Pemprov Sumsel Terus Berupaya Menjadi Penyangga Pangan Nasional
Di tengah meningkatnya ancaman krisis pangan global dan dinamika cuaca ekstrem yang semakin tak terprediksi, Provinsi Sumatera Selatan justru melangkah dengan percaya diri.
Provinsi yang selama ini dikenal sebagai lumbung energi dan komoditas perkebunan itu kini membidik posisi strategis sebagai penyangga utama pangan nasional.
Langkah konkret itu terlihat dari semakin masifnya implementasi Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), sebuah program unggulan daerah yang mendorong ketahanan pangan dari level akar rumput.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyampaikan komitmen ini saat menghadiri panen raya di Desa Cahya Maju, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
“Untuk mewujudkan kemandirian pangan tersebut, diperlukan semangat untuk menjaga eksistensi Sumsel sebagai 5 daerah tertinggi penyumbang produksi beras nasional dengan memasifkan GSMP yang telah lama kita jalankan di Sumatera Selatan,” ujarnya, Senin (7/4/2025).
Namun, membangun ketahanan pangan di tengah tekanan global bukanlah perkara mudah. Pemerintah provinsi menyadari, dukungan pada petani harus dimulai dari hal paling dasar: jaminan atas benih, pupuk, dan sarana produksi (saprodi) lainnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong kabupaten/kota untuk memperkuat regulasi pengawasan seperti Perda alih fungsi lahan, agar potensi besar seperti di Kabupaten OKI tidak tergerus oleh ekspansi industri atau perumahan.
“Selain GSMP, yang tidak kalah penting adalah menjaga semangat petani melalui jaminan ketersediaan benih, pupuk dan saprodi lainnya. Diperlukan juga inovasi di kabupaten/kota terkait pengawasan seperti Perda alih fungsi lahan,” tegas Herman Deru.
Kabupaten OKI menjadi sorotan karena luasnya lahan dan potensinya yang masih bisa terus dikembangkan, terutama melalui penambahan luas baku sawah (LBS).
Ke depan, proyek infrastruktur seperti Bendungan Tiga Dihaji di Kabupaten OKU Selatan juga diharapkan menjadi kunci untuk peningkatan produktivitas pertanian.
Namun tantangan nyata tetap ada: distribusi pupuk yang tak merata, ketergantungan pada subsidi, serta perubahan iklim yang mempengaruhi pola tanam. Untuk itu, kolaborasi lintas sektor kembali digalakkan—mulai dari BUMN hingga aparat keamanan.
"Saat ini tak sedikit petani karet yang berangsur kembali ke sawah, ini potensi besar yang harus kita tangkap. Untuk itu kita minta Pupuk Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi. Begitu juga TNI-Polri, kita minta pengawasannya dalam proses distribusi pupuk ini agar tepat sasaran," ujarnya.
Dari sisi pasar, kekhawatiran petani atas risiko harga ditepis dengan jaminan dari pemerintah pusat melalui anggaran besar untuk penyerapan gabah petani oleh Bulog. Hal ini menjadi sinyal penting bahwa negara hadir bukan hanya di musim tanam, tapi juga saat panen.
“Bulog diberi anggaran Rp 40 triliun untuk penyerapan. Harusnya petani tidak perlu ragu-ragu lagi produksi dengan HPP yang telah ditetapkan 6.500/kg dalam kondisi siap angkut. Para Kades bisa tolong sosialisasikan ini,” jelas Herman Deru.
Sementara itu, dari sisi pemerintah kabupaten, semangat yang sama digaungkan. Bupati OKI Muchendi Mahzarekki melihat momentum panen serentak sebagai awal dari transformasi besar. Ia optimistis, jika pengelolaan lahan dan teknologi pertanian digarap serius, OKI bisa menjadi tulang punggung produksi beras Sumatera Selatan.
"Kami terus mendorong peningkatan produksi pangan. Target kami OKI bisa menjadi penyumbang terbesar produksi beras di Sumsel," ujarnya.
Tak hanya di Sumsel, panen raya juga digelar serentak di 14 provinsi dan dipusatkan di Majalengka, Jawa Barat, yang dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Kehadirannya menjadi penegas bahwa isu pangan bukan lagi soal pertanian semata, melainkan strategi besar bangsa dalam menjaga kedaulatan ekonomi.
Presiden Prabowo menyampaikan apresiasinya kepada semua jajaran Menteri karena telah dilaksanakannya panen raya.
Upaya Sumatera Selatan untuk menjadi sentra pangan nasional adalah kisah tentang visi yang ingin diwujudkan lewat kerja konkret di lapangan. Tapi tantangannya pun tak kecil. Di satu sisi, kembalinya petani ke sawah membuka harapan baru. Di sisi lain, tekanan terhadap lahan pertanian, ketergantungan terhadap subsidi, dan perlunya regenerasi petani muda menjadi tantangan jangka panjang.
Sumsel tengah menanam benih besar. Tapi hasil panennya akan sangat tergantung pada keberanian menjaga lahan, konsistensi distribusi, dan keberpihakan nyata pada petani. Tanpa itu, gerakan sebesar GSMP pun bisa berhenti di tengah jalan. (*)