Palo Alto Network: Penjahat Siber Ubah Taktik Meretas Lewat Operasional Bisnis
Palo Alto Network merilis Laporan Unit 42 Global Incident Response 2025. Laporan itu menampilkan para pelaku ancaman kini fokus mengembangkan taktik untuk gangguan operasional bisnis, serangan yang dibantu AI, dan ancaman orang dalam. Menurut laporan tersebut, hampir setengah dari insiden keamanan (44%) melibatkan web browser.
“Ini berarti bahwa bisnis harus mengambil pendekatan proaktif dalam rangka memperkuat pertahanan siber mereka dan membangun ekosistem digital yang lebih mumpuni,” ucap Adi Rusli, Country Manager Palo Alto Networks di Indonesia pada siaran pers di Jakarta, Rabu (16/4/2025).
Sekitar 70% insiden melibatkan tiga atau lebih vektor serangan, menegaskan pentingnya keamanan menyeluruh di berbagai aspek, termasuk endpoints, jaringan, lingkungan cloud, dan kerentanan pengguna. Web browser masih tetap menjadi titik lemah, memfasilitasi 44% serangan melalui phishing, redirect berbahaya, dan unduhan malware.
Di Indonesia, sektor-sektor penting seperti lembaga pemerintah dan perusahaan telekomunikasi telah menjadi target utama para penjahat siber. Meski begitu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) tengah menggodok peraturan keamanan siber sebagai respons atas taktik peretas yang terus berevolusi. (*)