Industri Manufaktur Indonesia Masuk Fase Tak Baik-Baik Saja
Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April 2025 berada di level 46,7 atau bertengger di fase kontraksi (di bawah poin 50), sesuai hasil laporan S&P Global.
Perlambatan PMI Manufaktur Indonesia pada April 2025 sejalan dengan hasil Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2025 yang tercatat di level 51,90. Meskipun masih di dalam fase ekspansi, namun lajunya mengalami perlambatan dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 52,98 atau menurun sebesar 1,08 poin. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai IKI April 2025 juga mengalami koreksi sebesar 0,40 poin.
"Kami memiliki komitmen kuat dan kosisten untuk ikut menciptakan suasana optimisme bagi pelaku usaha di Indonesia, namun perlunya dukungan penuh dari stakeholders terkait terutama dari K/L lain penentu kebijakan yang menentukan nasib industri," ucap Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief dalam siaran pers, Jumat (2/5/2025).
Dari sisi struktur produksi, sekitar 20% produk industri nasional dialokasikan untuk pasar ekspor. Sementara 80% lainnya diserap oleh pasar domestik yang mencakup belanja pemerintah, swasta, dan rumah tangga.
Febri menambahkan, penurunan PMI manufaktur Indonesia paling dalam dibandingkan negara-negara peers. Di ASEAN misalnya, PMI manufaktur Filipina masih berada di fase ekspansif, karena kebijakan tarif Trump tidak terlalu memberatkan bagi mereka dibandingkan negara-negara lain. Selain itu, kebijakan perlindungan pasar dalam negeri di Filipina cukup afirmatif.(*)