Penyelenggara Balinale Berambisi Menjadikan Sanur Pusat Industri Film Berskala Global
Penyelenggaraan Bali International Film Festival (Balinale) di Sanur pada 1-7 Juni 2025 menandai babak baru Balinale. Pelaksana festival ini bermitra dengan Icon Bali Mall dan The Meru Sanur. "Kehadiran Balinale di Sanur tahun ini menandai babak baru yang menempatkan kawasan pantai ini sebagai titik pusat budaya yang berkembang di kancah internasional. Balinale menyoroti Sanur secara global, menyiapkan panggung dan peluang yang memiliki nilai penting dan pengakuan dunia internasional dengan reputasi Bali sebagai pusat budaya global yang terus berkembang.,” kata Deborah Gabinetti, pendiri dan Direktur Festival pada jumpa pers di Icon Bali, Sanur, Sabtu (26/4/2025).
Melalui kekuatan penyampaian cerita dan pertukaran budaya, Sanur menurut Deborah menjadi lebih dari sekedar destinasi wisata tetapi juga menjadi sumber inspirasi dunia."Festival ini tidak hanya bertujuan untuk mempertemukan para pelaku industri perfilman internasional, tetapi juga untuk menjadikan Sanur sebagai pusat industri perfilman dan hiburan berskala global," ucapnya.
Balinale di edisi ke -18 ini tercatat sebagai festival film berstandar Oscar yang diberikan oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS). Ida Bagus Gede Sidharta Putra, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, menegaskan identitas Sanur yang terus berkembang."Kehadiran Balinale sejalan dengan visi menjadikan Sanur sebagai destinasi kelas dunia untuk seni, wellness, dan industri kreatif, sembari tetap menjaga kekayaan budaya melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan Pariwisata Wellness Sanur," ujar Ida Bagus.
Ed Brea, General Manager The Meru Sanur, menyatakan kesiapannya menjadi tempat menyambut tamu festival, perayaan malam penghargaan, serta acara penutupan festival dengan layar tancap di bawah bintang-bintang."The Meru Sanur merasa terhormat menjadi mitra Balinale dalam mempersembahkan esensi sejati kemewahan Bali, keberlanjutan, dan keramahtamahan budaya," ungkapnya.
Menyoroti dampak ekonomi yang lebih luas, Trisno Nugroho, Pakar Ekonomi dan Pariwisata, menyampaikan peran film dalam menggerakkan ekonomi kreatif di Bali. "Festival dan produk film menjadi jembatan penting untuk mempromosikan destinasi wisata dan menghidupkan industri kreatif secara keseluruhan. Balinale adalah contoh nyata film dapat menggerakkan vitalitas ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan membuka peluang baru, khususnya untuk Bali," sebut Trisno.
Rencananya, Balinale ini menyajikan rangkaian program berupa film fiksi, dokumenter,dan film penjang serta pendek dari Indonesia maupun berbagai belahan dunia. Sebelumnya, Balinale di 2024 memutar 60 film dari 25 negara, dengan 41 penayangan perdana serta partisipasi dari ratusan sineas, tokoh perfilman, dan profesional industri, yang mendatangkan lebih dari 5.600 pengunjung.
Festival ini diakui oleh para profesional industri karena forumnya dan para sineas berkolaborasi dan berbagi, membentuk afiliasi yang menciptakan program yang mendorong pertukaran budaya, dan mendukung pengembangan masyarakat yang menginspirasi generasi kreatif berikutnya.
Melanjutkan tradisinya, Balinale 2025 akan menampilkan program dinamis yang mencakup film-film dari Indonesia dan internasional, forum industri, serta acara budaya berbasis komunitas. Hingga saat ini Balinale mencatat sudah ada 1.500 film yang mendaftarkan diri dari 35 negara untuk dikurasi dan diumumkan pada 10 Mei 2025.“Kurang lebih mungkin 60 film, ada seperti film pendek dan dokumenter yang dipilih berdasarkan bagaimana alurnya, ceritanya, detailnya, pesannya, dan gaungnya untuk banyak orang,” ujar Deborah menjabarkan. (*)