Rakit Mobil, Siapkan Bengkel: Strategi Terintegrasi VinFast dengan Menggandeng Oto Klix
Di tengah ambisi memperkuat pijakan di pasar kendaraan listrik Indonesia, VinFast, pabrikan otomotif asal Vietnam, mengambil langkah strategis melalui kemitraan dengan PT Oto Klix Indonesia.
Langkah ini bukan sekadar memperluas jaringan, tetapi menegaskan keseriusan VinFast dalam menyediakan layanan purnajual yang andal dan tersebar luas, seiring makin meningkatnya penetrasi kendaraan listrik di Tanah Air.
Dalam kesepakatan yang diumumkan pada April 2025, VinFast telah menunjuk 40 bengkel resmi dari PT Oto Klix Indonesia, dan akan mengintegrasikan 110 bengkel tambahan, menjangkau wilayah strategis seperti Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan.
Ekspansi ini tidak berhenti di situ. VinFast menargetkan kehadiran hingga 500 bengkel layanan resmi di seluruh Indonesia pada tahun ini, mencakup kawasan seperti Sumatra, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.
Kemitraan ini memperkuat peran PT Oto Klix Indonesia sebagai mitra layanan resmi strategis yang bertugas mendistribusikan suku cadang asli VinFast, serta memberikan layanan perawatan, perbaikan, dan klaim garansi sesuai standar global perusahaan otomotif tersebut. Semua bengkel yang tergabung dalam jaringan ini telah memenuhi persyaratan fasilitas, mesin, dan peralatan yang ditetapkan VinFast.
“PT Oto Klix Indonesia merasa terhormat memperkuat kemitraan strategis dengan VinFast. Kolaborasi awal kami telah membuahkan kesuksesan luar biasa. Ini mempertegas keyakinan kami terhadap potensi pertumbuhan VinFast di Asia Tenggara,” kata Martin Reyhan Suryohusodo, Presiden Direktur PT Oto Klix Indonesia dalam siaran resminya.
VinFast sendiri melihat Indonesia sebagai pasar kunci untuk mendorong mobilitas hijau di kawasan. Untuk itu, perusahaan memberikan dukungan pelatihan SDM dan teknis kepada Oto Klix agar jaringan bengkel dapat dikembangkan dengan cepat dan efisien, menyambut gelombang kendaraan listrik VinFast yang segera memasuki pasar.
Komitmen ini ditegaskan oleh CEO VinFast Asia, Pham Sanh Chau. “Kolaborasi dengan mitra strategis di Indonesia untuk memperluas jaringan layanan purnajual mencerminkan dedikasi jangka panjang kami untuk kepuasan pelanggan dan memperkuat dukungan terhadap transisi hijau Indonesia melalui kepercayaan konsumen lokal,” ujarnya.
Portofolio produk VinFast yang kini ditawarkan di Indonesia mencakup lini kendaraan listrik yang lengkap, mulai dari mini-SUV VF 3, SUV segmen-A VF 5, hingga SUV segmen-C VF e34.
Dengan menyasar berbagai segmen pasar, VinFast juga membangun infrastruktur pendukung, seperti jaringan pengisian daya melalui mitra strategis global V-Green, serta menjalin kerja sama dengan operator taksi listrik GSM.
Dengan strategi menyeluruh ini, VinFast tak hanya menjual mobil listrik, tetapi juga menghadirkan ekosistem mobilitas hijau yang menyentuh seluruh lapisan pengalaman pengguna. Dan melalui kolaborasi dengan Oto Klix, perusahaan memperlihatkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik bukan semata tentang teknologi, melainkan juga tentang layanan yang hadir tepat waktu, di tempat yang tepat, dan dengan kualitas yang tak tergoyahkan.
Namun, di balik ambisi besar VinFast membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, muncul pertanyaan mendasar: seberapa siap pasar dalam menyerap lonjakan kendaraan listrik di tengah infrastruktur yang belum merata dan literasi publik yang belum sepenuhnya terbangun?
Memperluas jaringan bengkel hingga 500 titik dalam waktu singkat memang impresif di atas kertas. Tetapi, tanpa edukasi pasar yang memadai, insentif pembelian yang lebih luas, serta kesiapan SDM lokal dalam memahami teknologi EV, strategi ini bisa menjadi langkah lebih cepat dari kesiapan ekosistemnya.
Jika jaringan bengkel tumbuh lebih cepat dari adopsi pasar, maka alih-alih efisiensi, bisa timbul ketimpangan antara supply dan demand layanan purnajual. Di sinilah VinFast perlu berhati-hati, karena ekspansi besar memang menjanjikan pertumbuhan, tapi juga menyimpan risiko jika tak disertai pendekatan yang berakar kuat pada kebutuhan dan kebiasaan pengguna lokal. (*)