Meningkatkan Performa Kerja dan Kesehatan Mental dengan Work-Life Balance & Work-Life Integration
Remote working menjadi tren yang semakin berkembang, terutama sejak pandemi COVID-19 melanda.
Sebenarnya, tren ini telah mulai muncul sebelum pandemi, seiring perubahan pola kerja akibat kemajuan digitalisasi. Namun, pandemi menjadi momentum percepatan yang mengubah cara kita memandang kerja secara lebih fleksibel.
Perubahan ini bahkan mendorong munculnya konsep work-life integration (WLI), yang melengkapi konsep sebelumnya, yakni work-life balance (WLB). Keduanya berkembang sesuai dengan kebutuhan dan pola kerja yang berbeda.
Baik WLB maupun WLI memiliki tantangan tersendiri dalam penerapannya. WLB umumnya lebih sesuai bagi jenis pekerjaan yang menuntut kehadiran fisik di kantor, sementara WLI lebih cocok diterapkan pada pekerjaan yang dapat dilakukan secara remote, baik dari rumah (work from home/WFH) maupun dari mana saja (work from anywhere/WFA).
Tantangan WLB terletak pada bagaimana mengintegrasikan kehidupan pekerjaan dan pribadi tanpa saling mengganggu. Sementara pada WLI, tantangannya adalah risiko multitasking yang berlebihan, yang dapat menyebabkan kelelahan dan burnout.
Untuk menerapkan kedua pendekatan ini secara efektif, pemahaman mendalam mengenai konsep WLB serta karakteristik angkatan kerja di Indonesia menjadi sangat penting.
Di lingkungan kerja, seringkali masih terdengar pernyataan seperti, “Harus profesional, urusan pribadi jangan dibawa ke pekerjaan.” Padahal, otak manusia bersifat holografis: pikiran bisa ‘berkelana’ ke berbagai situasi sehingga pemisahan mutlak antara ranah pribadi dan pekerjaan sulit dilakukan. Yang lebih penting adalah bagaimana mengelola dan mengintegrasikan keduanya secara saling mendukung.
Untuk itu, pemahaman akan konsep WLB dan praktik mindfulness diperlukan agar pikiran dapat terarah sesuai konteks. Selain itu, pemahaman terhadap konsep WLI juga penting, agar individu dapat melakukan switching antarperan secara sehat, bukan multitasking yang justru menimbulkan tekanan dan risiko burnout.
Kehadiran generasi Z di dunia kerja selama 4–5 tahun terakhir turut membawa dinamika baru. Menurut data BPS di 38 provinsi, sekitar 20,31% dari kelompok usia 15–24 tahun termasuk dalam kategori NEET (Not in Employment, Education, and Training), yakni tidak sedang sekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.
Meski demikian, Gen Z diproyeksikan akan menjadi mayoritas angkatan kerja di masa mendatang, bahkan mengambil peran sebagai pemimpin masa depan (future leader).
Uniknya, generasi ini menaruh perhatian besar pada isu kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Oleh karena itu, penting memahami bagaimana karakter mereka berkaitan dengan WLB dan WLI.
Sayangnya, pemahaman umum tentang work-life balance kerap disederhanakan sebagai pengaturan waktu semata. Padahal, konsep ini jauh lebih luas dan merupakan fondasi penting dalam upaya mewujudkan well-being di organisasi.
Sayangnya pula, di banyak organisasi di Indonesia, program WLB masih dipandang sebagai sesuatu yang bersifat tambahan atau bahkan mewah (advanced), alias belum menjadi kebutuhan mendasar.
Work-Life Balance (WLB)
Setiap individu menjalani kehidupan dalam dua ranah utama: pekerjaan dan kehidupan pribadi — yang mencakup keluarga, teman, serta hubungan dengan diri sendiri — yang perlu diseimbangkan.
Work-Life Balance (WLB) adalah kondisi di mana individu mampu menyeimbangkan perannya dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang ditandai dengan minimnya konflik serta terciptanya keharmonisan di kedua ranah tersebut.
Ini berarti individu memiliki kemampuan untuk mengelola berbagai tuntutan peran secara bersamaan. Di tempat kerja, peran dijalankan sesuai dengan job title, sementara dalam kehidupan pribadi peran dijalankan bersama keluarga, teman, dan diri sendiri.
Meskipun peran utama biasanya terfokus pada pekerjaan dan keluarga, keberadaan teman dan perhatian terhadap diri sendiri juga menjadi aspek pendukung penting dalam menjaga keseimbangan hidup.
Faktor yang mempengaruhi WLB adalah karakteristik kepribadian, karakteristik keluarga, karakteristik pekerjaan, dan sikap.
Meski sebagian besar faktor bersifat personal, organisasi juga memiliki peran penting, khususnya dalam merancang karakteristik pekerjaan yang mendukung keseimbangan. Ketika WLB tercapai, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga berdampak positif terhadap produktivitas dan iklim kerja di perusahaan.

Manfaat WLB
WLB memiliki banyak manfaat yang berdampak positif terhadap kualitas individu dan kontribusinya pada perusahaan. Manfaat tersebut antara lain menunjang well-being, menjaga kesehatan mental, meningkatkan kepuasan kerja, menurunkan turnover, meminimalkan konflik antara kehidupan kerja dan pribadi, mengurangi stres kerja dan risiko burnout, serta secara keseluruhan berdampak pada peningkatan produktivitas dan performa kerja.
Apa yang Perlu Diseimbangkan?
Keseimbangan yang ideal mencakup tiga dimensi utama: keseimbangan waktu (time balance), keterlibatan (involvement balance), dan kepuasan (satisfaction balance) dalam menjalani peran di tempat kerja dan di kehidupan pribadi.
1. Time Balance
Keseimbangan ini merujuk pada keseimbangan jumlah waktu yang digunakan untuk bekerja dan bukan bekerja secara seimbang, sesuai kebutuhan tiap orang.
Keseimbangan waktu yang dimiliki setiap orang berbeda-beda. Memiliki keseimbangan waktu berarti seseorang mampu meluangkan waktu untuk kehidupan pribadinya yaitu keluarga yang memiliki porsi waktu besar, berinteraksi dengan teman, dan meluangkan waktu untuk diri sendiri (spa, meditatif, olah raga, dll).
Meskipun porsi waktu terbanyak mungkin terserap oleh pekerjaan dan keluarga, dua peran pendukung (teman atau diri sendiri) lainnya tetap penting untuk dijaga agar keseimbangan hidup tetap utuh.
2. Involvement Balance
Dimensi ini mengacu pada sejauh mana individu secara psikologis dan emosional terlibat dalam pekerjaannya maupun dalam kehidupan pribadinya (keluarga, teman, dan diri sendiri).
Saat bekerja, ia hadir sepenuhnya untuk tugas-tugas profesionalnya; begitu pula saat bersama keluarga, teman, atau menikmati waktu sendiri, ia terlibat secara penuh. Keterlibatan yang seimbang membantu menciptakan kehadiran yang otentik di setiap peran.
3. Satisfaction Balance
Keseimbangan ini berkaitan dengan tingkat kepuasan yang dirasakan individu dalam menjalani perannya, baik di dunia kerja maupun di luar itu.
Kepuasan ini dilihat bagaimana individu terlibat dalam kesehariannya dalam bekerja dan bagaimana kenyamanan individu saat bekerja maupun di kehidupan sehari-harinya. Bukan kepuasan hanya di dunia kerja, namun dengan keluarga, teman dan diri sendiri terabaikan. Begitu pula sebaliknya.
Ketika Kehidupan Pekerjaan dan Pribadi Saling Mengganggu atau Saling Mendukung
Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat bersifat dua arah: saling mengganggu atau saling mendukung. Keduanya berpengaruh signifikan terhadap keseimbangan peran dan kualitas hidup seseorang.
1. Saling Mengganggu (Kehidupan Pekerjaan dan Pribadi)
• Work Interference with Personal Life (WIPL)
Pekerjaan mengganggu kehidupan sehari-hari. Misalnya, waktu yang dihabiskan untuk bekerja menggangu kehidupan pribadi atau terbawa di kehidupan pribadinya. Situasi ini membuat tekanan di tempat kerja dan dapat mempengaruhi kehidupan pribadinya, sehingga peran di luar pekerjaan (keluarga, pertemanan, dan diri sendiri) menjadi terabaikan atau terganggu.
• Personal Life Interference with Work (PLIW)
Aspek ini mengacu pada sejauh mana kehidupan pribadi mengganggu pekerjaan sehari-hari, misalnya ketika seseorang menghadapi masalah keluarga yang berdampak pada menurunnya fokus dan kinerja di tempat kerja.
2. Kehidupan Pekerjaan dan Pribadi Saling Mendukung
• Personal Life Enhancement of Work (PLEW)
Kehidupan pribadi yang sehat bisa menjadi sumber energi positif dalam bekerja. Ketika seseorang merasa bahagia dan didukung oleh keluarga, teman, atau memiliki rutinitas yang memuaskan, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan kenyamanan saat bekerja. Kehidupan pribadi yang stabil dan penuh makna bisa menjadi sumber inspirasi dan kekuatan emosional.
• Work Enhancement of Personal Life (WEPL)
Aspek ini mengacu pada sejauh mana sebuah pekerjaan dapat meningkatkan kualitas hidup individu tersebut seperti soft competency (konsep diri positif, motivasi intrinsik, kepribadian positif/ kekuatan karakter) atau hard competency (knowledge, skills) yang didapat saat bekerja, yang dapat dimanfaatkan atau diterapkan di kehidupan sehari-hari.
Mindfulness sebagai Jembatan dalam Meningkatkan Work-Life Balance
Mindfulness adalah hadir sepenuhnya pada saat ini dengan merasakan tubuh dengan lingkungan terdekat. Mindfulness dapat dipraktikkan dalam meditasi atau dalam aktivitas sehari-hari (mindful living atau mindful aktif). Bagaimana mindfulness dapat berperan pada WLB?
Pada topik kali ini, saya tidak membahas meditasi mindfulness, tetapi membahas mindful living.
Secara sederhana, mindful living dapat digambarkan saat seseorang berada di pantai: menyadari butiran pasir di kaki, merasakan air yang menyentuh kulit, memperhatikan udara yang bergerak, awan yang bergulung, dan sinar matahari yang hangat.
Dalam kondisi tersebut, otak yang holografis dapat terkendali dimana diri berada, here & now. Hal ini akan berdampak positif pada mental yang akan menstimulus hormon-hormon positif dan menjadi fokus.
Contoh praktik mindful living antara lain: mindful walking, mindful driving, dan mindful showering. Melakukan mindful walking di pagi hari, disusul mindful showering, lalu menyetir ke kantor dengan kesadaran penuh, serta berjalan ke kantor sambil hadir secara mental, dapat membantu menjaga batas emosi agar beban dari rumah tidak terbawa ke tempat kerja.
Apabila tidak semua bisa dilakukan, minimal mindful driving dan mindful walking dipraktikkan. Begitu pula ketika pulang ke rumah melakukan hal yang sama, agar dapat menjaga mental tidak membawa hal yang tidak menyeangkan ke rumah.
Work-Life Integration
Hadir sebagai bentuk pengembangan untuk menyatukan batasan-batasan dalam work-life balance, dengan berlandaskan pada aspek kognitif, persepsi, dan emosi yang ada dalam diri individu.
Pola kerja yang memungkinkan aktivitas dilakukan di luar kantor memerlukan pendekatan work-life integration. Misalnya, saat seseorang bekerja dari rumah, ia perlu mengintegrasikan peran sebagai pekerja dengan peran di rumah secara bersamaan.
Kondisi ini membuka peluang terjadinya multitasking, karena individu harus menjalankan berbagai peran dalam waktu yang bersamaan. Jika tidak dikelola dengan baik, situasi tersebut dapat berkembang menjadi rasa kewalahan atau overload. Hal ini berbeda dengan pekerjaan yang dilakukan sepenuhnya di kantor, di mana batas antara peran kerja dan pribadi cenderung lebih jelas.
Multitasking dapat menjadi pemicu kelelahan dalam jangka waktu tertentu dan berisiko menimbulkan burnout. Oleh karena itu, penting untuk mengintegrasikan pekerjaan dan kehidupan pribadi dalam pola WFA/WFH dengan cara mengatur ulang aktivitas berdasarkan waktu yang sesuai, serta memahami bioritme masing-masing agar tetap produktif dan nyaman.
Setiap orang memiliki bioritme yang berbeda. Misalnya, seseorang mungkin memiliki energi optimal antara pukul 08.00 hingga 15.00, kemudian menurun hingga pukul 20.00, dan kembali meningkat hingga pukul 23.00.
Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti analisis atau pengambilan keputusan, dilakukan saat bioritme berada pada titik tertinggi.
Sementara itu pada saat bioritme rendah, dapat dilakukan aktivitas yang tidak memerlukan konsentrasi intens, baik dalam konteks pekerjaan maupun kehidupan pribadi, seperti membaca, membalas email, membersihkan rumah, berjejaring, atau berolahraga.
Dengan menempatkan energi pada aktivitas yang sesuai, individu tetap dapat produktif di berbagai kondisi. Meskipun pola ini mungkin tidak bisa dijalankan secara sempurna, penerapan 70–80% saja sudah cukup membantu menciptakan work-life integration yang sehat dan memudahkan proses switching pekerjaan.
Peran Perusahaan dalam Mewujudkan WLB dan WLI
Perusahaan dapat membuat kebijakan terkait WLB dan WLI, baik secara umum maupun secara khusus pada aspek WLB, yang akan membantu angkatan kerja seperti generasi Z untuk bertahan dan memberikan kontribusi lebih baik.
Penyesuaian dapat dilakukan melalui tata ruang yang sesuai dengan karakter Gen Z, seperti tempat makan yang tidak membentuk kelompok tetap (misalnya 1 meja dengan 4 kursi), tetapi didesain memanjang agar mendorong dialog lintas departemen dan perspektif. Perusahaan juga dapat menyediakan ruang-ruang khusus yang bisa dimanfaatkan untuk aktivitas relaksasi.
Beberapa program juga dapat dikembangkan di tingkat departemen, seperti Happiness Board selama satu bulan, Dialing Up Positivity, Hunt & Gather, Creating Moment of Flow, dan program lainnya yang memperkuat WLB.
Semua ini dapat menjadi pelengkap dari kebijakan jam kerja yang lebih fleksibel. Namun satu hal yang perlu diingat: individu tetap memegang peran penting dalam menerapkan WLB dan WLI. Karena itu, perubahan sebaiknya dimulai dari diri sendiri. (*)
Penulis: Dr. Nurlaila Effendy, M.Si, Ketua Asosiasi Psikologi Positif Indonesia, Konsultan Corporate Culture & Performance Management System, Dosen Psikologi Industri & Organisasi, UKWMS