Cina Balas Perang Tarif dengan Batasi Ekspor Logam Langka ke AS, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Cina Balas Perang Tarif dengan Batasi Ekspor Logam Langka ke AS, Apa Dampaknya ke Indonesia?
Ilustrasi acara daring DBS CIO Insights tentang tarif impor yang diberlakukan Amerika Serikat, acara ini diselenggarakan secara daring pada Rabu (9/4/2025). Tangkapan layar Nadia K. Putri/SWA

Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina memasuki babak baru. Kali ini, bukan hanya soal tarif, tetapi menyentuh jantung dari industri masa depan dunia: logam langka atau rare earth minerals (REE) yang merupakan komponen vital dalam produksi semikonduktor, kendaraan listrik (EV), dan teknologi tinggi lainnya.

Menanggapi tarif impor yang diberlakukan AS, Cina membalas dengan langkah strategis: membatasi ekspor logam langka. Langkah ini bukan hanya membatasi akses global terhadap bahan baku penting, tetapi juga mengguncang rantai pasok industri yang tengah berkembang pesat.

“Ini adalah teknologi utama yang dikuasai Cina, sementara seluruh dunia masih bergantung pada Cina untuk produksi dan ekstraksi logam langka,” ujar Yeang Cheng Ling, Chief Investment Officer for North Asia Bank DBS, dalam acara daring “Bertahan di Tengah Badai Tarif, Prospek Ekonomi Q2”, Rabu (9/4/2025).

Efisiensi di Dalam, Diplomasi di Luar

Menurut Ling, pembatasan ini justru mendorong Cina untuk memperkuat efisiensi dan hilirisasi di dalam negeri, tanpa sepenuhnya menutup akses ke pasar global. Ia menilai, Cina masih memiliki potensi besar dalam produksi logam langka dan akan menjaga jalur distribusi ke negara-negara mitra.

“Penting bagi negara sebesar Cina untuk mempertahankan saluran ekspor dan perdagangan bilateral yang sangat baik,” tambahnya.

Dalam skenario seperti ini, Cina justru bisa menikmati surplus perdagangan lewat ekspor logam langka ke negara-negara yang masih bersahabat. Dalam lanskap geopolitik global yang makin terfragmentasi, hubungan bilateral akan menjadi kartu truf yang menentukan arus komoditas strategis.

Peluang Bagi Negara Lain, Termasuk Indonesia

Langkah Cina ini otomatis membuka peluang bagi negara lain untuk mengisi kekosongan pasokan. Ling menyebut Malaysia dan Australia sebagai contoh negara penghasil logam langka yang berpotensi menjadi alternatif pemasok bagi AS dan sekutunya.

“Negara penghasil logam langka selain Cina dapat mengekspornya ke Amerika Serikat atau negara tujuan lainnya,” ungkap Ling.

Di sisi lain, Indonesia muncul sebagai pemain yang semakin diperhitungkan. Joanne Goh, Senior Investment Strategist Bank DBS, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki cadangan logam langka yang dapat mendukung pertumbuhan industri semikonduktor dan EV secara berkelanjutan.

“Kami melihat, Indonesia harus terus berinvestasi di downstreaming, dan karena itu harus dapat mempertahankan kemajuan yang telah dicapai sejauh ini,” tegas Goh.

Dengan strategi hilirisasi yang terus diperkuat, termasuk kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah dan dorongan terhadap industrialisasi lokal, Indonesia berada pada posisi strategis, bukan hanya sebagai penyedia bahan mentah, tetapi juga pusat manufaktur bernilai tambah tinggi.

Mengintip Peta Global Rare Earth

Mengutip dari laporan US Geological Survey yang terbit di laman Statista, Myanmar, Australia Thailand, Nigeria, India, dan Rusia turut menjadi negara penghasil logam langka pada 2024, selain Cina dan AS. Persentasenya yakni Myanmar 7,97%, Australia, Thailand dan Nigeria yang ketiganya mencapai 3,33%, kemudian disusul India 0,74% dan Rusia 0,64%.

Dengan peta global seperti ini, dinamika pasokan logam langka dalam waktu dekat dipastikan akan lebih dipengaruhi oleh kebijakan geopolitik dibanding mekanisme pasar semata. Siapa yang menguasai pasokan, mengatur akses, dan memiliki teknologi ekstraksi, dialah yang memegang kunci industri masa depan.

Yang jelas, tarif dan pembalasan bukan hanya soal angka dagang. Di baliknya, tersimpan pertarungan lebih besar: perebutan kendali atas material strategis yang akan membentuk wajah teknologi dunia dalam beberapa dekade ke depan.

Dan dalam pusaran itu, negara seperti Indonesia sendiri punya dua pilihan: menjadi penonton yang menjual mentah, atau pemain utama yang membentuk nilai tambah. Jalan mana yang akan dipilih, akan menentukan tempat Indonesia dalam peta besar industri global berbasis energi baru dan digitalisasi. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag