BEI Imbau Investor Tetap Tenang Pasca Penerapan Tarif Dagang Trump ke Indonesia
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Direktur Pengembangan, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa penerapan tarif dagang Amerika Serikat (AS) terhadap semua negara belum memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap bursa-bursa saham di kawasan Asia-Pasifik.
Menurut Jeffrey, penting bagi investor untuk tetap jernih dalam membuat keputusan investasi. Di tengah sentimen global yang menguatirkan, Jeffrey berupaya membawa kabar menenangkan.
Menurutnya, penerapan tarif dagang oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap berbagai negara, yang semula dikhawatirkan akan memicu kepanikan di pasar Asia, ternyata belum menunjukkan dampak negatif yang berarti.
"Kalau kita lihat data, maka bursa-bursa negara Asia yang dikenakan tarif tinggi tidak mengalami dampak negatif yang signifikan. Tetapi justru bursa negara Eropa dan Amerika yang berdampak signifikan,” ujar Jeffrey dalam pernyataan tertulis kepada media, Minggu (6/4/2025).
Dalam dunia investasi yang penuh gejolak, pesan seperti ini ibarat embusan angin segar. BEI mencermati bahwa bursa-bursa saham di kawasan Asia-Pasifik hanya mengalami koreksi moderat, berkisar antara 1% hingga 5%.
Pasar saham Shanghai di Tiongkok, misalnya, hanya turun tipis 0,24%, dari posisi 3.350,13 ke 3.342,01. Bahkan setelah pidato keras Donald Trump yang memicu penetapan tarif baru, indeks SHCOMP hanya bergeser 8,12 poin—nyaris tak terasa untuk pasar sebesar itu.
Bursa Malaysia dan Turki masing-masing melemah sekitar 1,5%, sementara bursa Hong Kong, Korea Selatan, dan India mengalami koreksi serupa. Bursa India, yang dikenal dengan fluktuasi tingginya, turun 1.252,75 poin atau 1,64% — angka yang masih dalam batas toleransi investor jangka panjang.
Di Asia Tenggara, pasar Filipina, Singapura, dan Thailand ikut terkoreksi, namun tetap dalam kisaran wajar. Bahkan Singapura, yang sangat sensitif terhadap gejolak global, hanya terkoreksi 3,25%. Di sisi lain, Jepang dan Vietnam menjadi dua negara Asia dengan penurunan cukup tajam: masing-masing sebesar 5,45% dan 8,13%.
Namun kisah berbeda terjadi di belahan dunia barat. Ketika bursa-bursa Asia relatif stabil, Eropa dan Amerika justru mencatatkan penurunan yang dalam—sebuah ironi dari kebijakan tarif yang berasal dari negeri Paman Sam itu sendiri.
Di Eropa, bursa Inggris turun 6,43%, sementara Polandia terpukul paling dalam dengan koreksi 9,11%. Di Amerika Selatan, Argentina bahkan mengalami kejatuhan hingga 10,55%, membuat pasar di kawasan itu berguncang hebat.
Amerika Serikat—yang menjadi pusat badai ini—tak luput dari dampak. Tiga indeks utamanya, Dow Jones, S&P 500, dan NASDAQ, anjlok lebih dari 9%. NASDAQ bahkan turun lebih dari 2.000 poin atau 11,44%, mencerminkan kepanikan para investor teknologi yang biasanya menjadi penggerak utama pasar modal AS.
Jeffrey tak menampik adanya tekanan global, namun ia menekankan pentingnya ketenangan dan rasionalitas di tengah riuhnya sentimen. “Investor agar tidak panik. Lakukan analisis secara cermat dan mengambil keputusan investasi secara rasional,” tutupnya dalam pesan singkat kepada media.
Pesannya sederhana, namun kuat. Di tengah badai kebijakan dan guncangan angka, yang dibutuhkan investor bukan sekadar reaksi, tapi ketenangan untuk membaca arah angin. Karena seperti yang ditunjukkan Asia, terkadang yang paling tenanglah yang paling tahan guncang. (*)