Brand-brand FMCG Paling Dipilih Konsumen Indonesia 2025: Indomie Masih Juara, Tapi Persaingan Makin Ketat

null
Menurut Venu Madhav, Managing Director Kantar Worldpanel Indonesia (kanan) dan Corina Fajriyani, Senior Marketing Manager Kantar Worldpanel Indonesia (kiri), Brand Footprint membuktikan pertumbuhan yang lebih cepat bisa dicapai jika brand terus memperluas jangkauan ke konsumen baru. (Foto: Darandono/SWA)

Merek-merek yang menghuni peringkat teratas pasar FMCG Indonesia nyaris tak bergeser. Seperti sebuah liga papan atas, para pemain utamanya tetap sama. Namun, di balik kestabilan itu, terjadi persaingan yang semakin ketat dan gerakan diam-diam dari para penantang baru.

Inilah potret pasar FMCG Indonesia versi Brand Footprint 2025, laporan tahunan yang dirilis oleh Kantar Worldpanel Indonesia. Dalam laporan ini, Kantar mengukur brand-brand FMCG yang paling banyak dipilih oleh rumah tangga di Indonesia menggunakan metrik Consumer Reach Point (CRP) — kombinasi dari seberapa banyak rumah tangga membeli dan seberapa sering brand tersebut dibeli.

Menurut Corina Fajriyani, Senior Marketing Manager Kantar Worldpanel Indonesia, komposisi 10 besar tahun ini masih dikuasai merek-merek yang sama seperti tahun lalu, walaupun terjadi pergeseran posisi antar brand.

Dari hasil survey tersebut peringkat 10 teratas dikuasai Indomie, SoKlin, Mie Sedaap, Roma, Royco, Indofood, Kapal Api, Nabati, Masako, dan Daia. Corina menambahkan tahun ini perubahan terjadi pada peringkat 4 (Roma) dan 5 (Royco), peringkat 6 (Indofood) dan 7 (Kapal Api), serta peringkat 9 (Masako) dan 10 (Daia).

“Perubahan hanya berganti posisi saja, tahun ini dibanding tahun lalu, misalnya tahun lalu Roma menduduki peringkat 5, tahun ini masuk peringkat 4, bergantian dengan Royco, dan seterusnya. Sedangkan Indomie, tetap bertengger di peringkat pertama,”kata Corina kepada swa.co.id.

Diakui Corina hal ini membuktikan persaingan di level atas semakin ketat, dan mempertahankan posisi di jajaran atas membutuhkan upaya yang konsisten. Sebab untuk masuk ke dalam 10 besar, sebuah merek harus dipilih oleh konsumen Indonesia setidaknya sebanyak 750 juta kali dalam satu tahun, angka yang menunjukkan betapa kuatnya loyalitas dan jangkauan yang harus dimiliki.

Namun bukan hanya stabilitas yang jadi sorotan tahun ini. Kantar juga memberikan penghargaan “The Remarkable Newcomer” kepada tiga merek lokal yang berhasil menembus 100 besar: Kanzler, Gentle Gen, dan Sayang. Mereka adalah bukti bahwa merek-merek lokal bisa tumbuh cepat dan mulai mengganggu dominasi pemain lama.

Untuk mengukur brand FMCG yang paling banyak dipilih oleh rumah tangga di Indonesia, Kantar Worldpanel Indonesia menggunakan metriks Consumer Reach Point (CRP) — yang menggabungkan penetrasi (jumlah rumah tangga yang membeli) dan frekuensi pembelian. Laporan ini menelusuri bagaimana sebuah brand dapat memperkuat kehadirannya di benak dan di keranjang konsumen.

Venu Madhav, Managing Director Kantar Worldpanel Indonesia menuturkan CRP memberikan gambaran yang lengkap terkait kekuatan sebuah brand di pasar FMCG. Karena itu, memahami bagaimana CRP terbentuk — melalui penetrasi dan frekuensi — adalah kunci bagi para marketer untuk mengambil keputusan yang lebih akurat dalam mengembangkan brand mereka.

Diakui Venu, tahun ini, data menunjukkan bahwa semakin banyak brand berhasil tumbuh dibanding tahun sebelumnya. Sebanyak 62% brand di dalam studi Brand Footprint Indonesia 2025 mengalami peningkatan CRP, jauh lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya mencapai 49%.

Sedangkan dari seluruh brand yang tumbuh, mayoritas — yakni 89% — mendapatkan pertumbuhannya melalui peningkatan penetrasi atau dalam kata lain, bertambahnya jumlah rumah tangga yang membeli brand tersebut. Sebagian kecil lainnya tumbuh karena berhasil mendorong frekuensi pembelian dari konsumen yang sudah ada.

Menurut Venu, Brand Footprint membuktikan bahwa pertumbuhan yang lebih cepat bisa dicapai jika brand terus memperluas jangkauan ke konsumen baru. "Untuk sebagian besar brand, meningkatkan penetrasi adalah strategi yang paling berdampak. Akan tetapi, setelah sebuah brand menjangkau lebih dari 70% rumah tangga — atau masuk kategori Super Brand — fokus bisa dialihkan untuk meningkatkan frekuensi pembelian,” kata Venu.

Kantar Worldpanel juga memperkenalkan klasifikasi baru berdasarkan tingkat penetrasi pasar untuk lebih memahami posisi dan strategi setiap brand:

• Super Brands: >70% penetrasi

• Large Brands: 30%–70% penetrasi

• Medium Brands: 10%–30% penetrasi

• Small Brands: <10% penetrasi

Pengelompokan ini memberikan kerangka kerja strategis yang lebih jelas: bagi brand kecil hingga menengah, fokus utama tetap harus pada peningkatan penetrasi, yakni menjangkau lebih banyak pembeli. Sementara itu, brand dengan penetrasi yang lebih tinggi juga perlu mengoptimalkan frekuensi pembelian agar dapat terus mempertahankan pertumbuhan.

Data ini mengukuhkan satu hal: pertumbuhan tercepat di pasar FMCG Indonesia datang dari kemampuan menjangkau pembeli baru.

Dalam lanskap yang semakin kompetitif, memperluas distribusi, meningkatkan visibilitas, dan membangun preferensi merek di benak konsumen menjadi medan pertempuran utama. Dan bagi para pemain lama maupun pendatang baru, kemenangan tak lagi ditentukan oleh siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling gesit menjangkau yang belum terjangkau. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag