Jual, Cicil, Gadai: Strategi 360 Derajat BSI Bangun Bisnis Emas Berkelanjutan
Ketika ketidakpastian ekonomi global menimbulkan kegelisahan di banyak sektor keuangan, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) justru mencium peluang cerah dalam bisnis logam mulia. Emas, sebagai instrumen investasi yang dikenal stabil, kini menjadi tulang punggung baru strategi ekspansi digital BSI, dan hasilnya tampak menjanjikan.
Lonjakan permintaan emas menjadi sorotan utama. Direktur Sales & Distribution BSI, Anton Sukarna, menyebut penjualan emas digital melalui BSI mengalami peningkatan yang signifikan dalam waktu singkat.
“Pada Januari 2025 baru 34 kg, kemudian meningkat menjadi 64 kg di Februari. Pada bulan Maret, penjualan emas melonjak hingga 126 kg,” ungkapnya. Bahkan per 13 April 2025, penjualan telah menyentuh 107 kg.
Jika tren tersebut berlanjut, bukan tidak mungkin total penjualan akan menembus 230 kg hingga akhir April. Dari sisi nilai, pertumbuhan saldo emas digital BSI menembus 231% atau sekitar Rp772 miliar secara tahunan. Sementara dari volume penjualan, BSI Emas Digital tumbuh 357% year-on-year menjadi 174,84 kg. Ini menunjukkan bahwa literasi dan minat masyarakat terhadap investasi emas digital semakin membaik.
Strategi digital menjadi kunci. BSI memanfaatkan platform BYOND by BSI untuk menyediakan fitur jual beli, cicil, titip, hingga gadai emas. "Nasabah sekarang bisa membeli emas resmi LM Antam dengan harga yang sangat kompetitif, kapan pun dan di mana pun, langsung dari aplikasi BYOND by BSI," kata Anton. Kemudahan ini menjadi pembeda BSI dalam merespons kebutuhan generasi yang makin digital-minded.
Di sisi regulasi dan kepatuhan, BSI tetap konsisten pada prinsip syariah. “Kami pastikan semua transaksi sesuai dengan kaidah syariah. Fisik emas tersedia terlebih dahulu, dan hanya emas yang telah dimiliki bank yang bisa ditransaksikan. Jadi nasabah bisa tenang, aman, dan nyaman,” ujar Anton. Komitmen ini penting mengingat core market BSI berasal dari segmen masyarakat yang mengutamakan aspek halal dan thayyib dalam bertransaksi.
BSI juga merancang produk dengan inklusivitas tinggi. Nasabah cukup menyiapkan modal sekitar Rp200 ribu untuk mulai berinvestasi emas dari 0,01 gram. Strategi ini memperluas jangkauan pasar ke kalangan milenial dan pelaku usaha kecil, yang sebelumnya mungkin memandang emas sebagai aset yang mahal dan sulit dijangkau.
Dari sisi makroekonomi, potensi kenaikan harga emas global memberikan momentum tambahan bagi pertumbuhan lini bisnis ini. Menurut proyeksi Goldman Sachs, harga emas bisa menyentuh US$3.200 per troy ounce dalam jangka menengah dan bahkan mencapai US$4.500 pada akhir 2025. Ini menjadi sinyal kuat bahwa investor retail bisa menikmati capital gain signifikan jika masuk di waktu yang tepat.
Momentum ini dimaksimalkan BSI usai penetapannya sebagai "bank emas" oleh Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025. Hanya dalam satu bulan, layanan BSI Emas mencatatkan kenaikan signifikan, seiring kenaikan harga emas dan kesiapan sistem pendukungnya.
“Kami sangat optimistis dengan potensi bisnis emas ke depan bagi pertumbuhan BSI dan tentu saja benefit untuk masyarakat,” ujar Plt. Direktur Utama BSI, Bob T Ananta.
Produk cicil emas menjadi salah satu andalan. Nasabah dapat membeli emas dengan harga saat ini dan mencicil dalam jangka 1–5 tahun. Emas yang dibeli akan diasuransikan dan disimpan aman. Bob menjelaskan, “Ibaratnya dengan cicil emas, nasabah membeli emas pada masa depan dengan harga sekarang.”
Tak hanya soal beli dan titip, layanan gadai emas juga disiapkan sebagai solusi likuiditas. BSI Gadai Emas diklaim memiliki taksiran tinggi, biaya murah, dan fleksibilitas dalam top-up serta perpanjangan. Bahkan nasabah bisa melakukan take over dari institusi lain ke BSI.
Yang menarik, BSI mengaitkan emas sebagai bagian dari perencanaan ibadah. “Dengan masa tunggu yang relatif lama bagi calon jamaah Indonesia, maka pemenuhan biaya penyelenggaraan ibadah haji dapat dipenuhi dengan cicilan emas,” tutup Bob. Strategi ini menyasar kebutuhan spiritual masyarakat, sekaligus memperkuat positioning bank sebagai mitra perjalanan hidup umat.
Namun, di balik pertumbuhan ini terselip tantangan. Salah satunya adalah menjaga stabilitas infrastruktur digital dan keamanan data nasabah, terlebih ketika skala transaksi meningkat. Kesiapan teknologi dan kapasitas SDM menjadi kunci untuk menjaga kepuasan dan kepercayaan pengguna.
BSI juga harus bersaing dengan ekosistem fintech dan e-commerce yang mulai menyediakan layanan investasi emas. Oleh karena itu, keunggulan dalam integrasi layanan keuangan syariah dan fitur-fitur unik berbasis kebutuhan ibadah bisa menjadi pembeda sekaligus pengunci loyalitas.
Dalam ekosistem perbankan nasional, BSI kini tengah menjajaki peran baru: tak hanya sebagai lembaga keuangan syariah, tetapi juga pionir layanan investasi emas digital berbasis syariah.
Keberhasilan strategi ini bisa menjadi model bisnis yang direplikasi oleh bank-bank lain, baik syariah maupun konvensional, di tengah meningkatnya permintaan akan solusi investasi yang inklusif, aman, dan sesuai prinsip keuangan Islam.
Jika dijalankan konsisten dan adaptif terhadap dinamika pasar, bisnis emas bisa menjadi engine baru pertumbuhan BSI. Bukan hanya mendongkrak fee-based income, tetapi juga memperluas peran bank dalam kehidupan keuangan masyarakat Indonesia yang tengah bertransformasi secara digital dan spiritual. (*)