Paulus Herry Arianto, Sosok di Balik Kesuksesan Beautiverse Bali

Acara Beautiverse Bali (Ist)
Acara Beautiverse Bali (Ist)

Di pagi yang masih menyisakan jejak embun, angin laut Sanur berhembus lembut menembus kanopi The Meru. Tak ada yang terlalu mencolok dari ballroom yang disulap menjadi tempat pertemuan lintas dunia: kecantikan, kesehatan, dan harapan. Tapi di balik tirai panggung dan riuh booth berhiaskan highlighter dan serum berbasis bahan alam Bali, berdirilah seorang pria dengan sorot mata teduh dan langkah penuh maksud: Paulus Herry Arianto.

Selama tiga hari, dari 2 hingga 4 Mei 2025, Beautiverse bukan sekadar menjadi festival kecantikan pertama di Bali. Ia menjelma jadi panggung sosial. Lebih dari 10.000 orang melintasi ruang-ruang interaktifnya, mulai dari warga lokal, wisatawan asing, hingga pelaku industri kecantikan dari berbagai penjuru Indonesia.

“Beautiverse bukan sekadar pameran,” kata Paulus, suaranya stabil namun penuh energi. “Ini adalah gerakan sosial.”

Di balik keberhasilan Beautiverse sebagai platform business-to-consumer (B2C), terdapat visi yang jauh melampaui panggung-panggung talkshow atau demo perawatan kulit. Paulus menyebut acara ini sebagai “ruang yang menyatukan pegiat kesehatan dan kecantikan.”

Tapi akar dari gagasan itu, seperti banyak cerita yang kuat, tumbuh dari sesuatu yang personal dan emosional. “Embrio Beautiverse lahir dari para perempuan hebat yang ada di kehidupan saya,” tuturnya sambil menatap jauh ke barat, seolah menembus batas waktu.

“Inspirasi terbesar datang dari tiga perempuan luar biasa dalam hidup saya. Ibu mertua saya, Ibu Anastasia Sulistyawati, yang kini berusia 79 tahun namun tetap cantik, pintar, dan penuh semangat. Ibu kandung saya, Ibu Ratna, seorang perempuan penuh kasih. Di usianya yang ke-75, beliau masih sehat dan cantik. Dan ketiga, istri saya, Ariani, super mom dan super wife yang luar biasa dalam membesarkan tiga anak laki-laki sambil memimpin usaha keluarga. Dari mereka, saya belajar bahwa kecantikan adalah kekuatan, bukan sekadar dari penampilan, tapi dari hati, kecerdasan, dan ketulusan.”

Tak mengherankan jika Beautiverse sejak awal digagas sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar bazaar kecantikan. Paulus menyebut dua misi besar di baliknya: pemberdayaan dan ekspansi.

“Fokus kami adalah memberdayakan perempuan dan generasi muda. Kami mengundang brand dan stakeholder untuk kolaborasi lewat program CSR agar kita bisa membangun ekosistem yang saling menguatkan. Tujuannya menciptakan generasi muda unggul dan beautypreneurs yang siap bersaing di pasar global.”

Acara pameran kecantikan Beautiverse Bali (Ist)
Acara pameran kecantikan Beautiverse Bali (Ist)

Ketika malam tiba dan lampu-lampu pameran mulai redup, gema dari panggung utama masih tertinggal di telinga para pengunjung. Tapi bagi Paulus, kerja barulah dimulai. Ia menggarap Beautiverse bukan sebagai event tahunan semata, tetapi sebagai sesuatu yang terus hidup dan berkembang.

“Beautiverse adalah A Cultural Movement, A lifestyle movement, A wellness initiative, A platform for change, A conscious beauty movement,” tegasnya, nyaris seperti sebuah manifestasi.

Lelaki berkacamata ini menolak menyebut Beautiverse sebagai seremonial belaka. Baginya, ini adalah batu pertama dari bangunan yang lebih besar: akademi, pengembangan komunitas, dan panggung global untuk talenta lokal.

Dan mimpi itu tak berhenti di Sanur. “Ke depan, kami bermimpi membawa Beautiverse ke kancah internasional, mulai dari Jakarta, lalu Manila, Hanoi, Kuala Lumpur hingga Beautiverse Seoul. Dan saat kami hadir di luar negeri, kami akan membawa minimal 20% produk Indonesia untuk bersaing di pasar global.”

Sebagai CEO Alpha Seven Creative Event, Paulus tahu benar bahwa panggung dunia tidak datang dari mimpi semata. Ia harus diciptakan. Dan mungkin, seperti dalam banyak kisah sukses lainnya, dunia memang sedang menunggu panggung yang dibangun dengan cinta, keberanian, dan nama-nama perempuan hebat yang membuat seorang pria bernama Paulus Herry Arianto percaya bahwa kecantikan adalah jalan menuju perubahan. (*)

# Tag