Sarihusada Generasi Mahardhika: Meracik Nutrisi, Membangun Proteksi

Yudhi Aditya Putra, SHENC Manager East Factory Danone SN Indonesia, Sarihusada Generasi Mahardhika (Foto: Ihsan/MIX)
Yudhi Aditya Putra, SHENC Manager East Factory Danone SN Indonesia, Sarihusada Generasi Mahardhika (Foto: Ihsan/MIX)

Dalam dunia industri yang terus berkembang, tantangan dalam menerapkan Health, Safety, and Environment (HSE) semakin kompleks. Teknologi baru yang bermunculan dan regulasi yang diperbarui secara berkala menuntut perusahaan beradaptasi dengan cepat untuk memastikan lingkungan kerja yang terproteksi dengan baik sehingga menciptakan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.

Ini pula yang dirasakan Sarihusada Generasi Mahardhika, perusahaan yang memproduksi beragam produk nutrisi untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak dengan merek terkenalnya: susu SGM.

“Teknologi terus berkembang, membawa inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja. Namun, hal ini juga memerlukan adaptasi cepat dari karyawan untuk memahami dan menerapkannya dengan benar,” kata Yudhi Aditya Putra, SHENC Manager East Factory Danone SN Indonesia, Sarihusada Generasi Mahardhika. Sebagai informasi, Sarihusada adalah bagian dari Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia, diakuisisi pada tahun 2008.

Karena dinamika itu, Sarihusada terus meningkatkan kompetensi karyawan melalui pelatihan dan benchmarking agar tetap sesuai dengan standar HSE. Lebih dari sekadar regulasi, HSE menjadi bagian dari budaya perusahaan.

“Kami mendorong partisipasi aktif karyawan dalam kegiatan HSE dan memastikan nilai-nilai ini diadopsi di setiap lini operasional,” kata Yudhi. Program pelatihan berkelanjutan dijalankan untuk memastikan pemahaman yang kuat terkait keselamatan kerja.

Untuk memastikan efektivitas program HSE, perusahaan menggunakan indikator kinerja utama (KPI) yang terbagi menjadi dua jenis: leading indicator dan lagging indicator. Leading indicator mencakup Health Safety Excellent Score, Safety Action Plan Progress, Observation Reporting, serta jumlah perbaikan yang dilakukan.

Adapun lagging indicator meliputi pencapaian nol kecelakaan kerja (zero incident), nol gangguan kesehatan akibat kerja, dan skor budaya keselamatan. Dengan kombinasi indikator ini, perusahaan dapat mengukur efektivitas penerapan HSE secara menyeluruh.

Selain mengukur efektivitas, Sarihusada juga memastikan keterlibatan aktif karyawan dalam program HSE. Mereka memiliki berbagai mekanisme untuk meningkatkan partisipasi, seperti Suggestion System, Problem Solving Group, dan Small Group Improvement Activity. Bahkan, perusahaan memberikan penghargaan kepada karyawan yang berkontribusi besar dalam menciptakan budaya keselamatan melalui ajang Safety Heroes.

Kemudian, Sarihusada memastikan informasi terkait HSE dikomunikasikan secara luas kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelanggan dan masyarakat. Melalui program Beyond The Gate, perusahaan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.

Sementara itu, para pemasok, vendor, dan kontraktor diberi pemahaman mendalam melalui Contractor Gathering, yang membahas standar HSE yang harus mereka patuhi. Bahkan, bagi pengunjung, perusahaan menyediakan induksi keselamatan sebelum mereka memasuki area operasional.

Komitmen terhadap keselamatan juga tecermin pada program pelatihan HSE yang dijalankan perusahaan. Setiap karyawan wajib mengikuti pelatihan dasar, seperti Safety Culture dan Basic Safety Rule yang diadakan setiap tahun. Pelatihan ini memastikan semua karyawan memiliki pemahaman kuat tentang budaya keselamatan dan aturan dasar yang harus dipatuhi.

Namun, penerapan HSE yang efektif tidak berhenti pada pelatihan semata. Evaluasi dan peningkatan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam strategi perusahaan. Setiap bulan, manajemen dan karyawan mengadakan HSE Meeting untuk meninjau kinerja keselamatan kerja dan mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.

Selain itu, perusahaan menjalani berbagai audit, termasuk audit ISO 14001, ISO 45001, dan SMK3. Ini untuk memastikan sistem manajemen HSE selalu sesuai dengan standar internasional dan praktik terbaik di industri.

Di sisi inovasi, Sarihusada mengadopsi berbagai sistem digital untuk meningkatkan efektivitas penerapan HSE. Salah satu inovasi yang diterapkan ialah Basic Fundamental Digital System (BFDS), yang memungkinkan karyawan melaporkan unsafe act, unsafe condition, serta insiden secara cepat dan akurat. Dengan sistem ini, perusahaan dapat segera mengambil tindakan perbaikan untuk mengurangi potensi risiko di tempat kerja.

Selain BFDS, perusahaan juga menggunakan Inspex, aplikasi yang digunakan untuk memantau seluruh sarana dan prasarana keselamatan. Aplikasi ini memastikan bahwa semua fasilitas keselamatan dalam kondisi optimal.

Sementara itu, eCompliance membantu memonitor lisensi operasional, baik untuk karyawan, mesin, maupun pabrik secara keseluruhan. “Dengan eCompliance, perusahaan dapat memastikan bahwa semua aspek operasional sesuai dengan standar yang berlaku,” ungkap Yudhi.

Digitalisasi dalam penerapan HSE membawa dampak positif yang signifikan bagi Sarihusada. Dengan sistem BFDS, perusahaan dapat dengan cepat menindaklanjuti laporan kondisi tidak aman di tempat kerja.

Selain itu, data dari BFDS memungkinkan perusahaan mengidentifikasi pola perilaku yang berpotensi membahayakan, sehingga langkah-langkah pencegahan dapat segera diambil. “Kami bisa melihat kecenderungan perilaku karyawan dan menyusun action plan untuk memastikan mereka berperilaku lebih aman,” kata Yudhi.

Salah satu hasil nyata dari transformasi digital ini ialah peningkatan kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja. Dengan adanya Inspex , perusahaan dapat memantau dan memastikan kesiapan seluruh sarana dan prasarana keselamatan, seperti alat pemadam kebakaran dan jalur evakuasi. Sementara itu, sistem eCompliance membantu perusahaan menjaga kepatuhan terhadap regulasi dengan memastikan semua lisensi dan izin operasional selalu diperbarui.

Lebih jauh lagi, penerapan HSE yang sistematis dan berbasis teknologi ini tidak hanya meningkatkan keselamatan karyawan, tetapi juga berdampak positif pada reputasi perusahaan. Dalam industri makanan dan minuman, kepatuhan terhadap standar kesehatan dan keselamatan merupakan faktor krusial yang memengaruhi kepercayaan pelanggan.

Dengan pendekatan yang proaktif dalam menerapkan HSE, Sarihusada tidak hanya melindungi karyawan, tapi juga memperkuat posisinya sebagai perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Ke depan, Sarihusada berkomitmen terus mengembangkan inovasi dalam sistem HSE-nya. Perusahaan akan memperluas penggunaan teknologi digital dan meningkatkan keterlibatan karyawan dalam menciptakan budaya keselamatan yang lebih kuat. Maklum, keselamatan kerja bukan hanya tentang kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga bagaimana perusahaan membangun kebiasaan yang positif di lingkungan kerja.

Dengan pendekatan yang holistik, perusahaan berupaya menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, dan produktif bagi seluruh karyawan. (*)

# Tag