Membangun dari Sunyi: Kisah Lucy Guo, Elon Musk Versi Perempuan
Lucy Guo bukanlah nama yang selalu terpampang di halaman depan media bisnis, tapi bagi siapa pun yang mengikuti denyut industri teknologi, jejaknya tak bisa diabaikan.
Di balik dunia yang dipenuhi para titan seperti Elon Musk dan Mark Zuckerberg, Lucy muncul sebagai wajah segar dari generasi pembangun yang tak menunggu validasi. Ia menciptakannya sendiri. Ia bukan hanya coder atau pendiri startup, melainkan seorang seniman yang membentuk hidupnya dari ide-ide liar dan keteguhan hati.
“Saya benar-benar kecanduan membangun sesuatu,” katanya suatu kali dalam sebuah percakapan. Dan kalimat itu bukan metafora. Itu adalah hidupnya.
Pada 2025, Forbes kembali menempatkan namanya dalam daftar miliarder dunia, menjadikannya salah satu wanita mandiri terkaya di bawah usia 40 tahun.
Kekayaannya yang diperkirakan melebihi US$1,25 miliar bukan berasal dari warisan atau privilese, melainkan dari sahamnya di Scale AI, perusahaan yang pernah ia bangun dari nol, dan dari startup kreator digital Passes, yang ia rintis pasca-Scale. Lucy bukan produk sistem. Ia adalah pengecualian yang menjadi kemungkinan: seorang perempuan muda Asia-Amerika yang berani keluar dari rel untuk membangun relnya sendiri.
Elon Musk Versi Perempuan
Di Fremont, California, tempat ia tumbuh dalam rumah tangga sederhana, komputer bukan barang mewah, tapi satu-satunya pelarian. Saat anak-anak lain bermain di luar, Lucy menyendiri di depan layar, belajar HTML dan CSS dari buku-buku di rak toko Fry’s Electronics. Ia dibully karena dianggap miskin, tapi rasa malu itu berubah jadi dorongan untuk membuktikan dirinya.
Lewat dunia virtual seperti Neopets, ia belajar bagaimana memanipulasi sistem, menciptakan bot, dan menjual akun-akun yang bernilai ribuan dolar. Di situlah benih entrepreneurship-nya pertama kali tumbuh, bukan dari Silicon Valley, tapi dari dunia permainan dan rasa ingin bertahan hidup.
Perjalanan akademiknya di Carnegie Mellon University pun bukan cerita klasik mahasiswa teladan. Ia membangun reputasi sebagai ratu hackathon, membuat aplikasi dengan desain memikat dan solusi teknis rumit yang selalu mencuri perhatian juri.
Namun, rasa lapar untuk membangun tak bisa dikekang oleh ruang kelas. Lucy keluar sebelum lulus demi menerima Thiel Fellowship, program eksperimental dari Peter Thiel yang memberikan dana kepada mahasiswa dropout untuk mendirikan perusahaan. Di sinilah ia bertemu dunia startup, dan di sanalah, mimpi besarnya menemukan bentuk pertama.
Ide untuk mendirikan Scale AI datang seperti kebetulan yang sudah ditakdirkan. Di tengah program Y Combinator, salah satu teman sekamarnya melempar ide “API untuk manusia”, sebuah premis gila tentang menggunakan tenaga kerja outsourcing untuk melabeli data bagi pelatihan AI.
Lucy terpikat. Bersama rekannya dari Quora, Alexandr Wang, ia menyempurnakan ide itu menjadi produk nyata. Mereka bekerja dari dapur kecil dan kamar sempit, menyusun algoritma dan membangun jaringan kontraktor.
“Saya tahu tagline itu akan viral karena kontroversial,” kenangnya. Dan memang, Scale AI meledak, bukan karena kehebohan, tapi karena dunia butuh apa yang mereka buat.
"Saya pikir kesuksesan itu selalu campuran antara kerja keras dan keberuntungan," kata Lucy Guo. "Saya pekerja keras, tapi saya tahu di luar sana ada yang lebih keras. Mungkin saya memang lahir di bawah bintang keberuntungan."
Dengan gaya hidup yang mencampurkan kerja keras, eksperimentasi teknologi, dan keberanian untuk membuang peta demi membuat jalan baru, Lucy pun mendapat julukan dari media sebagai “Elon Musk versi perempuan”.
Tapi jika Musk kerap tampil sebagai orator yang gemar mengguncang ruang publik, Lucy lebih memilih berbicara lewat baris kode, pitch deck, dan hasil. Julukan itu terasa lebih sebagai cermin dari betapa langkanya figur seperti dirinya: muda, penuh terobosan, dan selalu ‘gatal’ untuk membangun kembali dari nol.
Anak Fremont
Lucy lahir 14 Oktober 1994 dan tumbuh besar di Fremont, California, dalam keluarga imigran Tiongkok yang hidup hemat. Ayah dan ibunya bekerja sebagai insinyur listrik, namun keduanya pernah kehilangan pekerjaan ketika Lucy masih kecil.
Trauma finansial itu membentuknya. Ia tidak hanya belajar bertahan. Ia belajar mencipta. Di usia delapan tahun, ia sudah menulis kode. Di usia belasan, ia mulai merancang bot untuk meraup keuntungan dari permainan digital. Dan sebelum lulus SMA, ia sudah mencicipi penghasilan lima digit dari bisnis daring. Bagi Lucy, teknologi bukan hanya gairah; itu jalan keluar dari masa lalu yang sempit.
Ketika Scale AI mulai meroket, dunia mulai memperhatikannya. Bersama Wang, ia masuk daftar Forbes 30 Under 30 pada 2018. Namun, pada tahun yang sama, jalan keduanya mulai berpisah. Perbedaan visi dan tensi internal membuat Lucy akhirnya dikeluarkan dari startup yang ia bangun sendiri. Ia menyebut momen itu “menyakitkan tapi perlu”.
Alih-alih tenggelam dalam kekesalan, Lucy mempertahankan sebagian besar sahamnya dan diam-diam menyusun langkah berikutnya. Ia tahu, dalam dunia startup, yang pertama bangun bukan selalu yang terakhir tertawa.
Dan seperti biasanya, Lucy memilih membangun dari awal. Ia mendirikan Backend Capital, sebuah firma modal ventura kecil untuk mendanai founder-founder muda yang berpikir radikal seperti dirinya dulu.
Ia juga meluncurkan HF0, inkubator eksklusif di mana para pendiri tinggal bersama di satu mansion besar di San Francisco selama tiga bulan untuk merancang dan meluncurkan ide-ide besar. Tapi semakin sering ia hidup berdampingan dengan para pencipta, keinginan untuk membangun kembali pun semakin kuat.
“Saya pikir membantu orang lain akan memuaskan,” katanya. “Ternyata, saya tetap ingin menciptakan sesuatu milik saya sendiri.”
Dari kegelisahan itulah lahir Passes, startup baru Lucy yang memanfaatkan teknologi Web3 untuk membantu kreator digital memonetisasi hubungan dengan penggemarnya. Ia melihat bahwa para kreator seperti Kylie Jenner dan Jake Paul sejatinya adalah pengusaha, hanya saja belum memiliki kontrol penuh atas ekosistem mereka.
Lewat Passes, Lucy menciptakan ruang bagi kreator untuk benar-benar memiliki audiens dan konten mereka, tanpa tergantung pada algoritma platform besar. Passes menjadi rumah tempat para talenta independen membangun kerajaan kecilnya sendiri.
Platform ini tumbuh cepat. Dalam hitungan minggu sejak soft launch, Lucy berhasil mengumpulkan pendanaan awal sebesar US$9 juta, hanya bermodal pesan teks ke investor.
Tak lama kemudian, pendanaan Seri A sebesar US$40 juta digulirkan, dipimpin oleh Bond Capital. Passes menawarkan banyak fitur: langganan, panggilan berbayar, toko digital, bahkan donasi amal.
Tapi yang paling penting, bagi Lucy, platform ini adalah ekspresi dari keyakinannya bahwa “kreator adalah entrepreneur” dan mereka pantas mendapatkan lebih dari sekadar jatah klik dan view.
"Kalau kamu punya 1.000 superfans yang mau bayar lima dolar per hari, itu sudah cukup jadi penghasilan tetap," ujar Lucy Guo, menjelaskan visi ekonominya yang sederhana tapi revolusioner.
Melawan Badai
Namun tak semua kisah pertumbuhan datang tanpa badai. Pada awal 2024, Passes tersandung isu serius: gugatan hukum terkait dugaan penyebaran konten eksploitasi seksual anak oleh pihak ketiga di platform mereka.
Sebagai CEO, Lucy mengambil langkah tegas: melarang semua kreator di bawah umur dan menghapus konten mereka. Ia tahu reputasi adalah mata uang paling mahal dalam industri ini. Meski ia menyangkal semua tuduhan dan menyebutnya sebagai upaya mencatut nama Passes secara tidak adil, luka itu tetap membekas.
Tapi seperti biasa, ia tidak tinggal diam. Ia membenahi sistem, memperketat kebijakan, dan kembali ke meja coding dengan ketekunan yang dulu membuatnya jatuh cinta pada dunia digital.
Di balik glamor dan kekayaan, Lucy tetap anak perempuan yang pernah belajar menulis kode untuk bisa makan enak. Rutinitasnya masih sama: bangun pukul 5:30 pagi, berlatih keras di Barry’s Bootcamp, lalu bekerja hingga larut malam.
Ia jarang mengunggah foto dirinya di kantor, karena menurutnya “itu terlalu membosankan untuk media sosial.” Namun, di balik layar, dialah perempuan yang menggerakkan industri kreator menuju format baru, di mana hubungan personal antara pembuat dan penikmat konten menjadi poros ekonomi digital baru.
Pada 2025, dengan valuasi Scale AI yang terus melonjak dan pertumbuhan Passes yang menjanjikan, Lucy bukan hanya kembali duduk di daftar miliarder Forbes: ia menempati posisi istimewa: satu dari segelintir wanita mandiri di bawah usia 40 tahun yang membangun kekayaannya sendiri tanpa warisan atau pasangan.
Lebih dari itu, ia adalah satu-satunya yang sebagian besar kekayaannya berasal dari perusahaan yang sudah lama ia tinggalkan. Di antara para titan teknologi, ia berdiri sebagai suara yang berbeda: lebih ringan, lebih reflektif, namun tak kalah tajam dalam strategi.
Lucy tak suka dipanggil sebagai simbol. Ia tak merasa menjadi wajah feminisme teknologi, atau panutan perempuan Asia-Amerika. Tapi langkah-langkahnya yang ia jalani tanpa maksud menjadi ikon justru membuka pintu bagi banyak orang yang tak pernah membayangkan bisa berdiri di ruang yang sama.
Ia membuktikan bahwa perempuan bisa membuat sistem sendiri, menciptakan pasar sendiri, dan memimpin narasi sendiri. Bahkan ketika ruang itu sebelumnya terasa terlalu sempit, terlalu dingin, atau terlalu penuh oleh suara laki-laki.
Kini, di usia 30 tahun, Lucy Guo adalah pengingat bahwa membangun bukan hanya tentang menciptakan produk atau perusahaan, tapi tentang menciptakan pilihan. Pilihan untuk keluar dari jalur konvensional. Pilihan untuk gagal dan kembali mencoba. Pilihan untuk menolak diam saat dunia berkata cukup.
Dan mungkin, itulah warisan terbesar Lucy: bukan angka kekayaan atau gelar Forbes, tapi keberanian untuk terus memulai ulang, bahkan ketika tak ada yang meminta kita melakukannya.
“Saya rasa saya tidak pernah puas,” katanya. “Dan mungkin, itulah yang membuat saya terus berjalan.” (*)
Dari berbagai sumber