Kutus-Kutus Tetap Eksis di Tengah Konflik Kepemilikan Merek

Kutus-Kutus Tetap Eksis di Tengah Konflik Kepemilikan Merek
Fazli Hasniel Sugiharto (Foto: Silawati/SWA)

Di tengah perseteruan hukum yang memanas terkait kepemilikan merek minyak balur Kutus Kutus, dua nama tampil di permukaan: Servasius Bambang Pranoto, yang akrab disapa Babe, dan Fazli Hasniel Sugiharto atau Arniel, anak sambungnya.

Sengketa antara keduanya kini tengah disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya. Babe memilih langkah sendiri dengan meluncurkan merek baru bernama Sanga Sanga, sementara Arniel bersikukuh melanjutkan perjalanan Kutus-Kutus yang telah digelutinya selama lebih dari satu dekade.

Ditemui di booth Kutus Kutus dalam ajang pameran Beautiverse di The Meru Sanur, Minggu (4/3), Arniel berbicara dengan nada tegas namun tenang, seolah ingin meluruskan narasi yang selama ini beredar.

null
Produk-produk Kutus Kutus (Foto: Silawati/SWA)

"Terserah Papa mau bercerita apa. Sejak awal, di tahun 2012, di balik nama Kutus Kutus ada sosok Lilies Susanti Handayani, ibu kandung saya, yang tak hanya memberi semangat, tetapi juga membantu menyempurnakan racikan minyak dengan sentuhan kasih sayang, meramu 69 jenis tanaman herbal dan rempah-rempah menjadi formula yang berpijak pada harmoni alam dan cinta keluarga," ungkapnya.

Baginya, Kutus Kutus bukan sekadar bisnis, melainkan perjalanan spiritual dan emosional yang berakar dari rumah sederhana di Gianyar. "Kutus Kutus hadir bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan dari kepedulian tulus terhadap kesehatan orang-orang terdekat. Filosofi penyembuhan alami yang beliau tanamkan menjadi fondasi kuat bagi seluruh keluarga," ujar Arniel.

Produk ini tumbuh dari dapur keluarga menjadi nama yang dipercaya masyarakat luas sebagai solusi alternatif dalam menjaga kesehatan. Namun, dinamika keluarga mengubah arah hidupnya. Saat Lilies Susanti wafat pada 2021, kehidupan Arniel pun terguncang.

"Hanya berselang 3 hari setelah kematian Ibu, saya dipaksa keluar," ucapnya pelan, sambil memandangi foto sang ibu yang dipajang di sekeliling booth. Dalam foto itu, Lilies terlihat membalur kaki tamu dengan penuh kasih sayang — sebuah momen yang terus hidup dalam kenangan Arniel.

Sebagai ayah satu anak kelahiran 1992, Arniel mengaku sempat merasa kehilangan arah. "Saya merasa dikhianati keluarga, ditinggal sendirian. Saat itu saya hanya berpikir bagaimana hidup bisa berlanjut, bagaimana saya bisa bertanggung jawab terhadap keluarga kecil saya."

Namun di balik luka, ia mengaku menemukan kekuatan. Nilai-nilai yang diwariskan sang ibu — ketulusan, ketekunan, dan dedikasi — membentuk fondasi untuk melangkah kembali.

"Saya hanya mempertahankan apa yang memang harus saya pertahankan. Secara hukum saya pemegang sah brand Kutus Kutus sejak 2014. Kenapa baru sekarang diributkan?"

Bagi Arniel, Kutus Kutus adalah simbol cinta yang melampaui waktu. Ia adalah representasi dari perjuangan keluarga menjaga warisan yang diyakini memiliki manfaat nyata bagi banyak orang.

"Kutus Kutus menurut saya kini bukan sekadar minyak balur herbal. Ia adalah simbol cinta seorang ibu yang melampaui ruang dan waktu, serta cerminan ketekunan keluarga dalam menjaga apa yang ditanamkan dengan tulus."

Ia menegaskan komitmennya untuk menjaga Kutus Kutus tetap otentik dan bebas dari campur tangan luar. "Saya tidak akan membuka ruang bagi campur tangan pihak luar. Saya akan terus menjaga Kutus Kutus dengan komitmen terhadap integritas, kualitas, dan filosofi yang telah diwariskan."

Di Gianyar, ia kembali memulai dari awal. Meracik 69 bahan alami dalam panci-panci besar secara tradisional, sebagaimana yang diajarkan ibunya. "Saya ingin membuktikan sesuatu yang diracik dengan cinta dan keyakinan dapat tumbuh menjadi warisan yang hidup dan memberi manfaat luas."

Inovasi pun dijalankan tanpa mengorbankan prinsip dasar. Minyak olahannya kini dikemas dalam botol food grade yang bisa didaur ulang. Dan meski sempat terusik konflik, jaringan distribusinya tetap solid. "80% reseller lama memilih bergabung dengan saya," ujarnya mantap.

Bagi Arniel, mempertahankan Kutus Kutus bukan sekadar membela hak hukum atau pasar, melainkan menjaga ruh dari apa yang telah dimulai bersama sang ibu.

"Kutus Kutus menurut saya akan terus berkembang, namun tak pernah melupakan akar dan sosok yang menanamkannya. Sebab dari sentuhan Ibu Lilies Susanti Handayani, dan komitmen keluarganya, lahirlah sebuah warisan yang tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga menginspirasi, penuh kehangatan dan cinta." (*)

# Tag