Tjiwi Kimia: K3 Menjadi Satu Paket dalam Proses Produksi

Ruwi Hartono, Health and Safety Manager Tjiwi Kimia (Foto: Tjiwi Kimia)
Ruwi Hartono, ; Tjiwi Kimia (Foto: Tjiwi Kimia)

Dalam menjalankan operasional produksi, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. telah mengadopsi beberapa sistem yang berlaku secara global, seperti ISO 9001 dan ISO 14001.

Menurut Ruwi Hartono, Health and Safety Manager Tjiwi Kimia, semua sistem tersebut telah mengakomodasi beberapa bagian yang terkait Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), seperti sistem mutu, lingkungan, dan energi, yang menjadi satu paket dalam proses produksi.

“Sehingga, kalau bicara proses produksi, harus memperhitungkan segala aspek, termasuk K3-nya,” kata Hartono.

Sebagai contoh, jika dalam sistem produksi ada tindakan yang berkaitan dengan penurunan biaya atau peningkatan produksi, akan dievaluasi apa dampaknya terhadap K3. Dia menegaskan, Tjiwi Kimia tidak akan melakukan penurunan biaya dengan mengganti material yang lebih murah tapi berdampak negatif pada pekerja.

Begitu juga dengan peningkatan produksi, perusahaan di bawah Sinar Mas Group ini tidak menoleransi cara-cara yang tak aman. Artinya, setiap kebijakan yang diambil dalam proses produksi, selalu dipertimbangkan aspek kemanannya dengan melibatkan tim safety.

Penyediaan sumber daya manusia (SDM) di Tjiwi Kimia pun mempertimbangkan aspek risiko dari pekerjaannya. Untuk pekerjaan yang risikonya tinggi, tentu diperlukan persyaratan yang lebih ketat bagi karyawan yang ditempatkan di sana. Kemudian, dalam implementasi K3 di lapangan, juga melibatkan partisipasi karyawan.

“Partisipasi dari karyawan ini betul-betul dibuka selebar-lebarnya, baik secara langsung mengajukan keluhan atau usulan ke atasan, supervisor, manajernya, dsb, maupun bisa juga lewat jalur serikat pekerja. Selanjutnya, manajemen akan melakukan perbaikan berdasarkan usulan karyawan,” tutur Hartono.

Di samping itu, perusahaan dengan 5.000 karyawan ini memiliki media, yaitu Near Miss Reporting. Karyawan bisa melaporkan kondisi near miss di lapangan secara online. Kondisi yang tidak aman akibat perilaku temannya pun bisa mereka laporkan secara online. Itu salah satu hal yang dilakukan untuk mendorong keterlibatan karyawan dalam menerapkan K3.

Tjiwi Kimia juga punya forum diskusi kelompok kecil. Di tempat kerja karyawan ada satu grup yang diberi nama Safety and Security Representative. Merekalah yang aktif mengembangkan safety di operasional masing-masing, dan terus mengajak karyawan berdiskusi terkait cara mengelola bahaya dan risiko, serta pengendaliannya. Pembuatan dokumen risiko ini tentunya juga melibatkan karyawan karena mereka yang paling memahami proses kerja di tempatnya.

Jadi, tools-nya ialah satu media online yang bisa diakses oleh semua karyawan, ada barcode yang biasanya mereka scan, yang kemudian dilaporkan untuk menjadi masukan bagi perusahaan. “Kami sebagai tim safety akan memfasilitasi, ke mana improvement yang bisa dilakukan,” ujar Hartono.

Dalam menjalankan program K3, Tjiwi Kimia menyelenggarakan pelatihan Health, Safety, and Environment (HSE). Di antaranya, pelatihan terkait compliance atau pemenuhan regulasi pemerintah, pelatihan untuk meningkatkan kepedulian karyawan terhadap K3, dan pelatihan satu paket Safe System of Work (SOW) yang terdiri dari 11 jenis pelatihan bagi karyawan yang ditempatkan pada pekerjaan yang berisiko tinggi.

Pelatihan SOW ini sifatnya mandatory bagi karyawan yang belum mengikutinya; bagi yang pernah mendapatkan, pelatihan ini sifatnya refreshment.

Di samping itu, Hartono menambahkan, ada pula pelatihan terkait pengenalan alat pelindung diri (APD), kesehatan kerja, HIV dan tuberkulosis di tempat kerja, tekanan darah tinggi, dan keluarga berencana.

Dalam menjalankan program pelatihan yang berhubungan dengan HSE, ada yang melibatkan pihak luar, antara lain Kepolisian, Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja, dan Pusat Kesehatan Masyarakat.

Tjiwi Kimia juga menyelenggarakan pelatihan tanggap darurat, yang dilakukan secara berkala dan terus-menerus setiap tahun. Yakni, pelatihan menghadapi kondisi darurat di tempat kerja, yang disesuaikan dengan kondisi tempat kerja masing-masing.

Berbicara inovasi dalam penerapan K3 di Tjiwi Kimia, Hartono menjelaskan, yang pertama ialah mengotomasi penerapan K3 yang sebelumnya dilakukan secara manual. Contoh, inpeksi alat pemadam kebakaran. Perusahaan ini telah menginstal lebih dari 7.000 alat pemadam kebakaran di lapangan dan sekitar 3.000 hidran.

Dengan adanya otomasi, pengecekan bisa dilakukan secara online, yakni datang ke tempat alat tersebut terpasang, melakukan deteksi, scan barcode, kemudian semuanya sudah bisa masuk ke dalam sistem. Ini bisa mengurangi waktu dan dipastikan mengaktualkan data pelaksanaan di lapangan karena harus scan barcode di lapangan.

Otomasi juga dilakukan untuk mengontrol fire detector, di lahan Tjiwi Kimia seluas 230 hektare. Jadi, fire detector perusahaan di bawah Grup Sinar Mas ini tersebar cukup luas. Dengan otomasi, dibuatkanlah satu posko (pos komando) atau command center, sehingga bisa memonitornya secara online real-time.

Di samping itu, Tjiwi Kimia pun mengolaborasikan fungsi safety dan security. Ini menjadi satu kesatuan paket, bahwa karyawan yang menjalankan fungsi security juga dibekali dengan kemampuan terkait safety secara umum. Sehingga, bila ke lapangan menjalankan fungsi security, mereka langsung bisa melakukan improvement terkait pengecekan safety-nya.

“Jadi, digabungkan dari sisi organisasi safety dan security jadi satu line,” ujar Hartono.

Selanjutnya, ada tim keselamatan dan keamanan di setiap seksi operasional, di bawah manajer operasional. Tim ini merupakan kepanjangan tangan untuk menggerakkan pelaksanaan program keselamatan dan keamanan di lini terkecil. “Itu beberapa inovasi untuk meningkatkan safety performance,” ujarnya.

Dan, yang masih terbilang baru ialah dibentuknya tim manajemen stres. “Mulai tahun lalu kami punya satu tim yang terdiri dari HR (Human Resources), serikat pekerja, dan dari tim HS (Health and Safety) untuk manajemen stres ini,” katanya.

Bagi karyawan yang mempunyai keluhan terkait dengan stres kerja, mereka bisa berkonsultasi. Demikian juga, ketika dilakukan inspeksi di lingkungan kerja, ternyata ada indikasi bahwa di lingkunan kerja tersebut beban stres tinggi, akan dilakukan coaching bersama serikat pekerja, HR, dan manajernya.

Dan, yang tidak kalah penting ialah adanya evaluasi. Evaluasi yang terkait K3 di Tjiwi Kimia, menurut Hartono, dimasukkan dalam key performance indicators (KPI) setiap pimpinan di bagian produksi.

Artinya, di akhir tahun, evaluasi pimpinan tidak hanya berdasarkan kinerja operasional produksi. Kinerja terkait safety juga dimasukkan dalam penilaian. Sehingga diharapkan, ketika mereka memikirkan proses produksi, akan satu paket dengan K3-nya.

Dengan program K3 di Tjiwi Kimia tersebut, yang menggunakan parameter TRR (Total Recordable Rate), yakni jumlah kecelakaan kerja dibagi jam kerja, perkembangannya semakin bagus. “Trennya dari tujuh tahun sudah turun 69 persen,” ujarnya. Kendati sudah mengalami penurunan kecelakaan kerja secara signifikan, dia menegaskan, Tjiwi Kimia akan terus berupaya menurunkan lagi.

Menurut dia, apa yang dilakukan Tjiwi Kimia tersebut mendapatkan apreasiasi dari pihak ketiga yang memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan ini (vendor), seperti kontraktor. Ketika diberi survei sederhana bagaimana masukan mereka terkait safety di Tjiwi Kimia, mereka memberikan gambaran bahwa penerapan K3 di Tjiwi Kimia lebih tertata, lebih terstruktur, dan lebih ketat dalam peraturan safety.

Dan, mereka harus mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Tjiwi Kimia jika ingin mengikuti tender. “Jadi, image Tjiwi Kimia sebagai perusahaan yang lebih tertata, lebih terstruktur, dan lebih ketat dalam hal safety sudah terbentuk,” katanya.

Kini, Tjiwi Kimia sedang berproses untuk masuk ke program SAP. Hartono menjelaskan, semua hal yang terkait dengan izin keamanan kerja harus dilakukan melalui SAP.

Begitu juga halnya dengan manajemen perubahan (management of change) di produksi, prosesnya pun harus lewat SAP, sehingga semuanya akan terkoneksi. Misalnya, tim HRD akan mengubah struktur organisasi, tapi proses manajemen perubahannya belum sesuai dengan SAP, maka perubahan struktur organisasi tersebut tidak bisa dieksekusi.

Contoh lainnya, karyawan di lapangan ingin memodifikasi mesin, tapi management of change-nya belum dijalankan secara SAP, maka part-part mesin tersebut tidak bisa dibeli. “Ini yang sedang kami korelasikan satu paket besar dalam sistem SAP,” ujar Hartono tandas. (*)

# Tag