lebih dikenal sebagai pabrik obat generik yang memproduksi versi lebih murah dari obat-obatan Barat. Mereka dianggap sebagai pengekor, bukan inovator.
Akan tetapi, dalam sepuluh tahun terakhir, China mulai melakukan lompatan besar dengan berinvestasi besar-besaran dalam penelitian dan pengembangan (R&D). Perusahaan seperti Akeso tidak lagi sekadar meniru, tetapi menciptakan solusi medis baru yang bisa bersaing secara langsung dengan obat-obatan terbaik dunia. Ivonescimab adalah bukti nyata dari transformasi ini.
Perubahan ini didorong oleh lonjakan investasi dan kesepakatan internasional . Data dari HSBC Qianhai Securities menunjukkan bahwa jumlah kesepakatan lisensi antara perusahaan bioteknologi China dan mitra global meningkat dari 46 kesepakatan pada 2017 menjadi lebih dari 200 pada 2023. Total nilai transaksi pun meroket dari US$4 miliar menjadi US$57 miliar dalam periode yang sama. Ini bukan sekadar tren, ini adalah gelombang yang mengubah wajah industri farmasi global.
Salah satu indikasi paling jelas dari kebangkitan bioteknologi China adalah kerja sama strategis yang dilakukan dengan raksasa farmasi Barat. Pada 2023 , AstraZeneca menandatangani kontrak senilai US$1,92 miliar dengan CSPC Pharmaceutical Group untuk mengembangkan obat kardiovaskular, sementara Merck bermitra dengan Hansoh Pharmaceutical China dalam pengembangan pil penurun berat badan eksperimental, dengan nilai kesepakatan mencapai US$2 miliar.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perusahaan farmasi global tidak lagi menganggap China hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai mitra inovasi yang memiliki daya saing tinggi. Akan tetapi, keberhasilan Akeso juga menimbulkan pertanyaan besar bagi dunia farmasi Barat.
Jika perusahaan China bisa mengembangkan terapi kanker yang lebih efektif dan lebih murah, bagaimana nasib dominasi perusahaan-perusahaan farmasi raksasa yang telah bertahan selama puluhan tahun? Apakah kita sedang menyaksikan berakhirnya monopoli farmasi Barat, ataukah ini hanya babak baru dari persaingan yang semakin sengit? Akeso, dengan Ivonescimab sebagai tombak utamanya, sedang menguji batas tatanan farmasi yang telah lama mapan.
Di China sendiri, respons terhadap kebangkitan Akeso tidak sepenuhnya positif. Banyak pasien masih lebih percaya pada obat impor, karena anggapan bahwa produk luar negeri memiliki standar kualitas yang lebih tinggi.
Skandal terkait obat generik China di masa lalu semakin memperkuat skeptisisme ini. Bahkan ketika Akeso mengumumkan pencapaiannya yang luar biasa, masih banyak warga China yang lebih memilih Keytruda daripada Ivonescimab, meskipun data klinis menunjukkan bahwa Ivonescimab lebih efektif. Mampukah Akeso menembus keraguan ini dan membuktikan bahwa mereka benar-benar telah sejajar dengan raksasa farmasi dunia? Waktu yang akan menjawab.
Di luar skeptisisme domestik, Akeso juga menghadapi tantangan besar dalam menembus pasar global. Salah satu hambatan terbesar adalah persetujuan dari regulator farmasi utama, seperti FDA di Amerika Serikat dan EMA di Eropa.
Meskipun Ivonescimab telah mendapatkan persetujuan dari regulator farmasi China untuk beberapa pasien kanker paru-paru , tantangan berikutnya adalah mendapatkan izin edar di pasar Barat. Proses ini tidak mudah — banyak obat asal China yang sebelumnya gagal mendapatkan persetujuan FDA karena standar uji klinis yang dianggap kurang ketat.
FDA memang terkenal dengan pendekatan konservatif dalam menilai obat-obatan baru, terutama yang berasal dari negara dengan standar pengawasan yang berbeda. Beberapa obat China sebelumnya ditolak karena desain uji klinis yang tidak memenuhi kriteria FDA, meskipun efektivitasnya terbukti.
Akeso menyadari tantangan ini, dan untuk mengatasinya, mereka mempercepat uji klinis global, melibatkan pasien dari berbagai negara dengan sistem kesehatan yang lebih ketat. Ini adalah strategi untuk menunjukkan bahwa Ivonescimab tidak hanya unggul di laboratorium China, tetapi juga dalam standar medis internasional.
Selain tantangan medis, ada faktor lain yang bisa memperlambat perjalanan Akeso: politik dan ekonomi global. Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik antara China dan Barat, ada kekhawatiran bahwa persetujuan FDA atau EMA bisa terhambat oleh faktor non-medis. Sejarah menunjukkan bahwa politik sering kali berperan dalam proses persetujuan obat-obatan dari negara yang dianggap sebagai pesaing strategis. Ini adalah tantangan yang tidak bisa diabaikan oleh Akeso.
Tetapi, di balik tantangan, ada peluang besar. Jika Akeso berhasil menembus pasar global, ini bisa menjadi titik balik bagi industri farmasi dunia. Tidak hanya akan mengubah standar pengobatan kanker, tetapi juga bisa menurunkan harga obat secara global.
Selama ini, imunoterapi kanker seperti Keytruda memiliki harga yang sangat tinggi, sering kali membuat pasien di negara berkembang tidak mampu mengaksesnya. Jika Ivonescimab berhasil masuk pasar global dengan harga yang lebih kompetitif, ini bisa memaksa perusahaan farmasi lain untuk menyesuaikan harga mereka — sesuatu yang telah lama diharapkan oleh sistem kesehatan di seluruh dunia.
Yang menarik, keberhasilan Akeso bukan hanya tentang satu obat. Ini adalah gambaran dari masa depan bioteknologi China. Jika sebelumnya industri farmasi China hanya dipandang sebagai produsen obat murah, kini mereka telah memasuki era baru sebagai inovator sejati.
Dengan kombinasi penelitian yang cepat, biaya produksi yang lebih rendah, dan pasar domestik yang besar, Akeso dan perusahaan sejenisnya bisa menjadi pemain dominan dalam bidang imunoterapi kanker di dekade mendatang.
Jika Akeso berhasil mendapatkan persetujuan FDA dan EMA, dunia farmasi akan memasuki era baru. Selama puluhan tahun, inovasi medis dikendalikan oleh raksasa farmasi Barat dengan harga yang sangat tinggi. Ivonescimab bisa menjadi titik balik yang memecah dominasi ini, membuka pintu bagi lebih banyak inovasi dengan harga yang lebih terjangkau.
Dengan kombinasi efektivitas yang lebih tinggi dan potensi harga yang lebih rendah, Akeso bisa menjadi pionir dalam disrupsi industri farmasi global , memaksa perusahaan seperti Merck, Roche, dan Bristol-Myers Squibb untuk beradaptasi atau kehilangan pangsa pasar mereka.
Namun, keberhasilan ini tidak hanya akan mengubah pasar obat kanker. Ini juga akan menciptakan preseden bagi perusahaan farmasi China lainnya. Jika Akeso berhasil, lebih banyak perusahaan China akan terdorong untuk mengikuti jejak mereka, menciptakan gelombang inovasi baru dalam bioteknologi.
Perusahaan seperti BeiGene dan Innovent Biologics sudah mulai bergerak ke arah yang sama, mengembangkan imunoterapi dan terapi berbasis antibodi yang dapat bersaing di tingkat global. China tidak lagi menjadi pabrik dunia, tetapi telah menjadi pusat inovasi medis.
Di sisi lain, perusahaan farmasi Barat tidak akan tinggal diam. Mereka sudah mulai menggandakan investasi dalam riset dan pengembangan terapi bispecific. BioNTech, yang dikenal sebagai pelopor vaksin mRNA, telah menginvestasikan US$800 juta untuk mengakuisisi perusahaan bioteknologi China yang berfokus pada bispecific antibodies.
Merck dan AstraZeneca juga mulai mempercepat penelitian mereka dalam bidang ini. Persaingan akan semakin ketat, tetapi ini justru akan mempercepat inovasi medis di seluruh dunia.
Bagi Akeso, tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan persetujuan global, tetapi juga memastikan bahwa mereka bisa mempertahankan keunggulan kompetitif. Setelah Ivonescimab, mereka harus terus berinovasi, mengembangkan terapi kanker baru, dan menargetkan penyakit-penyakit lain yang belum memiliki pengobatan efektif.
Apakah Akeso hanya akan menjadi bintang yang bersinar sesaat, ataukah mereka akan bertahan dan berkembang menjadi raksasa farmasi global?
Dunia sedang menyaksikan babak baru dalam sejarah pengobatan kanker. Dari sebuah perusahaan yang tidak dikenal satu dekade lalu, Akeso kini telah menjadi simbol keberanian, inovasi, dan perubahan dalam dunia farmasi. Jika mereka berhasil melewati tantangan regulasi dan geopolitik, mereka tidak hanya akan mengubah nasib pasien kanker, tetapi juga menulis ulang aturan permainan dalam industri farmasi global.
Dunia kini menunggu — apakah Akeso akan menjadi pionir revolusi medis berikutnya? (*)