Nestle Indonesia Perkuat Keberlanjutan di Rantai Pasok
Nestle berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada 2050, memastikan 95% kemasan terbuat dari plastik daur ulang dan mengurangi penggunaan plastik baru pada 2025.
Komitmen itu dilakukan dalam empat pilar: reduksi emisi karbon, kepedulian terhadap air, kemasan berkelanjutan dan sumber pasok berkelanjutan.
Sufitri Rahayu, Director Corporate Affairs & Sustainability PT Nestle Indonesia menuturkan pihaknya sudah melakukan program keberlanjutan di rantai pasok. Dalam bidang agrikultur, Nestle Indonesia telah melakukan regeneratif agrikultur dengan peternak sapi perah dan berhasil mengumpulkan 8.800 biogas digester sejak 2010.
“Pabrik kita tuh sekarang sudah ada boiler biomassa dengan menggunakan sekam padi di tiga pabrik. Saat ini pabrik kita juga sedan on going penggunaan solar paner,” tuturnya dalam acara Diskusi Keberlanjutan dan Buka Puasa Bersama, Senin (24/3/2025).
Dari segi kemasan, lanjut Sufitri, Nestle menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia yang menggunakan 100% sedotan kertas di produk ready to drink sejak 2010. Material kertas yang digunakan sudah bersertifikat Forest Stewardship Council (FSC).
Tak kalah menarik, Nestle Indonesia juga mengumpulkan dan memproses sampah plastik usai konsumsi sebanyak yang digunakan dalam tahun tersebut. Kegiatan end-of-life itu menggandeng 36 mitra aggregators dan recyclers. Saat ini, Nestle Indonesia mendukung 15 material recovery facilities untuk daur ulang sampah plastik. (*)