Properti Komersial dan Residensial Diprediksi Tumbuh 15-18% di 2025

null
KPR juga diprediksi tumbuh 20% secara tahunan yang didorong suku bunga stabil, kemudahan kredit, dan insentif pemerintah. (Ilustrasi foto : Istimewa).

Industri properti di tahun ini berpotensi tumbuh dua digit lantaran didorong suku bunga yang stabil dan harga properti yang cenderung turun sehingga konsumen terpacu membeli properti di kala harganya relatif murah. Hal ini disampaikan oleh Roy N. Mandey, Ketua Umum Afiliasi Global Ritel Indonesia dan pemerhati properti, pada Product Knowledge Maxim Square di Atria Hotel Gading Serpong, Banten, pada Senin pekan ini.

Roy menghembuskan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang berdampak terhadap sektor usaha, terutama properti. Roy menjelaskan gejolak geo politik dan perang dagang global itu memicu ketidakpastian dan menyebabkan perubahan perilaku konsumen dalam membeli barang.

Perihal industri properti, Roy memproyeksikan properti residensial dan komersial di tahun ini tumbuh 15-18% secara tahunan. "Kontribusi properti terhadap produk domestik bruto (PDB) di 2025 ini berpeluang naik menjadi 11,5%, lebih tingg dari kontribusi di 2024 sebesar 10%. Penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) di tahun diprediksi tumbuh 20% yang didorong suku bunga stabil, kemudahan kredit, dan insentif pemerintah. Pertumbuhan industri properti didukung oleh penurunan harga properti tahunan sehinga tahun 2025 ini menjadi momentum yang tepat untuk membeli properti residensial maupun komersial,” jelas Roy pada keterangan tertulisnya sebagaimana dikutip pada Rabu (23/4/2025).

Perekonomian nasional yang stabil diyakini Roy menjadi katalis untuk industri properti di tahun ini. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan perekonomian Indonesia di 2024 tumbuh sebesar 5,03%.

Pada kesempatan ini, M. Nawawi, Presiden Direktur Paramount Land, mengungkapkan ketidakpastian ekonomi ini memantik masyarakat untuk berhati-hati dalam membuat keputusan untuk berinvestasi properti pada produk yang tepat. "Paramount Land selalu menghadirkan layanan penjualan end to end, kami konsistem memastikan keberhasilan dan keberlangsungan produk komersial yang kami bangun dan pasarkan, serta memiliki value yang terus meningkat,” ucap Nawawi.

Paramount Land diklaim Nawawi tidak hanya membangun gedung, tetapi juga ekosistem bisnis yang menjadi pusat ekonomi baru secara jangka panjang, seperti yang telah terbukti dari kesuksesan kawasan-kawasan bisnis Paramount Gading Serpong, yakni Pisa Grande, Maggiore, Aniva, Manhattan District, Hampton, dan lainnya.

“Kami mencatat setidaknya ada delapan titik CBD di Gading Serpong yang merupakan pusat keramaikan dan meeting point di Gading Serpong, yaitu: Bundaran Gading Serpong, Bundaran Paramount Plaza, Simpang BEZ Plaza, Kawasan Pisa Grande, Simpang Pasadena, Simpang Maggiore Business Loft, dan Jalan Tembus GS-BSD. Titik ke-8 adalah Simpang Bethsaida Hospital, di mana produk komersial terbaru Maxim Square akan dibangun,” ujar Nawawi menguraikan.

Chrissandy Dave, Direktur Penjualan & Pemasaran Paramount Land, menambahkan cadangan lahan atau land bank di Gading Serpong semakin terbatas lantaran pertumbuhan Kota Gading Serpong sangat masif dan cepat. Ini menyebabkan value kota semakin tinggi. Dengan total lahan hanya 6 hektare di tengah Kota Gading Serpong, Victoria Central District menawarkan keunggulan yang tidak ada di tempat lainnya, seperti captive market yang sudah sangat matang dan lokasi yang sangat strategis, dikelilingi pusat kegiatan masyarakat, seperti Bethsaida Hospital, SOHO Office Park, Pasar Modern Paramount, hotel, bank, universitas, sekolah, kawasan komersial, dan lebih dari 20 klaster yang telah terhuni dan hidup.

Maxim Square adalah produk komersial pertama di Victoria Central District. Lokasinya menghadap jalan utama Boulevard Raya Gading Serpong ROW 45 yang dilewati kendaraan bermotor sebanyak 15 ribu unit per jam, sekaligus merupakan akses utama yang menghubungkan sisi utara dan selatan Gading Serpong.

“Seperti kawasan bisnis lain yang dikembangkan Paramount Land, Victoria Central District dikembangkan layaknya sebuah mal atau pusat perbelanjaan, di mana setiap elemen dirancang secara cermat sehingga kawasan ini dapat tumbuh sebagai ekosistem baru, bukan hanya tempat untuk bertransaksi jual-beli, tetapi juga mengadakan beragam event dan kegiatan yang akan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat,” ujar Chrissandy.

Henry Napitupulu, Direktur Planning & Design Paramount Land, memaparkan Maxim Square memiliki eksposur yang sangat tinggi ke arah jalan utama Boulevard Raya Gading Serpong ROW 45. Hal ini menjadi keunggulan utama pada tipe Studio Loft yakni penyematan fitur videotron ready pada fasad gedung bagian atas sebagai media interaksi dan komunikasi pemilik usaha. Bangunan dirancang dengan konsep multi tenancy dengan lift dan tangga di area depan, memungkinkan lebih dari satu tenant beroperasi pada lantai yang berbeda di satu gedung.

Pada lantai atas terdapat area skyview lounge untuk berbagai kegiatan yang memerlukan aktivitas ruang terbuka. Untuk tipe Studio Loft tersedia pilihan ukuran bangunan L7x18, L8x16, dan L8x20 dengan 4 lantai untuk mengakomodasi berbagai bentuk usaha. Konsumen juga dapat memilih tipe Reguler 3 lantai dengan pilihan ukuran bangunan yakni, L5x12 (Reguler), L5x13 (Reguler Double Facade), dan L5x19 (Reguler Double Facade Alfresco).

“Maxim Square dibuat tanpa boomgate system, sehingga dapat diakses dari semua sisi, dengan akses pejalan kaki yang nyaman dan terkoneksi dengan area SOHO Office Park dan Victoria Central District. Bangunan didesain dengan konsep ultra modern office melalui penggunaan kaca, decorative panel, dan dominasi warna gelap yang elegan,” katanya.

Maxim Square tahap 1 dipasarkan sebanyak 16 unit dengan harga mulai dari Rp 3,6 miliar (reguler) dan Rp10,3 miliar (studio loft). Setiap unit dilengkapi fitur seperti lift (Studio Loft), AC di setiap lantai, IP CCTV, dan Free IPKL 12 bulan. Tersedia cara pembayaran yang beragam, yakni super cash, tunai, dan tunai bertahap. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag