Menjaga Laut Lewat Lamun: Strategi Konservasi PIS di Teluk Bakau

Penanaman Bibit. (Foto: PIS)
Penanaman bibit lamun. (Foto: PIS)

Bukan hutan mangrove, bukan pula terumbu karang. Kali ini, PT Pertamina International Shipping (PIS) memilih lamun, tumbuhan laut yang sering terabaikan, sebagai pusat dari inisiatif keberlanjutan mereka.

Dalam rangka memperingati Hari Bumi Internasional yang jatuh pada 22 April lalu, PIS menggelar program rehabilitasi pesisir melalui penanaman 3.000 bibit lamun di Teluk Bakau, Bintan.

Program ini bukan sekadar kegiatan simbolik. Ia menjadi bagian dari strategi jangka panjang PIS dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut, terutama di wilayah pesisir yang menjadi kawasan operasional perusahaan.

Kegiatan ini juga menjadi inisiatif serupa pertama di bawah payung Sub Holding Integrated Maritime Logistics (SH IML), dengan melibatkan PT Pertamina Energy Terminal dan PT Pertamina Port and Logistics.

Di lapangan, PIS tak bekerja sendiri. Kolaborasi dijalin bersama komunitas lingkungan seperti Carbon Ethics dan Lamun Warrior, menandai pendekatan yang lebih terbuka dan partisipatif.

“Perwira dari Sub Holding Integrated Marine Logistics sukses membantu proses rehabilitasi ekosistem pesisir di Teluk Bakau melalui penanaman 3.000 bibit lamun. Melalui inisiatif ini, kami berharap bisa berkontribusi dalam upaya konservasi daerah pesisir di Indonesia yang dapat bermanfaat bagi generasi ke depan, khususnya bagi komunitas pesisir,” ujar Corporate Secretary PIS Muhammad Baron, dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (25/4/2025).

Lamun bukan pilihan yang sembarangan. Menurut data Kementerian PPN/Bappenas, lamun memiliki kemampuan serapan karbon sebesar 1.867 ton/km², jauh lebih tinggi dibandingkan ekosistem pesisir lainnya seperti mangrove dan terumbu karang.

Penanaman 3.000 bibit lamun berbasis benih ini diperkirakan mampu menyerap hingga 95,2 kg karbon dioksida (CO₂) per tahun. Selain menjadi penyerap karbon alami, lamun juga memainkan peran penting sebagai rumah bagi biota laut dan pelindung alami dari abrasi pantai.

Studi menunjukkan, lamun mampu menurunkan tinggi gelombang hingga 36% dan mengurangi energi gelombang hingga 70%. Fungsinya sebagai penahan alami menjadikannya garda depan dalam perlindungan garis pantai dari ancaman perubahan iklim. Bagi masyarakat pesisir, ini berarti lebih dari sekadar pelestarian alam. Itulah jaminan keberlanjutan aktivitas ekonomi dan sosial.

Program rehabilitasi lamun ini menjadi bagian dari BerSEAnergi untuk Laut, payung besar program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PIS yang berfokus pada kesejahteraan komunitas pesisir.

Selain menyasar pemulihan ekosistem, inisiatif ini selaras dengan komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya poin 3 (kehidupan sehat dan sejahtera), poin 13 (penanganan perubahan iklim), dan poin 14 (ekosistem lautan).

Sejak 2023, PIS telah merancang berbagai program berbasis konservasi laut, termasuk penanaman 10.000 pohon mangrove dan kegiatan transplantasi terumbu karang di sejumlah daerah pesisir. Inisiatif di Teluk Bakau menjadi perluasan dari komitmen tersebut, dengan fokus pada diversifikasi ekosistem dan edukasi lingkungan.

Ke depan, PIS berharap Teluk Bakau dapat berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan, tidak hanya bagi masyarakat sekitar, tapi juga bagi perguruan tinggi dan lembaga riset. Pemanfaatan wilayah ini sebagai laboratorium alam diyakini akan memperkuat kolaborasi antara industri, akademisi, dan komunitas dalam membangun ekosistem pesisir yang tangguh.

“Melalui program ini, kami ingin mengajak masyarakat dan generasi muda untuk turut serta menjaga kekayaan hayati laut Indonesia. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas lokal dan akademisi, menjadi kunci dalam menciptakan dampak yang berkelanjutan bagi lingkungan dan komunitas pesisir,” tutup Baron.

Lamun mungkin tak sepopuler mangrove, tapi di mata PIS dan mitra-mitranya, ia menyimpan potensi besar sebagai penjaga kehidupan di pesisir. (*)

# Tag