Dari Desa Binaan SCG, UMKM Rizki Alam Kreatif Tembus Pasar Internasional
Inovasi dan keberlanjutan menjadi dua pilar penting dalam memperkuat daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama di tengah tekanan ekonomi global yang tak menentu. Dari Kabupaten Sukabumi, kisah inspiratif datang dari Asep Suryana, pendiri Rizki Alam Kreatif, yang membuktikan bahwa kreativitas berbasis lingkungan mampu menembus batas pasar lokal hingga internasional.
Sejak 2014, Asep mengembangkan usaha berbasis limbah organik—mengolah pelepah pisang kering menjadi karya seni dan kerajinan tangan bernilai tinggi. Ide sederhana ini, yang lahir dari keprihatinannya terhadap limbah pertanian, perlahan bertransformasi menjadi bisnis yang mapan. Kini, ratusan produk Rizki Alam Kreatif telah tersebar ke berbagai kota besar di Indonesia dan bahkan berhasil merambah ke pasar luar negeri.
Tak sekadar menghadirkan nilai ekonomi, bisnis ini juga membawa dampak sosial dan lingkungan yang signifikan bagi masyarakat sekitar.
Perjalanan Asep mendapat dukungan penuh dari SCG melalui anak usahanya, PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, lewat program Gerakan Desa Berdikari (GESARI).
Inisiatif ini dirancang untuk memberdayakan UMKM dan memaksimalkan potensi desa-desa lokal, melalui kolaborasi erat dengan pemerintah daerah dan dinas terkait. Melihat konsistensi dan orisinalitas Rizki Alam Kreatif, SCG menilai usaha ini memiliki potensi besar untuk memperkuat ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Presiden Direktur PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, Peramas Wajananawat, menyampaikan, "Produk-produk Rizki Alam Kreatif telah diminati konsumen dari berbagai kota di Indonesia, seperti Sukabumi, Bogor, Jakarta, Cianjur, dan Bandung, bahkan merambah ke pasar luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Pakistan, Jerman, dan Shanghai (Tiongkok)," ungkapnya dikutip dalam keterangan tertulis, Minggu (27/4/2025).
Saat ini, Rizki Alam Kreatif mencatatkan rata-rata keuntungan sekitar Rp2 juta per bulan, dengan peluang pertumbuhan yang terus terbuka. Bagi Asep, nilai sesungguhnya dari usahanya bukan hanya soal angka, tetapi tentang bagaimana kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi pondasi kuat membangun UMKM yang berdaya saing global.
Lebih dari satu dekade berkarya, Asep Suryana terus mengembangkan teknik handmade dalam memproduksi kaligrafi, lukisan, hingga peci dari pelepah pisang. Sentuhan personal pada setiap produk menjadi daya tarik tersendiri di tengah gelombang produksi massal berbasis mesin.
Dalam menjalankan usahanya, Rizki Alam Kreatif mengadopsi strategi pemasaran modern dengan menggabungkan pendekatan offline dan online. Melalui keikutsertaan dalam berbagai pameran dan pagelaran seni di berbagai daerah, serta memanfaatkan platform digital, Rizki Alam Kreatif membangun jejaring pasar yang kuat.
Di balik keberhasilan Asep, SCG berharap dampak serupa dapat tercipta di lima desa binaan lainnya di sekitar area operasional perusahaan. Misi ini sejalan dengan prinsip ESG 4 Plus milik SCG yang mengedepankan empat pilar utama: Mencapai Nol Bersih Emisi (Set Net Zero) tahun 2050, Mewujudkan Industri Hijau (Go Green), Menekan Kesenjangan Sosial (Reduce Inequality), dan Merangkul Kolaborasi (Embrace Collaboration), dengan keadilan dan transparansi sebagai pondasi di setiap langkah operasional.
Program GESARI sendiri dikembangkan untuk memenuhi aspek Reduce Inequality, menekankan pentingnya pengurangan kesenjangan ekonomi melalui pemberdayaan UMKM di berbagai sektor.
“Dengan sinergi antara inovasi, keberlanjutan, dan kesetaraan akses, kami berharap dapat membantu menciptakan ekosistem usaha yang lebih inklusif dan berdaya saing di Indonesia. SCG berkomitmen untuk membantu UMKM dalam lingkup kami agar mampu berkembang secara mandiri dan berkontribusi lebih luas bagi perekonomian nasional,” tutup Peramas.
Lewat perjalanan Rizki Alam Kreatif, terbukti bahwa inovasi sederhana berbasis lokal dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi dan kontribusi global, asal dibangun dengan ketekunan, keberanian berinovasi, dan dukungan ekosistem yang tepat. (*)