IHSG Diprediksi Bertahan di Atas 6.000, Asalkan Pemerintah Bergerak Cepat dan Tepat

IHSG Diprediksi Bertahan di Atas 6.000, Asalkan Pemerintah Bergerak Cepat dan Tepat
Ilustrasi pergerakan harga saham dan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta pada Jumat (28/2/2025). Foto Nadia K. Putri/SWA

Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memperkirakan bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berpeluang bertahan di level psikologis 6.000. Namun, proyeksi ini sangat bergantung pada respons cepat dan tepatnya kebijakan luar biasa dari pemerintah Indonesia.

“Kalau [level] 5.500 saya rasa tidak. Tapi saya rasa kalau kita bisa bertahan di atas 6.000 sudah cukup bagus,” ujar Harry kepada swa.co.id dalam pesan tertulis pada Selasa (8/4/2025).

Menurutnya, pelemahan IHSG kali ini tak bisa dilepaskan dari dampak kebijakan tarif impor sebesar 32% yang diberlakukan pemerintahan Trump terhadap produk Indonesia.

Situasi ini menuntut kehadiran tim negosiator yang andal untuk melakukan lobi langsung dengan pemerintah Amerika Serikat. Kredibilitas dan kapabilitas tim ini diyakini akan memengaruhi sentimen pasar dan membantu meredakan kekhawatiran investor.

Di sisi lain, Harry juga menyoroti pentingnya kepastian politik, khususnya terkait isu perombakan kabinet. Ia mengingatkan bahwa waktu semakin sempit, mengingat semester I/2025 akan segera memasuki bulan Mei.

“Mengingat pasar yang lemah saat ini, Indonesia sangat membutuhkan perombakan kabinet untuk melahirkan menteri-menteri baru yang cakap, kompeten, dan bebas dari bahaya moral,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar presiden terpilih, Prabowo Subianto, segera menggelar pertemuan terkoordinasi bersama para menteri, Bank Indonesia, dan pejabat terkait. Tujuannya: merespons berbagai tantangan utama seperti pelemahan rupiah, keterbatasan anggaran, perlambatan ekonomi, hingga proyek strategis awal seperti Danantara.

Harry juga berharap ada komunikasi terbuka antara Prabowo dan pelaku pasar modal. Rencana dan hasil pertemuan tersebut, menurutnya, akan berperan penting dalam menjaga stabilitas nasional di masa transisi.

Sementara itu, memasuki sesi kedua perdagangan, IHSG terpantau berada di level 6.011 pada pukul 13.34 WIB, berdasarkan data dari aplikasi IDX Mobile. Nilai kapitalisasi pasar hari ini tercatat mencapai Rp10.298 triliun, dengan frekuensi transaksi sebanyak 917.600 kali.

Sejumlah saham yang masuk kategori pencetak kapitalisasi pasar terbesar yaitu Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp961,1 triliun. Kemudian Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar Rp655,9 triliun, Barito Renewables Energi Tbk (BREN) sebesar Rp647,6 triliun, Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp579,7 triliun. Terakhir saham BUMN yaitu Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp562,7 triliun. (*)

# Tag