Kopi, Cokelat, dan Teh: Tiga Babak Kreativitas Wirawan Tjahjadi
Suatu hari di tahun 1993, Wirawan Tjahjadi — yang akrab disapa Wewe — mendapati dirinya harus meninggalkan kehidupan yang telah ia bangun selama 15 tahun di Amerika Serikat. Ia dipanggil pulang ke Bali oleh sang ayah, bukan untuk langsung memimpin, tetapi untuk memahami dari akar: merasakan aroma, menyentuh biji, mencicip rasa.
Sebagai generasi ketiga dari keluarga pengelola Kopi Bali Kupu-Kupu Bola Dunia — sebuah usaha yang sudah berdiri sejak 1935 — Wewe tidak diberi gelar atau jabatan apa pun di awal. Setiap hari selama tiga tahun, ia hanya diminta mencicipi dan mencium aroma kopi yang baru digiling. “Itu berlangsung selama 3 tahun,” kenangnya.
Bukan hanya itu, ia juga ditugaskan berkeliling mengunjungi para petani kopi di berbagai pelosok Bali dan daerah lain di Indonesia. “Bagaimana mau pimpin perusahaan kopi kalau tidak tahu kopi. Itu yang selalu ayah saya tekankan," ujar Wewe mengenang.
Masuk Dark Chocolate
Perlahan tapi pasti, pelajaran tanpa papan tulis itu membentuk insting bisnis dan rasa. Wewe memang tak banyak melakukan pembaruan besar di bisnis keluarga, tapi jiwanya yang muda memilih jalur berbeda: gaya hidup.
Tahun 1999, ia mendirikan Jazz Bar and Grill sebagai titik temu antara kopi dan musik. Lalu, pada 2004, ia membuka Kopi Bali House di kawasan Sanur.
Jika Jazz Bar and Grill kini tinggal kenangan, Kopi Bali House justru tumbuh menjadi ikon. Di sana, tidak hanya tersedia lebih dari 70 jenis kopi dari seluruh dunia hingga kopi luwak, tapi juga tersimpan ratusan lukisan berbahan cat kopi serta patung-patung dari kayu kopi. Sebuah tempat yang memadukan aroma, rasa, dan estetika. Mereka juga menyewakan dan menjual mesin kopi — sebuah layanan tambahan yang mengukuhkan posisinya di ekosistem kopi Bali.
Namun, kisah Wewe tak berhenti di secangkir kopi. Bersama seorang sahabat, ia memulai petualangan baru: cokelat. Ia mengolah cokelat luwak dari biji kakao yang berasal dari Lampung, diproses di Jawa, dan dikemas dalam balutan elegan bergambar luwak. Brand “Chocolate Luwak” pun lahir.
Untuk sebatang cokelat 85% dark chocolate luwak seberat 60 gram, Wewe mematok harga hingga US$30. “Saya memang menyasar pasar premium, seperti kopi luwak. Ceruknya kecil, tapi nilainya luar biasa,” katanya.
Meski hanya dijual di duty free dan dua supermarket di kawasan Kuta dan Nusa Dua, penjualan mencapai 3.000 batang. Hak paten atas proses produksi telah ia kantongi, dan rencana mendirikan pabrik sendiri pun mulai digagas, hingga pandemi Covid-19 datang dan menghentikan langkahnya sementara waktu.
Regenerasi
Pasca pandemi, alih generasi pun dimulai. Dua anak lelakinya mulai dilibatkan. Maxwell Ryder Tjahjadi, si sulung, diberi tanggung jawab mengelola Kopi Bali House.
Sementara itu, Ian Garrett Tjahjadi, sang adik, kini memimpin toko bersejarah warisan kakek buyutnya, Toko Bhineka Jaya, yang berlokasi di kawasan heritage Jalan Gajah Mada, Denpasar.
Langkah tersebut membuka ruang bagi Wewe mengejar passion lamanya. Februari 2025, ia meluncurkan Bali Chocolate, produk cokelat premium dengan lebih dari 50 varian rasa.
Uniknya, kemasan cokelat ini tidak biasa: menyerupai gapura Bali berwarna cerah, lengkap dengan motif bunga dan daun. Di bagian belakang, terdapat kotak kecil bertuliskan ‘Bali Punya Cerita’ yang mengajak wisatawan untuk membawa pulang oleh-oleh yang bukan sekadar manis, tetapi penuh makna.
"Saya memang menyasar wisatawan yang mencari alternatif oleh-oleh. Kemasan Bali Chocolate yang berbentuk gapura sangat menggambarkan keindahan Bali. Begitu juga cerita dibaliknya yang sarat makna," ujar Wewe kepada swa.co.id.
Supermarket Bintang di Seminyak menjadi lokasi perdana peluncuran Bali Chocolate. “Responnya positif. Wisatawan asing banyak yang tertarik. Selain kemasan, varian rasanya yang tidak biasa juga menjadi pilihan,” tambahnya.
Varian tersebut mencakup rasa-rasa seperti dark chocolate, milk, orange, cookies, cappuccino, hingga crispy banana, crispy jackfruit, rocky road, granola, dan strawberry. “Bila sudah lengkap tidak kurang akan ada 50 varian rasa,” ujarnya.
Bagi para penikmat kopi, Wewe juga memperkenalkan varian cokelat khusus: Chocolate Kopi Luwak dan Chocolate Cappuccino Luwak.
Teh Premium
Tak berselang lama, Wewe memperluas lini bisnisnya ke dunia teh premium. Ia menggandeng Tea N Tales, brand teh lokal yang menyajikan paduan teh dengan bunga dan buah pilihan dalam kemasan penuh estetika.
Dua seri telah diperkenalkan: Gourmet Series, yang terdiri dari Cahyaningrum, Lintang, Maitri, Pendet, dan Royal Bloom, serta Signature Series yang menyajikan Kencana Wungu, Rengganis, Srikandi, Sriwedari, dan Sumbadra n Sumbadra.
Seperti produk cokelatnya, teh-teh ini hadir dalam kotak yang dilukis indah dan disertai narasi menyentuh. “Teh Cahyaningrum; terinspirasi dari bahasa sansekerta yang berarti bersinar dan wangi, Cahyaningrum menemani harimu dan lelahmu, dia akan jadi cahaya hingga kamu akan temukan jatidirimu sesungguhnya,” tulis Wewe di salah satu kemasan.
Atau pada Royal Bloom: “Terinspirasi oleh kemegahan dan kejayaan Kerajaan Majapahit yang disinari mentari, dimana kemewahannya bagai bunga teratai yang merekah di bawah langit Palapa.”
Dari kopi, cokelat, hingga teh, jejak Wirawan Tjahjadi tak hanya bicara soal rasa. Ia membangun cerita, menyulam pengalaman, dan menyajikannya dalam bentuk produk yang tak sekadar bisa dibawa pulang, tetapi juga dikenang. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.