Pengamat Sebut Sektor Perbankan Nasional Secara Fundamental Masih Relatif Solid

Ilustrasi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Rabu (9/4/2025). Sebelumnya, BEI menghentikan perdagangan sementara pada Selasa (8/4/2025) usai libur panjang Idulfitri. Foto Nadia K. Putri/SWA
Ilustrasi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Rabu (9/4/2025). Sebelumnya, BEI menghentikan perdagangan sementara pada Selasa (8/4/2025) usai libur panjang Idulfitri. (Foto: Nadia K. Putri/SWA)

Fluktuasi harga saham yang terjadi beberapa waktu terakhir pada sejumlah emiten bank besar nasional telah memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Fase penurunan harga atau markdown saham yang dialami oleh bank-bank besar seperti BCA, BNI, BRI, BTN, dan Mandiri menciptakan tekanan tersendiri bagi sektor keuangan yang selama ini dianggap sebagai tulang punggung stabilitas ekonomi nasional.

Namun, di tengah ketidakpastian yang mengemuka, suara optimisme tetap muncul dari kalangan analis. Salah satunya datang dari Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, yang menilai bahwa sektor perbankan Indonesia secara fundamental masih berada dalam kondisi yang relatif solid.

“Memang rata-rata kinerja perbankan Big Five, tadi ada BCA, BNI, BRI, BTN, dan Mandiri, memang telah terjadi fase markdown, sahamnya. Walaupun sebenarnya untuk kinerja fundamental masih relatively solid,” ujarnya saat dihubungi SWA.co.id.

Menurut Nafan, bank-bank besar tersebut masih menunjukkan komitmen kuat terhadap penerapan good corporate governance (GCG). Hal ini terlihat dari kemampuan mereka menjaga pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) secara seimbang, serta menerapkan mitigasi risiko kredit bermasalah (NPL) secara cukup efektif. Dalam pandangannya, langkah-langkah ini menjadi penopang utama ketahanan sektor perbankan di tengah gejolak eksternal maupun domestik.

Nafan juga menggarisbawahi bahwa tekanan eksternal, terutama akibat dinamika geopolitik dan fragmentasi perdagangan global, telah memperburuk sentimen pasar. Ia menyinggung kemungkinan kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lama dari bank sentral Amerika Serikat sebagai respons terhadap ketidakpastian tersebut.

“Kalau misalnya jika trade fragmentation terjadi secara berkepanjangan, setidaknya the Fed akan lebih cenderung menerapkan kebijakan monitor higher for longer,” jelasnya.

Namun demikian, ia meyakini bahwa sistem perbankan Indonesia memiliki daya tahan yang mumpuni. “Walaupun masih ada tekanan, tapi secara keseluruhan, saya menilai sektor perbankan nasional masih cukup resilient dan likuiditasnya memadai,” tambahnya.

Optimisme ini sempat terlihat dalam pergerakan harga saham sejumlah bank pada perdagangan Senin, 14 April 2024, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan tarif impor sementara bagi beberapa negara, termasuk Indonesia.

Beberapa saham bank mencatatkan penguatan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang naik 0,55% ke posisi Rp3.360 per saham, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang menguat 1,14% ke level Rp890 per saham, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang naik 0,30% ke level Rp8.300 per saham.

Namun, tidak semua bank besar merespons positif. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) justru melemah tajam hingga 7,84% ke posisi Rp4.700 per saham, sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga turun 1,82% ke Rp4.470 per saham. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan kepercayaan pasar masih berlangsung secara selektif dan penuh kehati-hatian.

Situasi ini menjadi pengingat penting bahwa pergerakan saham tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental yang sesungguhnya. Di balik fluktuasi harga dan sentimen jangka pendek, bank-bank nasional masih memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan ke depan, dengan tata kelola yang teruji, strategi mitigasi risiko yang matang, dan likuiditas yang relatif terjaga. (*)

# Tag