Saat IHSG Mencoba Bangkit, Asing Pilih Menunggu

Saat IHSG Mencoba Bangkit, Asing Pilih Menunggu
Suasana ruang meeting untuk menganalisis pergerakan harga saham di Samuel Sekuritas Indonesia. Foto Samuel Sekuritas Indonesia

Sinar optimisme sempat menyapu lantai bursa siang itu. Jumat, 25 April 2025, indeks harga saham gabungan (IHSG) melaju ke zona hijau.

Tepat pukul 13.38 WIB, angka di layar aplikasi IDX Mobile menunjukkan posisi IHSG di 6.664,56—naik 51,08 poin atau 0,77% dibanding level pembukaan di 6.660,62. Sebuah angka yang, sekilas, seperti pertanda bahwa pasar sedang bergerak naik.

Namun seperti biasa, pergerakan indeks tak pernah berdiri sendiri. Di balik angkanya, ada irama global yang ikut menggiring langkah pasar domestik. Hari sebelumnya, bursa Amerika Serikat ditutup menguat. Indeks Dow Jones melompat 1,23%, S&P 500 naik 2,03%, dan Nasdaq melesat hingga 2,74%. Di tengah derasnya arus informasi, ada satu faktor yang mencuat sebagai pemicu lonjakan ini: saham-saham teknologi besar (big tech).

Pasar menyambut pernyataan dari Presiden AS Donald Trump dan penasihat utamanya mengenai rencana tarif resiprokal. Isyarat itu terbaca sebagai sinyal baru bahwa arah kebijakan perdagangan bisa bergeser, dan investor pun merespons dengan memburu saham-saham unggulan.

Tak hanya itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 1,44% ke 4,376%, dan indeks dolar AS juga melemah 0,47% ke 99,4. Tekanan yang melemahkan nilai dolar ini, justru memperkuat optimisme investor di pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Dari arah Timur, bursa Asia ikut menari. Pagi itu, indeks Kospi naik 0,97%, disusul Nikkei yang menguat 1,36%. Meski sehari sebelumnya sempat ada tekanan — Kospi turun tipis 0,07% dan Hang Seng melemah 0,74% — kebangkitan Nikkei sebesar 1,70% dan kenaikan tipis Shanghai di 0,03% cukup memberi sentimen positif.

Namun euforia tidak sepenuhnya terasa di pasar domestik. Meskipun IHSG sempat hijau di siang hari, pada sesi pagi justru sempat melemah 0,32% ke level 6.634,4. Data menunjukkan, para investor asing tidak bergabung dalam reli. Mereka justru menarik diri. Aksi jual bersih asing hari itu tercatat cukup besar, mencapai Rp514,5 miliar.

Jika ditelusuri lebih dalam, pasar reguler mencatat net sell asing sebesar Rp381,4 miliar, sedangkan di pasar negosiasi net sell tercatat Rp133,1 miliar. “Net sell asing tertinggi di pasar regular dicetak oleh BBCA (Rp655,4 miliar), BBNI (Rp79,7 miliar), dan PANI (Rp65,2 miliar),” jelas tim analis Samuel Sekuritas Indonesia kepada swa.co.id pada Jumat pagi.

Meski demikian, aksi beli asing masih bertahan di beberapa saham. Tercatat net buy pada saham BMRI sebesar Rp337,5 miliar, disusul ANTM dengan Rp185,4 miliar, dan PGAS Rp35,9 miliar. Pasar seperti menari di antara dua kutub—satu kaki melangkah maju, satu lagi masih ragu.

Di antara ratusan saham yang diperdagangkan hari itu, nama-nama yang tampil sebagai top leading movers antara lain DCII, BSIM, dan ICBP. Sementara itu, saham BBCA, TPIA, dan BBRI justru masuk daftar top lagging movers, mencerminkan sektor keuangan yang masih menanggung beban sentimen negatif.

Berdasarkan data aplikasi IDX Mobile per 25 April 2025, total nilai transaksi di pasar reguler cukup besar. Nilai net buy domestik mencapai Rp7.465 triliun, sementara investor asing mencatat net buy sebesar Rp3.833 triliun.

Tapi di sisi lain, net sell domestik mencapai Rp7.084 triliun dan asing mencatat Rp4.214 triliun, menunjukkan transaksi yang sangat aktif tapi juga saling menekan.

Untuk pasar negosiasi, domestik mencatat net buy sebesar Rp1.516 triliun, sedangkan asing hanya Rp457,1 miliar. Di sisi net sell, domestik melepas Rp1.383 triliun, sementara asing mencapai Rp590,2 miliar.

Angka-angka ini bisa jadi meruapakan jejak dari ketidakpastian yang masih menggantung. Pasar tampaknya sedang menimbang: apakah ini awal dari tren pemulihan? Atau hanya jeda di tengah turbulensi? (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag