Bonifasius: Selalu Berusaha Menjadi Role Model Terbaik bagi Karyawan

null
Bonifasius (Foto: Golden Energy Mines)

Bonifasius menduduki posisi puncak di PT Golden Energy Mines Tbk. sejak November 2016. Selama lebih dari delapan tahun menjadi CEO (Chief Executive Officer) perusahaan tambang dan energi di bawah Sinar Mas Group ini, Boni mampu membawanya terus tumbuh.

Pada 2016, perusahaan ini baru mencatat penjualan sebesar US$ 484,3 juta, sedangkan pada 2024 telah meningkat menjadi US$ 2,70 miliar, atau tumbuh 5,6 kali. Sementara, dalam kurun waktu tersebut, laba bersihnya naik dari US$ 34,4 juta menjadi US$ 473,80 juta, yang berarti tumbuh hampir 14 kali lipat.

Salah satu indikator keberhasilan CEO ialah mampu membawa perusahaan yang dipimpinnya terus tumbuh, sehingga meningkatkan value perusahaan. Dan, itu telah dibuktikan oleh Boni. Kapitalisasi pasar perusahaan berkode GEMS di Bursa Efek Indonesia ini di akhir 2016 tercatat Rp5,75 triliun dan saat ini sudah menembus angka Rp 50 triliun.

Kini, sebagai CEO Golden Energy, Boni menghadapi tantangan yang terkait aspek keberlanjutan (sustainability). Pria kelahiran 59 tahun lalu itu menjelaskan, salah satu aspek keberlanjutan adalah masyarakat, khususnya tentang kesenjangan antara perusahaan tambang dan masyarakat lokal. Ini merupakan suatu isu laten yang bila tidak disikapi dengan baik dapat memengaruhi keberlangsungan bisnis Golden Enegy.

Maka, kegiatan tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR) yang dilakukan oleh Golden Energy tidak berfokus pada donasi, tetapi lebih mengarah pada pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM). Dengan demikian, masyarakat lokal di sekitar tambangnya dapat lebih berdaya seiring dengan peningkatan produksi, sehingga akhirnya mereka bisa menjadi masyarakat yang mandiri dengan ekosistem ekonomi lokal yang terbentuk.

Selain itu, Boni menambahkan, pihaknya pun menyadari bahwa pembentukan generasi yang akan datang merupakan hal yang krusial dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Aspek lain dalam keberlanjutan ialah lingkungan sebagai daya dukung dasar yang penting untuk dijaga, karena dapat menciptakan keunggulan kompetitif perseroan secara khusus ataupun sebuah negara.

“Kami juga menyadari dampak kegiatan operasional Golden Energy terhadap lingkungan sekitar, sehingga kami senantiasa mengintegrasikan tanggung jawab lingkungan ke dalam proses bisnis kami, serta berfokus untuk sentiasa mematuhi ketentuan yang berlaku,” Boni menandaskan.

Menurutnya, semakin ketatnya peraturan lokal, nasional, dan internasional tentu memengaruhi perilaku dan paradigma seluruh jajaran di Golden Energy sebagai pelaku bisnis agar bisa terus selaras dengan kebutuhan para investor dalam melakukan investasi.

Sebagai contoh, penerapan IFRS (International Financial Reporting Standards) yang mengintegrasikan antara laporan keuangan dan keberlanjutan, terutama terkait dengan perubahan iklim.

Bagi Golden Energy, ungkap Boni, penerapan keberlanjutan bukanlah sebuah kewajiban, melainkan kebutuhan. “Peningkatan kompetensi SDM, baik karyawan perseroan maupun para mitra kerja, agar terjadi keselarasan tujuan melalui serangkaian training. Kami juga menjadikan keberlanjutan sebagai salah satu KPI (key performance indicator) dalam perseroan. Selain itu, ketika kami melakukan review, aspek sosial dan lingkungan merupakan topik utama dan pertama yang kami bahas karena kedua topik itu merupakan core business kami,” peraih gelar Sarjana Ekonomi (Akuntansi) dari Universitas Gadjah Mada ini menjelaskan.

Menurut Boni, penerapan keberlanjutan ini mendukung terciptanya inovasi-inovasi yang mengarah pada cost effectiveness dan membuka target pasar baru, yang dapat membantu Golden Energy menghadapi tantangan regulasi saat ini. Tantangan regulasi tersebut, antara lain, PP No. 8 Tahun 2025 yang berlaku per 1 Maret 2025, yang mewajibkan perusahaan tambang melakukan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sebesar 100% untuk periode 12 bulan.

Tantangan regulasi lainnya, transisi penggunaan bahan bakar solar B40 dengan harga yang merujuk pada FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dan pengurangan subsidi dari pemerintah. Selan itu, juga kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta kebijakan produksi batu bara dan permintaan batu bara dari Tiongkok serta India.

Boni menjelaskan, inovasi di perusahannya difokuskan pada penciptaan dampak sosial dan lingkungan yang lebih besar. Sebagai contoh, Golden Energy memanfaatkan dan mengelola air yang tertampung pada area bekas tambang (void area) untuk menjadi air minum (potable water).

Void area tersebut memiliki daya tampung 8,2 juta m3, bekerjasama dengan BUMDES. Selain membantu masyarakat lokal mendapatkan akses ke air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan meningkatkan ekonomi, program inovasi ini juga memberikan dampak terhadap lingkungan, seperti penurunan global warming potential, penurunan dampak hujan asam, dan penurunan water footprint.

Agar inovasi ini bisa berjalan dengan baik dan tepat sasaran, Boni selalu mendorong agar karyawan Golden Energy memiliki empathy, terutama rasa empati terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Dia juga selalu meminta semua tim untuk transparent, terbuka atas setiap pencapaian ataupun permasalahan supaya juga bisa membantu memecahkan masalah.

“Saya percaya, melalui pendekatan ini, trust baik antara tim dan atasan atau manajemen, maupun trust antara masyarakat dan perseroan dapat terbangun. Dengan adanya trust ini, implementasi dan eksekusi program-program inovasi dapat dijalankan dengan baik,” kata mantan Presdir PT Daya Sakti Unggul Corporindo ini. Di samping itu, dia pun melakukan review dan monitoring secara berkala agar tercipta lingkungan kerja yang terbuka dan komunikatif.

Yang tak kalah penting, pengembangan digitalisasi dan penggunaan teknologi dalam rantai kegiatan operasional secara customized dan terhubung secara end-to-end. Menurut Boni, penggunaan teknologi berbasis digital ini bukanlah untuk menggantikan karyawan, melainkan untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas dalam operasional perusahaan.

Saat ini, Golden Energy mempunyai satu ruangan Command Center, sehingga kegiatan operasional secara real time dapat dilihat tanpa harus berada di lokasi. Di samping itu, manajemen juga dapat melakukan intervensi apabila terjadi ketidaksesuaian ataupun hal-hal yang berisiko terhadap keselamatan. “Kami juga dapat melakukan monitoring dari Jakarta,” ujar Boni.

Contoh lainnya, pemasangan Weigh in Motion (WIM) yang menggantikan jembatan timbang konvensional. Penggunaan WIM ini dapat mengurai traffic yang terjadi saat melakukan penimbangan sehingga dapat meningkatkan produktivitas truck hauling dan menurunkan emisi.

Selain itu, Golden Energy juga mengintegrasikan WIM dengan sistem invoicing dari mitra kerja guna meningkatkan akurasi dan kecepatan transaksi, serta mengurangi human intervention.

Secara pribadi, sebagai pemimpin, Boni memegang teguh prinsip kejujuran, konsistensi, dan integritas. Melalui tiga prinsip ini, dia mengaku dapat meningkatkan efektivitas dalam mengelola sumber daya demi kemajuan bersama.

“Saya dapat menciptakan lingkungan yang terbuka dan saling mendengarkan. Lingkungan seperti ini mampu menciptakan budaya, di mana karyawan merasa dihargai, mempunyai ruang untuk berkembang, mampu mengeluarkan potensinya ke permukaan, serta memiliki rasa ownership yang tinggi terhadap pekerjaan yang diberikan,” tuturnya.

Dia menegaskan, hal ini sangat penting dalam mendukung terciptanya budaya inovasi dan perbaikan yang berkelanjutan di dalam perusahaan.

Boni juga selalu berusaha menjadi role model terbaik bagi karyawan, dengan menunjukkan sikap walk the talk (melakukan apa yang dikatakan) dan terbuka terhadap feedback yang positif dan konstrutif dari rekan kerja ataupun bawahan.

“Saya senantiasa memberikan dan menjadi inspirasi bagi karyawan karena saya percaya ini merupakan contoh nyata dari integritas dan transparasi yang pada akhirnya kepercayaan tim dapat tumbuh secara alami,” ungkapnya. (*)

# Tag