76 Km/Liter: Revolusi Hybrid Chery di Indonesia
Di tengah hiruk pikuk elektrifikasi global, Chery hadir dengan gebrakan di kancah otomotif Tanah Air: Chery Super Hybrid (CSH).
Teknologi generasi kelima ini bukan sekadar evolusi dari konsep hybrid yang sudah ada, melainkan sebuah revolusi yang berani menantang dominasi kendaraan listrik murni (EV) dengan klaim superioritas yang menarik.
Bagaimana tidak, dengan efisiensi bahan bakar yang mencapai 76 km/liter, dan efisiensi termal mesin yang menyentuh angka 44,5%, Tiggo 8 CSH tampil sebagai jawaban bagi konsumen yang mendambakan performa tinggi tanpa mengorbankan tanggung jawab lingkungan.
Pandangan umum selama ini menempatkan mobil listrik sebagai puncak inovasi ramah lingkungan. Namun, Chery CSH hadir untuk mendobrak paradigma tersebut, membuktikan bahwa teknologi hybrid memiliki potensi yang lebih praktis dan adaptif untuk kondisi geografis dan infrastruktur Indonesia.
Berbeda dengan sistem hybrid konvensional yang masih mengandalkan mesin bensin sebagai sumber tenaga utama, CSH memberikan keleluasaan bagi motor listrik untuk beroperasi secara independen.
Implikasinya, pengemudi dapat merasakan sensasi berkendara layaknya mobil listrik tanpa dihantui kecemasan akan jarak tempuh (range anxiety), sambil tetap memiliki fleksibilitas mesin bensin ketika baterai mencapai titik rendah.
TIggo 8 CSH mampu melaju hingga 90 km dalam mode full-EV, sebuah jarak yang ideal untuk mobilitas harian di perkotaan. Ketika daya baterai menipis, mesin turbo 1.500 cc akan secara otomatis mengambil alih tanpa memerlukan pengisian daya eksternal.
Bahkan untuk perjalanan jauh, pengisian cepat selama 20 menit (dari 30% hingga 80%) melalui port CCS2 — sistem pengisian gabungan 2 — menjadi solusi instan, sebuah kemudahan yang masih menjadi tantangan bagi banyak pemilik EV di Indonesia mengingat infrastruktur pengisian daya yang belum merata.
Angka efisiensi bahan bakar 76 km/liter (berdasarkan standar WLTC, uji dinamoter sasis untuk menentukan emisi dan konsumsi kendaraan ringan) bukanlah sekadar klaim pemasaran belaka. Pencapaian luar biasa ini merupakan buah dari pengembangan mesin Acteco H4J15 turbo yang dirancang khusus untuk platform hybrid generasi kelima Chery.
Dengan efisiensi termal mencapai 44,5%, jauh melampaui rata-rata industri yang berkisar antara 30-35%, mesin ini mampu mengonversi lebih banyak energi bahan bakar menjadi tenaga penggerak, dan meminimalisir energi yang terbuang sebagai panas.
Hasilnya adalah konsumsi bahan bakar yang jauh lebih hemat, emisi gas buang yang lebih rendah, namun tetap menghasilkan tenaga yang impresif, yakni 243 PS dan torsi 215 Nm.
Jika dibandingkan, mobil hybrid konvensional seperti mobil hybrid umumnya yang hanya mencatatkan efisiensi sekitar 23-28 km/liter, sementara mobil listrik seperti produk Korea Selatan memerlukan waktu pengisian daya cepat yang lebih lama, antara 30 hingga 45 menit. CSH dengan cerdik menggabungkan keunggulan dari kedua jenis kendaraan: kepraktisan sebuah mobil hybrid dan sensasi berkendara layaknya sebuah mobil listrik.
Salah satu kendala yang sering dirasakan pada mobil hybrid konvensional adalah responsivitas transmisi yang terkadang kurang memuaskan. Chery menjawab tantangan ini dengan menghadirkan 1DHT Super Electric Hybrid Transmission — sebuah transmisi dedicated hybrid tanpa stepless yang mampu memadukan kinerja motor listrik, mesin bensin, dan generator secara harmonis. Inovasi ini menghasilkan akselerasi yang lebih linear, perpindahan daya yang lebih mulus, serta efisiensi yang optimal dalam berbagai kondisi jalan.
"Konsumen tidak perlu lagi berkompromi antara efisiensi dan performa. Dengan CSH, keduanya dapat dinikmati secara bersamaan," ujar Rifkie Setiawan, Head of Brand Department PT Chery Sales Indonesia, di Jakarta (16/4/2025).
Keunggulan CSH tidak hanya terbatas pada efisiensi bahan bakar dan performa, tetapi juga pada kemampuannya untuk mengurangi ketergantungan pada infrastruktur pengisian daya EV yang masih terbatas.
Teknologi Vehicle-to-Load (V2L) yang disematkan memungkinkan baterai berkapasitas tinggi pada Tiggo 8 CSH untuk berfungsi sebagai sumber listrik portabel bagi berbagai peralatan elektronik saat berkemah atau melakukan aktivitas di luar ruangan. Fitur ini, ditambah dengan ketahanan baterai terhadap suhu ekstrem (dari -35°C hingga 60°C), menjadikan Tiggo 8 CSH sebagai mitra ideal untuk gaya hidup modern yang dinamis.
Peluncuran Tiggo 8 CSH dengan sistem kemudi kanan (RHD) yang secara khusus dirancang untuk pasar Indonesia bukanlah sebuah kebetulan. Langkah strategis ini menggarisbawahi ambisi Chery untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat inovasi teknologi hybrid di kawasan Asia Pasifik.
Dengan perkiraan harga yang kompetitif, di kisaran Rp600 jutaan, CSH berpotensi mengubah peta persaingan di segmen SUV hybrid 7-penumpang, menantang dominasi model-model seperti Mitsubishi Outlander PHEV atau Toyota Innova Zenix Hybrid.
Chery CSH membuktikan bahwa teknologi hybrid telah melampaui sekadar menjadi jembatan menuju era kendaraan listrik murni. Lebih dari itu, CSH tampil sebagai solusi matang yang siap untuk bersaing secara langsung.
Dengan performa yang setara dengan mobil sport, efisiensi yang melampaui hybrid konvensional, dan kepraktisan yang tidak memerlukan ketergantungan pada infrastruktur pengisian daya, Tiggo 8 CSH berpotensi menjadi tolok ukur baru dalam industri otomotif Indonesia.
Seperti yang diungkapkan oleh Rifkie, "Ini bukan hanya tentang mengurangi emisi, tetapi tentang menciptakan mobilitas yang berkelanjutan tanpa mengorbankan kebebasan berkendara." (*)