Stockbit Sekuritas Amati Unilever Indonesia (UNVR) Potensial untuk Investor, Ini Analisisnya

Stockbit Sekuritas Amati Unilever Indonesia (UNVR) Potensial untuk Investor, Ini Analisisnya

Pemulihan bisa hadir bukan dari ledakan pertumbuhan, melainkan dari kesenyapan upaya yang konsisten. Itulah yang kini tampak dari langkah-langkah Unilever Indonesia. Perusahaan consumer goods ini belum mencetak lonjakan penjualan, namun mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan lewat strategi efisiensi yang perlahan memperkuat fondasi bisnisnya.

Analisis dari Stockbit Sekuritas Digital menggarisbawahi potensi pertumbuhan positif Unilever Indonesia pada kuartal pertama 2025. Bukan karena lonjakan penjualan atau ekspansi besar-besaran, melainkan karena upaya pembenahan internal yang mulai menunjukkan hasil.

“Program pembenahan mulai menunjukkan hasil dari sisi efisiensi biaya, tetapi tren pendapatan masih tergolong lemah,” ujar Edi Chandren, Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas dalam newsletter yang terbit Jumat, 25 April 2025.

Langkah efisiensi tersebut mulai berdampak pada pemulihan harga saham UNVR yang dalam satu bulan terakhir naik 17%. Sebuah angka yang cukup signifikan dibandingkan IHSG yang hanya tumbuh 8% pada periode yang sama. Menurut Edi, pembenahan biaya yang dilakukan menunjukkan adanya progres yang bisa menjadi katalis untuk pemulihan harga saham yang lebih besar di masa mendatang.

Bukti pemulihan lainnya terlihat dari margin laba kotor yang kembali menguat ke level 48,2%, setelah sempat tergerus ke kisaran 45% dalam dua kuartal sebelumnya. Hal ini tak lepas dari upaya pengurangan stok dan pelaksanaan program transformasi operasional.

Di sisi lain, margin laba usaha meningkat ke 17,1% — lonjakan yang cukup terasa, mengingat sebelumnya terdapat tekanan akibat one-off cost dari program pengurangan karyawan.

Efek penghematan juga terasa dari menurunnya biaya gaji dan tunjangan. Biaya periklanan dan promosi pun tetap terkendali di kisaran 9,2% dari total pendapatan. Di tengah situasi yang belum pulih sepenuhnya, stabilitas biaya menjadi nafas yang menyelamatkan kinerja.

Namun dari sisi pendapatan, tantangan masih membayangi. Unilever mencatatkan penurunan pendapatan pada kuartal I/2025 menjadi Rp9,47 triliun, seiring turunnya volume penjualan domestik sebesar 8% secara tahunan. Kenaikan harga jual rata-rata yang hanya 1,3% belum cukup untuk menutup penurunan volume tersebut.

Jika ditelusuri lebih dalam, penurunan paling tajam terjadi di segmen home and personal care yang anjlok 9% secara tahunan. Sebaliknya, segmen foods and refreshment justru menunjukkan ketahanan, hanya turun 1%. Meski demikian, efisiensi biaya tampaknya paling terasa di segmen yang justru sedang turun. Margin laba kotor segmen home and personal care melonjak ke angka 50,2%, menunjukkan bahwa program efisiensi bukan sekadar slogan, melainkan sesuatu yang benar-benar bekerja.

Sementara itu, dinamika harga saham UNVR turut merefleksikan sentimen pasar yang perlahan membaik. Mengutip dari aplikasi IDX Mobile per 25 April 2025, saham UNVR sempat menyentuh posisi tertinggi di Rp1.865, sebelum kembali terkoreksi ke Rp1.755 pada sesi perdagangan kedua. Dibuka di harga Rp1.530, saham ini menunjukkan volatilitas yang tinggi, tetapi tetap dalam tren pemulihan.

Namun, Edi mengingatkan bahwa keberlanjutan dari pemulihan harga saham masih memerlukan konfirmasi dari sisi pendapatan. “Kami melihat momentum kenaikan harga saham ini dapat dimanfaatkan oleh investor untuk take profit dan wait and see terlebih dahulu terkait progres topline perusahaan,” tutupnya. (*)

# Tag