Kaustabh Roy Jadikan Data sebagai Landasan Transformasi Digital lewat PGI
Di tengah derasnya arus transformasi digital, Indonesia menjadi salah satu negara yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengadopsi teknologi digital terbaru. Namun, di balik semangat itu, banyak perusahaan lokal masih bergulat dengan tantangan mendasar, yakni pengelolaan dan pemanfaatan data.
Di sinilah Kaustabh Roy melihat peluang yang begitu besar. Pria berkebangsaan India ini melihat peluang sekaligus kebutuhan yang belum terjawab, dan menjadikannya titik tolak untuk mendirikan Platinumetrix Global Inovasi (PGI) pada tahun 2018.
Awalnya, PGI Data lahir sebagai sebuah boutique data analytics consulting house, sebuah firma konsultan yang menawarkan layanan khusus dalam bidang analitik data.
Proyek perdana mereka adalah inisiatif customer 360 untuk sebuah perusahaan telekomunikasi besar, yang bertujuan meningkatkan efektivitas kampanye pemasaran dengan memahami pelanggan secara lebih komprehensif.
Namun, ketika Roy memulai perjalanannya di Indonesia, ia menyadari bahwa tantangan yang dihadapi perusahaan-perusahaan lokal jauh lebih mendasar. “Banyak organisasi di sini masih beroperasi menggunakan sistem lama yang terkotak-kotak (silo legacy systems), data tidak terintegrasi, bahkan belum terdigitalisasi,” ungkap Roy saat diwawancara SWA.
Menanggapi kondisi tersebut, PGI Data bertransformasi dari sekadar konsultan analitik menjadi penyedia solusi transformasi digital menyeluruh (end-to-end data solution provider), dengan fokus pada big data analytics dan kecerdasan buatan (AI).
Layanannya juga berkembang mulai dari data integration, data warehousing, cloud & hybrid IT management, app development, hingga security services.
Bagi Roy, data bukan sekadar aset tambahan, melainkan fundamental bagi transformasi digital. Menurutnya, tanpa data yang rapi, terstruktur, dan terintegrasi, perusahaan tidak bisa mengambil keputusan strategis yang akurat, apalagi mengadopsi teknologi-teknologi canggih seperti AI.
“Indonesia punya semangat besar untuk berubah dan mencoba hal baru, terutama dalam bidang teknologi digital. Saya merasa di sini, peluang untuk berdiskusi langsung dengan para pemimpin C-level jauh lebih mudah dibandingkan dengan di India,” kata pria lulusan Business Administration dari University of Otago di Selandia Baru itu.
Dari sinilah lahir misi besar Roy yaitu membangun PGI Data bukan hanya sebagai perusahaan teknologi, tapi juga motor bagi transformasi digital perusahaan-perusahaan di Indonesia. Ia pun berkomitmen mengembangkan SDM lokal agar mampu bersaing secara global di bidang teknologi data dan AI.
Sejak didirikan, PGI Data menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Perusahaan ini telah melayani 42 klien dari berbagai sektor dan memperkerjakan hingga 137 karyawan lokal.
Tak hanya berkembang di dalam negeri, PGI juga melayani pasar Singapura dan Brunei, serta menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai perusahaan AI terkemuka di dunia, memastikan bahwa layanan yang diberikan selalu terkini dan sesuai dengan standar global.
Dengan pendekatan konsultasi yang personalized dan inovasi teknologi yang terus dikembangkan, beberapa klien utama PGI Data antara lain Alfamart, Smartfren, Tri, Frisian Flag, Bank Danamon, Bank BTPN, Danone, Vit dan lain-lain.
“Saya percaya bahwa apabila kita ingin sejajar, bahkan melampaui para kompetitor di industri yang semakin kompetitif ini, maka inovasi khususnya dalam ranah digital harus menjadi inti dari setiap strategi bisnis yang dijalankan,” jelas Roy
Berangkat dari pemahaman itulah, PGI Data hadir bukan sekadar sebagai penyedia teknologi atau reseller produk dari vendor tertentu. “Kami tidak percaya pada pendekatan satu solusi untuk semua, karena setiap organisasi memiliki karakteristik, tantangan, dan tujuan yang unik," katanya.
"Oleh karena itu, kami memposisikan diri sebagai mitra strategis yang menawarkan solusi yang sepenuhnya customized, dirancang secara spesifik berdasarkan kebutuhan dan konteks operasional klien,” dia menambahkan.
Saat ini, pihaknya tengah mengembangkan solusi berbasis agentic AI, yakni kecerdasan buatan yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi mampu bertindak secara mandiri dan adaptif sesuai konteks serta tujuan yang ditetapkan.
Ini merupakan pengembangan dari solusi-solusi sebelumnya yang telah dikembangkan, seperti predictive forecasting, yang kini menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi agentic AI ini.
Dengan beragam solusi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional klien, tetapi juga membuka jalan menuju otomatisasi tingkat lanjut yang lebih cerdas dan terukur. Dengan demikian, PGI tidak hanya membantu klien bertransformasi, tetapi juga memastikan bahwa transformasi tersebut berakar pada realita bisnis perusahaan masing-masing. (*)