Kepakkan Sayap Bisnis di Lelang Elektronik, JBA Buka Peluang Baru di Luar Otomotif
Di tengah pertumbuhan pasar mobil bekas yang naik turun, PT JBA Indonesia — anak usaha PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) — memilih langkah taktis: memperluas cakupan bisnis lelang ke sektor elektronik.
Lelang perdana akan digelar 5 Mei 2025 secara daring di lelang.jba.co.id, dengan lebih dari 75 unit laptop dari merek ternama seperti Lenovo, HP, dan Dell yang akan ditawarkan kepada publik.
Langkah ini bukan hanya ekspansi biasa. Ini adalah respons strategis terhadap lanskap industri lelang yang berubah cepat, dan bukti bahwa JBA tak ingin hanya menjadi pemain besar di otomotif, tetapi juga ingin menjadi platform lelang multikategori yang tangguh.
“Tapi kami tidak menutup kemungkinan ke produk (elektronik) yang lain. Kami akan selalu melihat perkembangannya. Lelang (elektronik) perdana full online di lelang.jba.co.id,” ujar Deny Gunawan, Chief Operating Officer JBA Indonesia, Selasa (15/4/2025).
Ekspansi ini juga berangkat dari kepercayaan diri perusahaan terhadap momentum bisnisnya. Di kuartal I 2025, JBA sudah mengamankan 27% dari target penjualan tahun ini. Penjualan mobil bekas meningkat 13% dibanding periode sama tahun lalu, dengan kendaraan seperti Toyota Avanza, Honda Brio, dan Daihatsu Sigra masih menjadi tulang punggung transaksi.
Sementara itu, motor-motor seperti Honda Beat dan Yamaha NMax mendominasi pasar roda dua. Jakarta menyumbang kenaikan tertinggi, yaitu 36% untuk mobil dan 46% untuk sepeda motor, disusul Surabaya, Semarang, dan Bandung.
“Hingga akhir Maret 2025, kami sudah mencapai lebih dari 27% dari target penjualan tahun ini. Hal ini memacu kami untuk memperluas objek lelang kami dengan masuk ke pasar baru yaitu lelang elektronik yang pembelinya lebih menyasar pada end user,” jelas Kazuhiro Shioyama, CEO JBA Indonesia.
Namun, di balik angka-angka impresif itu, JBA tampaknya melihat tantangan jangka menengah. Ketergantungan terhadap lelang kendaraan bermotor bisa membatasi pertumbuhan jika tidak segera dibarengi diversifikasi yang cerdas. Pasar mobil bekas memang tetap menjanjikan, tetapi juga penuh tekanan dari kompetitor, dinamika harga, serta perubahan pola konsumsi digital.
Di sinilah lelang elektronik menjadi langkah logis, dan mungkin juga krusial. Targetnya tak tanggung-tanggung: 1.000 unit barang elektronik yang akan ditawarkan sepanjang 2025. Dengan menyasar end user secara langsung, JBA ingin memperluas pasar beyond otomotif, sekaligus membuktikan bahwa model bisnis lelang daring mereka cukup fleksibel untuk berbagai kategori barang.
JBA juga tak kehilangan pijakan. Dengan jaringan 15 cabang dan 21 hub di seluruh Indonesia, serta teknologi yang mendukung transaksi online secara real-time, infrastruktur mereka siap menopang ekspansi ini. Tahun lalu, laba operasional perusahaan tercatat naik 35% menjadi Rp85 miliar, indikasi bahwa ekosistem digital dan fisik JBA bekerja selaras.
JBA Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai raksasa lelang kendaraan, kini memasuki fase baru: menyasar pasar elektronik, menguji ketajaman model bisnisnya, dan memperluas cakrawala pertumbuhan. Di tengah ketatnya persaingan dan cepatnya pergeseran preferensi konsumen, diversifikasi bukan sekadar strategi tambahan, tapi kunci untuk relevansi jangka panjang.
Akan tetapi, terlepas dari performa positif, ekspansi ke segmen elektronik menyimpan potensi risiko. Pertama, perbedaan karakter pasar: pembeli barang elektronik cenderung memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap kualitas, garansi, dan dukungan purnajual dibanding pembeli kendaraan bekas. Hal ini menuntut JBA untuk membangun sistem kualitas dan logistik baru yang belum sepenuhnya terbukti di luar sektor otomotif.
Kedua, marjin keuntungan di lelang elektronik kemungkinan lebih rendah dibanding kendaraan, karena tingginya persaingan harga di platform marketplace konvensional seperti Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak. Tanpa proposisi nilai yang unik, JBA berisiko menghadapi perang harga yang menggerus profitabilitas.
Ketiga, perluasan ke sektor end user bisa menantang bagi struktur organisasi JBA yang selama ini lebih banyak berinteraksi dengan dealer atau mitra korporat. Penanganan keluhan individu, logistik satuan, dan ekspektasi layanan digital dari segmen konsumen akhir akan menuntut peningkatan kualitas operasional. (*)