Lazada: 76% Penjual eCommerce Asia Tenggara Membutuhkan Dukungan dalam Adopsi AI

null
Penjual online semakin membutuh dukungan AI (Foto: Ist)

Di tengah ledakan adopsi kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai lini bisnis global, penjual online di Asia Tenggara menghadapi paradoks yang tak bisa diabaikan: mereka memahami pentingnya AI, namun belum sepenuhnya siap mengadopsinya secara nyata. Fenomena ini diungkap dalam laporan terbaru Lazada bersama Kantar bertajuk “Menjembatani Kesenjangan AI: Persepsi dan Tren Adopsi Penjual Online di Asia Tenggara”.

Studi ini melibatkan lebih dari 1.200 penjual eCommerce dari enam negara: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Laporan ini bukan hanya memotret tingkat adopsi AI secara teknis, tapi juga menggali lebih dalam kesenjangan pemahaman, persepsi, serta kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia yang melingkupi dunia eCommerce regional.

Potensi Diakui, Praktik Masih Terbatas

Sebagian besar penjual online di Asia Tenggara (68%) sudah mengenal AI dan bahkan 47% di antaranya mengaku telah menerapkannya dalam operasional bisnis.

Namun ketika ditelusuri lebih jauh, angka riil penerapan hanya mencapai 37%. Di Indonesia, kesenjangan ini bahkan lebih mencolok: 52% mengaku telah menggunakan AI, namun implementasi nyata hanya 42%.

Kesenjangan antara pengakuan dan realisasi inilah yang menjadi benang merah dalam laporan ini. Indonesia tercatat sebagai negara dengan kesenjangan terbesar ketiga di Asia Tenggara dalam hal persepsi dan praktik AI. Sebuah pertanda bahwa pemahaman akan manfaat teknologi belum selalu sejalan dengan kesiapan untuk benar-benar menggunakannya.

“Sebagai pemimpin di industri eCommerce Asia Tenggara, kami berupaya menjembatani kesenjangan ini dengan menyediakan solusi AI yang mudah diakses bagi setiap penjual di seluruh Asia Tenggara yang memiliki tantangan unik di setiap pasar. Solusi ini membuat teknologi dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan tanpa memandang ukuran bisnis atau kemampuan penjual," ungkap James Dong, CEO Lazada Group, Rabu (9/4/2025).

Tantangan Utama: Biaya dan Kebiasaan Lama

Meskipun 89% responden percaya bahwa AI meningkatkan produktivitas dan 93% meyakini bahwa AI bisa menghemat biaya jangka panjang, masih ada resistensi tinggi.

Sekitar 64% penjual menyebut biaya awal dan proses implementasi yang kompleks sebagai penghalang utama. Selain itu, tantangan lain muncul dari dalam organisasi: mayoritas tenaga kerja (75%) masih memilih perangkat yang sudah mereka kenal dibanding solusi berbasis AI.

Fakta ini menegaskan bahwa transformasi digital bukan hanya soal teknologi, tapi juga tentang people readiness. Hampir semua responden (93%) setuju bahwa peningkatan keterampilan SDM dalam memahami dan menggunakan AI menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan integrasi teknologi ini.

Di Mana Posisi Indonesia?

Meski diwarnai berbagai hambatan, Indonesia justru menjadi salah satu negara dengan tingkat adopsi AI tertinggi di Asia Tenggara, yakni 42%—bersama Vietnam. Dalam klasifikasi kesiapan AI, para penjual dibagi menjadi tiga kategori: AI Adepts, AI Aspirants, dan AI Agnostics.

Namun, data juga menunjukkan bahwa mayoritas penjual Indonesia masih berada dalam kelompok Aspirants dan Agnostics — artinya, peluang untuk mengakselerasi adopsi AI masih sangat besar, terutama pada fungsi-fungsi dengan adopsi rendah seperti logistik dan manajemen tenaga kerja.

  • AI Adepts: Penjual yang telah menerapkan AI di lebih dari 80% operasional mereka.
  • AI Aspirants: Penjual yang telah mengintegrasikan AI secara sebagian, tetapi masih memiliki kesenjangan adopsi di beberapa fungsi utama.
  • AI Agnostics: Kelompok penjual yang masih mengandalkan proses manual di sebagian besar fungsi bisnis mereka.

Temuan riset ini menunjukkan Thailand memimpin untuk kategori AI Adepts (30%), diikuti Singapura (29%), Indonesia (29%), dan Vietnam (22%) meskipun terdapat kesenjangan pengetahuan. Sementara itu, Malaysia (15%) dan Filipina (19%) menghadapi tantangan keterbatasan infrastruktur dan dukungan internal.

Mayoritas penjual di Asia Tenggara (76%) dan Indonesia (71%) berada di kategori AI Aspirants dan AI Agnostics. Data ini mengindikasikan perlunya solusi AI yang efektif, terutama dalam hal fitur AI (42%) dan dukungan penjual (41%).

Di Indonesia, dukungan terhadap fungsi bisnis dengan tingkat adopsi AI yang rendah, seperti operasional dan logistik, perlu ditingkatkan untuk mempertahankan posisi atas Indonesia dalam adopsi AI di Asia Tenggara.

Chief Executive Officer Lazada Group, James Dong mengungkapkan fenomena kesenjangan yang menarik dalam ekosistem eCommerce di Asia Tenggara. Meskipun sebagian besar penjual memahami potensi transformatif dari AI, banyak yang masih berusaha untuk bertransisi menuju tahap implementasi.

“Sebagai pemimpin di industri eCommerce Asia Tenggara, kami berupaya menjembatani kesenjangan ini dengan menyediakan solusi AI yang mudah diakses bagi setiap penjual di seluruh Asia Tenggara yang memiliki tantangan unik di setiap pasar. Solusi ini membuat teknologi dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan tanpa memandang ukuran bisnis atau kemampuan penjual," ungkap James dikutip dalam keterangan tertulis, Rabu (9/4/2025).

Solusi AI Lazada untuk Transformasi Operasional Bisnis

Untuk mendukung perjalanan adopsi AI para penjual, Lazada meluncurkan Online Sellers Artificial Intelligence Readiness Playbook (Buku Panduan Kesiapan AI Penjual Online), sebuah panduan strategis yang dirancang berdasarkan tingkat kesiapan AI para penjual.

Riset ini juga menunjukkan bahwa penjual sudah memanfaatkan solusi berbasis AI di platform Lazada untuk meningkatkan efisiensi, membuktikan bahwa investasi berkelanjutan Lazada dalam inovasi AI mutakhir dan fitur canggih mampu menyederhanakan operasional eCommerce dan mendorong daya saing.

Dengan 67% penjual menyatakan kepuasan tinggi terhadap fitur AI Lazada, Lazada merancang fitur Generative AI (GenAI) baru untuk memberdayakan penjual, meningkatkan daftar produk, menyederhanakan operasional, dan meningkatkan konversi pelanggan. Fitur GenAI tersebut terdiri dari:

  1. AI Smart Product Optimisation: Fitur berbasis GenAI yang membantu penjual mengidentifikasi perbaikan yang dapat dilakukan pada judul, deskripsi, hingga foto produk. Fitur ini memungkinkan uji coba virtual, modifikasi latar belakang, dan penyesuaian model secara otomatis, sehingga penjual dapat menghasilkan gambar produk profesional dalam hitungan menit.
  2. AI-Powered Translations: Fitur ini secara otomatis menerjemahkan konten produk ke berbagai bahasa lokal, memungkinkan penjual memperluas jangkauan pasar mereka dengan efisien dan akurat.
  3. Lazzie Seller: Asisten AI khusus di Alibaba Seller Centre (ASC) yang memberikan respons instan untuk pertanyaan umum, navigasi cepat ke fitur utama, penilaian risiko toko, serta saran bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan pertumbuhan penjual.

Laporan Lazada ini menyajikan realita menarik: bahwa AI bukan lagi wacana futuristik, tapi sudah menjadi alat strategis yang dapat digunakan hari ini. Namun kesiapan mental, keterampilan, dan sistem internal masih menjadi penghambat utama bagi banyak penjual online untuk benar-benar memanfaatkan teknologi ini.

Di sinilah pentingnya kolaborasi antara platform, pelaku usaha, dan pemerintah untuk memastikan transformasi digital yang inklusif dan tidak meninggalkan pelaku UMKM di belakang.

Karena pada akhirnya, AI tidak akan menggantikan manusia. Tapi mereka yang tahu cara memanfaatkan AI akan menggantikan mereka yang tidak. (*)

# Tag