Limbah Ternak Sapi & Ampas Sagu Siswa Merauke Curi Perhatian Toyota

null
Presdir TMMIN Nandi Julyanto -- ketiga dari kiri (Foto : TMMIN)

Di ujung timur Indonesia, dari sebuah sekolah menengah di Merauke, lahir sebuah gagasan yang tak hanya relevan secara lingkungan, tapi juga sarat nilai ekonomi sirkular.

Sekelompok siswa dari SMAN 3 Merauke menciptakan Brown Block of Life (BBL), inovasi yang memadukan kearifan lokal dan teknologi terbarukan untuk menjawab tantangan besar: limbah peternakan dan industri sagu yang berlimpah namun belum termanfaatkan.

BBL bukan sekadar proyek sekolah. Ia adalah upaya konkret untuk mengolah kotoran sapi dan ampas sagu — dua jenis limbah organik yang umum ditemukan di Papua Selatan — menjadi kompos ramah lingkungan.

Lebih jauh lagi, seluruh proses produksinya memanfaatkan tenaga surya, menjadikannya sebagai model pemupukan yang murah, terbarukan, dan berkelanjutan. Kompos BBL diklaim dapat menutrisi tanah hingga empat tahun, sekaligus menjadi alternatif pupuk organik yang terjangkau bagi petani dan peternak lokal.

Proyek ini tidak luput dari perhatian. SMAN 3 Merauke terpilih sebagai salah satu finalis ajang Toyota Eco Youth (TEY) ke-13, kompetisi bergengsi tingkat SMA yang tahun ini mengangkat tema dekarbonisasi.

Menariknya, Toyota Indonesia tak hanya mengapresiasi ide tersebut dari kejauhan. Mereka turun langsung ke Merauke, melakukan pendekatan genba, sebuah budaya kunjungan lapangan khas Jepang, untuk memberikan pendampingan kepada tim pelajar dalam menyempurnakan proposal mereka.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, memberikan dukungannya secara penuh. “Proposal Eco Project yang disusun SMAN 3 Merauke menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi memerlukan sinergi semua pihak, termasuk para pelajar sebagai generasi penerus,” ujarnya dalam siaran resminya, Jumat (2/5/2025).

Kepala Sekolah SMAN 3 Merauke, Benedikta Sri Lestari Kelanit, turut menjelaskan potensi yang terkandung dalam proyek ini. Menurutnya, BBL bukan hanya inovasi untuk mengatasi persoalan lingkungan, melainkan juga alat pemberdayaan ekonomi masyarakat. BBL mengolah limbah sagu dan kotoran sapi menjadi kompos yang ramah lingkungan. Lebih menarik lagi, proses produksi BBL memanfaatkan energi matahari untuk menekan biaya.

Dukungan Toyota lewat TEY bukanlah penghargaan semata, melainkan jembatan agar ide-ide segar dari generasi muda bisa berjalan di atas realitas. Dengan bimbingan teknis dan dorongan agar ide menjadi aksi, harapannya proyek seperti BBL bisa direplikasi lebih luas, tidak hanya di Merauke, tapi juga daerah-daerah lain dengan tantangan serupa. (*)

# Tag