Vikram Sinha: Pimpin Transformasi Perusahaan dari AI Native Telco ke AI TechCo

null
Pengalaman menavigasi transformasi memperkuat keyakinan saya bahwa kesuksesan tidak hanya didorong oleh strategi, tetapi oleh orang-orang yang memiliki semangat dan visi bersama." Vikram Sinha (Foto: IOH)

Bagi Vikram Sinha yang telah memimpin Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) sejak 2022, dalam membangun kepercayaan, seorang pemimpin memerlukan transparansi dan komunikasi yang konsisten dengan semua pemangku kepentingan.

Pria berkebangsaan India ini meyakini bahwa dialog terbuka mendorong keselarasan, serta memastikan bahwa karyawan, pelanggan, dan pemegang saham memahami visi, strategi, dan proses pengambilan keputusan perusahaan.

Gotong Royong

“Pilar utama budaya kami adalah gotong-royong, yang mendorong kolaborasi dan tanggung jawab bersama,” kata Presdir IOH itu. “Dengan menumbuhkan lingkungan kerja di mana karyawan merasa dihargai dan diberdayakan, kami meningkatkan keterlibatan dan mendorong keberhasilan kolektif,” katanya lagi.

Untuk menjaga kepercayaan pelanggan, IOH terus berinvestasi dalam transformasi digital dan keamanan siber, serta memastikan pengalaman digital yang lancar, andal, dan aman. Upaya ini tidak hanya memperkuat kepercayaan pelanggan tetapi juga memperkuat posisi Indosat sebagai pemimpin dalam ekosistem digital Indonesia.

Untuk pemegang saham, kepercayaan dibangun melalui pertumbuhan yang berkelanjutan dan kinerja keuangan yang kuat. Pada tahun 2024, Indosat mencatat pertumbuhan pendapatan 9,1% YoY, mencapai Rp 55,9 triliun.

Mengingat IOH sebagai operator telekomunikasi, Vikram menetapkan strategi yang berpusat pada transformasi dari AI Native Telco menjadi AI TechCo, dengan terus mendorong inovasi dan memperluas layanannya.

Dalam hal ini, IOH memanfaatkan kapabilitas hiperpersonalisasi berbasis AI untuk meningkatkan pertumbuhan ARPU (average revenue per user) dan user engagement. Sejauh ini, pendekatan digital telah mendorong monthly active users (MAU) melampaui 45 juta.

Untuk memastikan efektivitas operasional, IOH fokus pada investasi capex dan model distribusi bertenaga kecerdasan buatan (AI) sehingga mengoptimalkan biaya dan penyebaran jaringan.

Pada tahun 2024, 82,7% dari capex dialokasikan untuk memperkuat jaringan seluler IOH demi konektivitas yang lebih baik di seluruh Indonesia. Di luar infrastruktur, perusahaan berinvestasi dalam teknologi, talent, dan inovasi, serta memanfaatkan AI-driven cost optimization dan smart distribution untuk meningkatkan efisiensi.

“Kami juga menerapkan strategi Go-to-Market yang kuat dan membangun kemitraan strategis untuk mempercepat transformasi digital Indonesia,” kata Vikram yang meraih gelar postgraduate di bidang Manajemen Internasional dari International Management Institute.

Model Bisnis Agile

Adapun untuk memastikan strategi yang dijalankan tetap relevan dengan tren perubahan industri dan teknologi yang begitu cepat, IOH mengadopsi model bisnis agile yang memungkinkan adaptasi cepat terhadap perubahan.

IOH juga menjalankan investasi berkelanjutan dalam AI, cloud computing, dan teknologi baru serta menjalin kemitraan strategis dengan para pemimpin teknologi global agar dapat terus memperkuat kemampuan inovasi.

Yang tak kalah penting, Divisi Bisnis memberdayakan UMKM dan perusahaan dengan memanfaatkan perangkat digital. Adapun area pertumbuhan baru seperti GPU-as-a-Service (GPUaaS), B2B, dan home broadband mendorong pendapatan dan EBITDA perusahaan.

Dalam aspek pengembangan talent, Vikram berfokus pada pendekatan komprehensif terhadap bimbingan dan pengembangan kepemimpinan, baik di lingkungan internal IOH maupun komunitas secara luas. Dalam hal ini, IOH juga memanfaatkan kemajuan teknologi digital termasuk AI.

Menurut Vikram, salah satu pelajaran terbesar yang ia pelajari selama memimpin IOH ialah kepemimpinan membutuhkan keberanian untuk menerima perubahan dan beradaptasi lebih cepat daripada orang lain. Ia mencontohkan kebijakan penggabungan antara Indosat Ooredoo dan Hutchison Tri Indonesia yang memberikan tantangan tersendiri, karena menyatukan dua perusahaan dengan budaya, sistem, dan infrastruktur yang berbeda.

“Pengalaman menavigasi transformasi tersebut memperkuat keyakinan saya bahwa kesuksesan tidak hanya didorong oleh strategi, tetapi oleh orang-orang yang memiliki semangat dan visi bersama,” katanya.

Customer-Centric dan Employee Driven

Vikram meyakini, pendekatan customer-centric dan employee-driven telah menjadi kunci keberhasilan berkelanjutan bagi perusahaannya selama ini. Ia mengakui bahwa ini bukan hanya tentang mencapai target bisnis. tetapi juga tentang menumbuhkan lingkungan yang karyawannya merasa diberdayakan untuk berinovasi dan berkontribusi secara bermakna.

“Pengalaman ini telah membentuk gaya kepemimpinan saya untuk fokus membangun budaya kerja yang kolaboratif dan berorientasi pada hasil, yang tumbuh atas dasar kepercayaan bersama, kemampuan beradaptasi, dan dorongan tanpa henti untuk menciptakan nilai bagi pelanggan dan masyarakat kita,” tuturnya.

Perusahaan ini telah menjadi bagian dari perjalanan Indonesia selama 57 tahun, dan telah berevolusi dari penyedia telekomunikasi menjadi pendorong utama transformasi digital. Visi Vikram adalah membangun legacy ini dengan menempatkan IOH di garis depan AI, komputasi awan, dan inovasi digital, serta memastikan tidak hanya menghubungkan orang, tetapi juga memberdayakan mereka dengan teknologi mutakhir.

“Bagian fundamental dari legacy kepemimpinan saya adalah membina generasi pemimpin berikutnya yang berani, berpikiran maju, dan berkomitmen untuk mendorong perubahan yang berarti,” kata Vikram. (*)

# Tag