Menjalankan Misi Hijau: Saat Siemens Menyatukan Logika, Teknologi, dan Nurani
Di tengah keramaian dunia bisnis yang kerap menjadikan keberlanjutan sebagai label, Siemens memilih jalur yang lebih sunyi namun dalam: menjadikannya jalan hidup.
Bagi raksasa industri asal Jerman ini, sustainability bukanlah jargon atau tren musiman yang harus ditangkap demi eksistensi, melainkan prinsip yang dijalani dengan kesungguhan. Sejak 2015, mereka menjadi salah satu perusahaan yang telah menancapkan komitmen untuk menjadi perusahaan karbon netral pada 2030.
Namun, yang membuat langkah ini istimewa bukanlah klaimnya, atau tekadnya, melainkan bagaimana komitmen itu diubah menjadi tindakan nyata, melebur dalam denyut inovasi dan pertumbuhan manusia di dalam organisasi.
Kompas Bernama DEGREE
Pada sore yang teduh di Hotel Mandarin Oriental Jakarta, 15 April lalu, swa.co.id berkesempatan berbincang dengan Judith Wiese, sosok yang membawa dua peran penting sekaligus di tubuh Siemens AG — Chief People and Sustainability Officer. Perempuan jangkung asal Munich itu datang bukan sekadar sebagai pejabat tinggi korporat, tapi sebagai pengemban misi yang mengandung dimensi nilai dan arah masa depan.
Di sampingnya, Surya Fitri, CEO Siemens Indonesia, menyambut dengan senyum. Ia adalah CEO lokal pertama dalam sejarah Siemens Indonesia — sebuah simbol perubahan dari dalam, bahwa transformasi tidak hanya terjadi lewat sistem, tetapi juga lewat wajah-wajah yang mewakili tanah di mana mereka berpijak.
“Framework kami bernama DEGREE — decarbonization, ethic governance, resource efficiency, equity, and employability,” ujar Judith dalam nada suara yang tak hanya meyakinkan, tetapi juga bersahabat.
Framework itu tak dilahirkan untuk memenuhi tuntutan pemangku kepentingan semata. Ia adalah bingkai nilai, peta moral, sekaligus kompas strategis yang menuntun setiap keputusan bisnis Siemens ke arah yang lebih etis, efisien, dan berkelanjutan.
Memang, DEGREE bukanlah sekadar simbol, atau slogan. Ia hidup dalam kebijakan, bernapas di pabrik-pabrik, dan mewujud dalam langkah-langkah strategis. Di Fürth, Jerman, pabrik elektronik Siemens berhasil menurunkan emisi hingga 70% sembari meningkatkan output produksi sebesar 145%. Pada ajang World Economic Forum, pabrik di Fürth ini menjadi bahan pujian.
World Economic Forum mengakui lokasi Siemens di Fürth, Jerman, sebagai Sustainability Lighthouse pada 14 Januari 2025. Pengakuan ini diberikan karena fasilitas tersebut dinilai unggul dalam menerapkan teknologi inovatif untuk meningkatkan keberlanjutan dalam proses manufaktur.
Pabrik Siemens di Fürth berhasil mengurangi konsumsi energi sebesar 64% dan emisi gas rumah kaca sebesar 74% per unit produksi, sambil secara bersamaan meningkatkan kapasitas produksi sebesar 145%.
Dengan pengakuan ini, Fürth menjadi lokasi Siemens ketiga yang mendapat status Sustainability Lighthouse, setelah sebelumnya fasilitas di Amberg dan Chengdu juga meraih pengakuan serupa.
Sustainability Lighthouse adalah predikat prestisius dari World Economic Forum yang diberikan kepada fasilitas manufaktur yang berhasil menunjukkan kepemimpinan dalam praktik keberlanjutan melalui pemanfaatan teknologi Industri 4.0 secara inovatif dan terukur.
Predikat ini menandakan bahwa sebuah pabrik tidak hanya mampu mengurangi dampak lingkungannya secara signifikan — seperti emisi karbon dan konsumsi energi — tetapi juga meningkatkan efisiensi dan produktivitas secara bersamaan.
Fasilitas yang diakui sebagai Sustainability Lighthouse menjadi benchmark global, atau "mercusuar", yang memberi arah bagi industri lain dalam menjalankan transformasi manufaktur yang ramah lingkungan, berdaya saing tinggi, dan berbasis teknologi maju.
Pengakuan ini diberikan melalui proses seleksi ketat dan pembuktian data transparan, menjadikannya simbol keunggulan dalam menjalankan strategi bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan ekologis.
"Kami minum sampanye kami sendiri," ujar Judith sambil tersenyum.
Istilah ini merujuk pada filosofi bahwa setiap solusi yang ditawarkan kepada pelanggan telah terlebih dahulu diterapkan secara internal. Pabrik-pabrik Siemens bukan hanya tempat produksi, tetapi menjadi etalase transformasi, tempat mewujudkan digitalisasi dan dekarbonisasi sebagai kenyataan yang terukur, bukan sekadar janji.
Bahkan di Jakarta, pencapaian yang seolah utopis itu menjadi realita. Emisi ditekan hingga 80%, dan sejak 2021, pabrik mereka sudah bebas dari limbah yang dibuang ke tanah. “Kami memulai dari diri sendiri. Teknologi yang kami kembangkan, kami pakai untuk mereformasi rumah kami sendiri,” kata Judith.
Surya Fitri, CEO Siemens Indonesia, memberi gambaran lebih lokal namun tak kalah menarik. Emisi karbon yang pada 2019 berada di angka ribuan metrik ton, kini tinggal 1,2 metrik ton. “Masih ada gas untuk memasak, tapi sangat kecil. Kami terus berbenah,” ucapnya.
Lebih dari itu, Siemens Indonesia juga membenahi wajah sosial organisasinya. Kini, 30% posisi manajerial diisi oleh perempuan. Jam pelatihan meningkat jadi 34 jam per tahun per orang. Keberlanjutan, bagi mereka, bukan hanya soal udara bersih, tetapi juga tentang memberi ruang yang setara bagi tumbuhnya manusia.
Namun, dunia tidak berhenti di batas pagar pabrik. Tantangan sesungguhnya justru datang dari rantai pasok yang panjang dan kompleks: dari hulu ke hilir, dari pemasok hingga pemakai. Scope 3, istilah untuk emisi tidak langsung ini, adalah medan tempur yang jauh lebih rumit. Siemens punya lebih dari 65.000 pemasok langsung di seluruh dunia.
Untuk itu, mereka menciptakan Carbon Web Assessment, sebuah alat yang memungkinkan pemasok menghitung jejak karbonnya sendiri. “Kami ingin mereka sadar dan mulai bergerak, sebagaimana kami juga telah bergerak,” ujar Judith. Sebuah kerja sunyi, penuh kesabaran, tapi penuh makna.
Mitra Transformasi
Di Indonesia, langkah Siemens bersambut dengan program nasional Making Indonesia 4.0. Di titik temu antara strategi industri dan visi negara, Siemens mengambil peran bukan sebagai vendor teknologi, tetapi sebagai mitra transformasi.
Surya Fitri menyebut keterlibatan mereka sejak awal dalam merancang peta jalan digitalisasi, khususnya di sektor pangan dan pertanian. “Kami bukan sekadar menawarkan produk. Kami terlibat dalam menyusun langkah-langkah strategis bersama pemerintah,” ujarnya. Siemens pun menggandeng beberapa perusahaan lokal, menandatangani nota kesepahaman untuk memulai perjalanan transformasi digital secara bertahap.
Transformasi digital yang diusung Siemens tak pernah dibayangkan sebagai lompatan besar yang harus dilakukan sekaligus. Mereka memahami betul, tidak semua industri siap menghadapi otomatisasi total. Maka, strategi dimulai dari langkah-langkah kecil yang berdampak besar: efisiensi energi.
“Kami bantu klien mengelola konsumsi energi terlebih dahulu. Dari situ, mereka akan mulai melihat potensi lain, seperti otomasi dan digitalisasi,” kata Surya. Untuk itu, Siemens membentuk tim khusus bernama SPTI Consulting, yang bertugas menilai kesiapan infrastruktur kelistrikan klien sebelum langkah berikutnya diambil.
Apa yang terlihat sebagai teknokrasi di permukaan, sejatinya adalah upaya mendekatkan logika dengan realitas. Siemens tahu, keberlanjutan tak bisa dipaksakan. Ia harus dipersiapkan, disesuaikan, dan dirawat. Di sektor kelistrikan, mereka melihat potensi besar dalam digitalisasi jaringan atau grid.
Judith menjelaskan bahwa dengan pendekatan digital, kapasitas grid dapat ditingkatkan hingga 30% tanpa membangun infrastruktur baru. “Bayangkan dampaknya jika diterapkan di Indonesia, yang sedang tumbuh dan haus akan pasokan energi stabil,” katanya. Terlebih, target pemerintah untuk mencapai 23–25% bauran energi baru terbarukan pada 2030 menjadi tantangan sekaligus peluang.
Untuk mewujudkan efisiensi grid, Siemens tidak berjalan sendiri. Mereka menggandeng NVIDIA, perusahaan teknologi visualisasi yang kini memainkan peran penting dalam proyek-proyek simulasi skala besar.
Judith menuturkan bagaimana mereka membantu Hyundai merancang chip dengan jutaan komponen, atau membangun pabrik baterai raksasa dalam ruang virtual sebelum pembangunan fisik dimulai. Dunia digital, dalam tangan Siemens, bukan pelarian dari kenyataan, tapi jembatan menuju keputusan yang lebih cerdas.
Kecerdasan buatan (AI) pun dihadirkan bukan sebagai kilau teknologi masa depan, tetapi sebagai alat yang membumi dan bisa digunakan hari ini. Namun AI versi Siemens bukan jenis yang bisa “berhalusinasi”. Ia presisi, berbasis fisika, dan dirancang untuk lingkungan industri di mana kesalahan bisa fatal.
“Kami tidak bisa mentoleransi AI yang salah bicara. Kami mengoperasikan pabrik dan infrastruktur penting,” tegas Judith. Karena itu, Siemens mengembangkan industrial co-pilot — sebuah antarmuka AI yang memungkinkan teknisi berinteraksi dengan mesin lewat bahasa alami. Sebuah lompatan yang membawa efisiensi sekaligus memberdayakan.
Teknologi itu, yang di tangan banyak perusahaan hanya menjadi alat efisiensi, oleh Siemens diperlakukan seperti rekan kerja. AI membantu teknisi menyelesaikan masalah yang dulunya hanya bisa ditangani insinyur.
Bahkan, operator malam kini lebih percaya diri, tak lagi harus menunggu supervisor hadir untuk mengambil keputusan. Karena AI bukan sekadar mesin pintar, tapi mitra pemberdayaan manusia. Dalam sistem predictive maintenance, waktu analisis yang sebelumnya makan berminggu-minggu kini dipangkas menjadi menit. Teknologi membuat pabrik menjadi cerdas — dan di masa depan, makin otonom.
Di sisi lain, Siemens tak lupa bahwa transisi energi bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang perubahan pola pikir industri. Di Amerika Latin, mereka mendampingi Heineken dalam proyek percontohan beralih dari bahan bakar fosil ke sistem berbasis listrik. Setelah berhasil, pabrik lain mengikuti.
“Kami membantu dari sistem pemanas, pendingin, sampai efisiensi bangunan,” jelas Judith. Pendekatan ini menunjukkan betapa Siemens tidak sekadar menjual solusi, tapi memikul tanggung jawab sebagai katalis perubahan di tengah transformasi energi global yang tak menentu.
Dan tantangan tak berhenti di situ. Stabilitas jaringan listrik kini menjadi isu besar, terutama saat energi terbarukan seperti matahari dan angin — yang sifatnya fluktuatif — mulai mengisi sistem. Siemens meresponsnya dengan simulasi dan desain penyimpanan energi. “Ketika matahari tak bersinar, sistem harus tetap stabil. Itulah pentingnya penyimpanan dan prediksi,” kata Judith. Dalam konteks Indonesia, di mana pusat-pusat data tumbuh pesat dan kebutuhan akan energi stabil makin mendesak, pendekatan Siemens menjadi sangat relevan. Mereka tidak hanya menawarkan solusi, tapi juga antisipasi.
Tidak Disalin-Tempel
Yang menarik, apa yang diterapkan Siemens di satu negara, tidak serta merta disalin-tempel (copy-paste) ke negara lain. DEGREE framework memang berlaku global, tapi implementasinya lentur mengikuti lokalitas.
Di Brasil, misalnya, energi terbarukan sudah mencapai 85% dari total pasokan. Di Indonesia, angka itu masih sekitar 15%. Di Norwegia, kendaraan listrik mendominasi jalanan, tapi di negara-negara besar seperti Indonesia atau Brasil, tantangannya berbeda: jaringan pengisian baterai belum merata.
Alhasil, Siemens seperti menjahit strategi keberlanjutan laiknya kain tenun: pola dan warnanya mengikuti budaya dan kebutuhan lokal. “Meski Siemens menerapkan target keberlanjutan global yang sama di seluruh dunia, penerapannya disesuaikan dengan kondisi lokal di tiap negara — bergantung pada infrastruktur, industri, dan prioritas pelanggan di wilayah tersebut,” ujar Judith.
Begitu pula dalam praktik inklusi. Siemens secara global mendorong keterlibatan penyandang disabilitas, dan infrastruktur mereka, baik gedung maupun sistem IT, dirancang untuk akomodatif. Judith menyebut, “Kami ingin semua orang merasa aman menyuarakan ide mereka. Inovasi lahir dari keberagaman.” Di Indonesia, meski belum ada karyawan penyandang disabilitas, pintu terbuka lebar.
“Siapa pun yang kompeten, kami terima. Yang terpenting kontribusinya,” timpal Surya. Artinya: prinsip meritokrasi tetap dijaga, namun pencarian talenta dilakukan dengan cara yang lebih inklusif dan sadar konteks demografis yang sedang berubah.
Pergeseran demografi global — dengan rata-rata usia pekerja di Eropa mencapai 45 tahun ke atas — menjadi alarm bagi banyak perusahaan. Tapi di Indonesia, bonus demografi masih menyala terang. Siemens melihat ini sebagai peluang, bukan sekadar statistik. Maka program pelatihan, magang, hingga rotasi internal dijalankan dengan semangat regenerasi.
“Teknologi hanya akan bermakna jika manusianya siap. Maka kami latih bukan hanya fresh graduate, tapi juga mereka yang sudah lama bekerja, agar tetap relevan,” ujar Judith. Siemens ingin semua orang di dalamnya memiliki kemampuan belajar dan keberanian untuk berubah.
Ketahanan bukan hanya soal mesin yang tahan banting atau sistem yang redundan. Bagi Siemens, ketahanan berarti jaringan global yang kuat namun mengakar lokal. Beroperasi di 193 negara, Siemens bukan perusahaan yang bekerja dari kejauhan. Mereka hadir, menyatu, dan mengakar.
Di Indonesia, Siemens telah ada lebih dari seabad. Jejak awal mereka tertinggal lewat pengiriman alat telegraf pada masa kolonial. Kini, jejak itu tumbuh menjadi pabrik, teknologi, dan kemitraan jangka panjang. “Kami global, tapi cara kerja kami sangat lokal. Itu kekuatan kami,” ujar Judith.
Keberlanjutan, bagi Siemens, bukan sekadar target tahun 2030 atau ambisi nol karbon. Ia adalah filosofi yang hidup dalam setiap keputusan bisnis. Ia hadir di ruang pelatihan, di sistem kontrol pabrik, di dashboard energi pelanggan, hingga di sikap inklusif terhadap siapa pun yang ingin memberi kontribusi. Siemens tidak sedang menciptakan dunia sempurna, tapi mereka sedang membangun dunia yang lebih baik dengan langkah-langkah yang nyata, logis, dan berakar pada rasa tanggung jawab.
Dan di penghujung pertemuan sore itu, Judith menutup dengan kalimat yang tak terdengar seperti jargon korporasi, tetapi lebih seperti bisikan hati seorang pemimpin yang peduli: “Teknologi tak akan berarti apa-apa jika orang tak percaya diri menggunakannya. Maka kami terus belajar, melatih, dan mendengarkan. Karena masa depan bukan hanya soal efisiensi, tapi juga soal empati.”
Artinya: inovasi sejati bukan hanya soal kecanggihan, tapi juga keberanian untuk menyelaraskan logika, teknologi, dan nurani. (*)