First Media Berbalik Untung di 2024, Meski Pendapatan Turun Tajam
Setelah mencatat kerugian pada 2023, PT First Media Tbk (KBLV) mencetak kinerja finansial yang cukup mengejutkan pada 2024.
Perusahaan yang dikenal di sektor infrastruktur telekomunikasi dan penyedia konten ini berhasil mencatat laba sebesar Rp63,49 miliar, berbalik arah dari rugi Rp80,35 miliar pada tahun sebelumnya.
Namun, kisah pemulihan ini tidak disertai dengan lonjakan pendapatan. Justru sebaliknya, pendapatan First Media anjlok hingga 74,83% menjadi hanya Rp28,57 miliar, dari sebelumnya Rp113,52 miliar. Penurunan ini dipicu oleh merosotnya performa dua dari tiga lini bisnis utama perusahaan.
Titik Balik dari Efisiensi Operasional
First Media memperoleh pendapatan dari tiga segmen bisnis: infrastruktur, konten dan berita, serta jasa langganan internet dan layanan komunikasi data. Dari ketiganya, hanya lini infrastruktur yang menunjukkan pertumbuhan, naik 23,36% menjadi Rp17,19 miliar.
Sementara itu, lini konten dan berita anjlok drastis 88,23% menjadi Rp11,37 miliar dari sebelumnya Rp96,62 miliar. Sedangkan jasa langganan internet dan komunikasi data praktis terhenti, hanya menghasilkan Rp1 juta dari sebelumnya Rp2,95 miliar.
Sinyal perubahan arah strategi terlihat dari pendapatan berdasarkan hubungan pelanggan. Untuk pertama kalinya, kontribusi dari pihak berelasi muncul dalam laporan keuangan, yakni sebesar Rp12,8 miliar—kontribusi signifikan yang berasal dari PT Tata Mandiri Daerah Lippo Karawaci. Sebaliknya, pendapatan dari pihak ketiga anjlok 86,11% menjadi Rp15,77 miliar.
Namun demikian, kunci kebangkitan First Media terletak bukan pada sisi pendapatan, melainkan efisiensi agresif dalam beban operasional. Beban layanan berhasil ditekan hingga 82,33%, dari Rp108,23 miliar menjadi hanya Rp19,12 miliar.
Ini terutama berkat pemangkasan besar-besaran pada biaya konten dan berita, yang menyusut dari Rp103,95 miliar menjadi Rp15,3 miliar. Beban bandwidth dan jasa internet lainnya juga dipangkas hampir habis, dari Rp1,62 miliar menjadi hanya Rp6 juta. Hanya beban infrastruktur yang meningkat, dari Rp2,65 miliar menjadi Rp3,81 miliar.
Perampingan Beban: Jalan Menuju Laba
Efisiensi ini membawa dampak langsung pada laba bruto yang melonjak 78,60% menjadi Rp9,44 miliar. Selain itu, perusahaan juga memangkas beban penjualan sebesar 85,04% menjadi Rp3,26 miliar, karena tidak lagi terbebani oleh komisi dan biaya lainnya.
Beban umum dan administrasi turut ditekan secara signifikan, dari Rp59,17 miliar menjadi Rp17,32 miliar. Beban penyusutan dan amortisasi juga menyusut 32,25% menjadi Rp2,01 miliar. Hasilnya, kerugian usaha yang sebelumnya membebani sebesar Rp84 miliar berubah menjadi laba usaha Rp47,12 miliar.
First Media juga mencatatkan pendapatan lain-lain bersih sebesar Rp73,54 miliar, berbalik dari beban Rp15,13 miliar pada tahun sebelumnya. Pendapatan ini terutama berasal dari penjualan merek (brand) yang baru terjadi di 2024, senilai Rp74 miliar, serta kontribusi dari dividen dan komponen lainnya.
Meski demikian, tidak semua aspek membaik. Perusahaan harus menelan rugi selisih kurs neto sebesar Rp13,26 miliar, padahal pada tahun sebelumnya masih mencatat keuntungan kurs Rp9,82 miliar.
Perbaikan Struktur Keuangan
Di sisi neraca, kas dan setara kas KBLV relatif stabil di angka Rp252,38 miliar. Namun, total aset melonjak dua kali lipat menjadi Rp2,17 triliun dari Rp1,02 triliun.
Peningkatan ini terutama berasal dari lonjakan nilai investasi saham pada PT Multipolar Technology Tbk, yang dicatat sebagai “aset keuangan tidak lancar lainnya” menggunakan metode nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain.
“Kenaikan saldo aset keuangan tidak lancar lainnya sebesar Rp1,26 triliun yang berasal dari investasi saham perseroan pada PT Multipolar Technology Tbk di mana dicatat menggunakan nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain,” ujar Presiden Direktur PT First Media Tbk, Harianda Noerlan pada keterangannya di Jakarta, (4/4/2025).
Sementara itu, liabilitas perusahaan berhasil dikurangi sebesar 11,30% menjadi Rp1,43 triliun. Hal ini turut mendongkrak ekuitas menjadi surplus Rp738,46 miliar, berbalik arah dari posisi defisit Rp586,37 miliar pada 2023.
Langkah Strategis: Bidik Data Centre
Setelah berhasil membalikkan kondisi keuangan, First Media menyiapkan langkah strategis baru untuk masa depan. Perusahaan mengumumkan rencana ekspansi ke bisnis pusat data (data centre). Saat ini, mereka tengah menyusun feasibility study, desain, strategi pemasaran, hingga alokasi anggaran.
Selain itu, perusahaan juga berkomitmen untuk terus meningkatkan efisiensi operasional agar arus kas tetap sehat dan memastikan kecukupan likuiditas serta modal kerja.
Langkah ini menandai babak baru First Media, dari perusahaan yang sempat terpuruk menjadi pemain yang mulai memantapkan pijakan kembali. Tantangan ke depan tidak ringan, namun strategi berbasis efisiensi dan fokus pada bisnis baru menjadi modal penting untuk bertahan dan tumbuh di tengah disrupsi industri telekomunikasi dan konten digital. (*)