Ambidextrous Leadership: Menavigasi Inovasi dan Efisiensi secara Seimbang
Ketidakmampuan untuk berinovasi merupakan risiko serius bagi setiap bisnis. Ini bukan sekadar soal kehilangan daya saing, tetapi juga dapat mengancam keberlanjutan perusahaan.
Bisnis yang gagal atau terlambat berinovasi rentan mengalami stagnasi, kehilangan relevansi di pasar, dan bahkan berujung pada kebangkrutan. Sebaliknya, perusahaan yang terus berinovasi memiliki peluang besar untuk unggul dalam persaingan. Di sinilah peran kepemimpinan menjadi sangat penting dalam menumbuhkan budaya inovasi di dalam organisasi.
Dalam dunia Artificial Intelligence (AI), ChatGPT sempat menikmati dominasi pasar. Namun, kehadiran DeepSeek — yang awalnya dianggap sebagai underdog — kini menjelma bak David yang menantang Goliath, memberikan persaingan ketat yang menggoyahkan dominasi ChatGPT.
Keberhasilan DeepSeek tidak hadir secara instan. Ketika Amerika Serikat membatasi ekspor chip canggih ke China, para pengembang AI di negeri tirai bambu itu terpaksa mencari solusi alternatif. Mereka mulai berkolaborasi lebih erat, berbagi sumber daya, dan bereksperimen dengan pendekatan baru. Hasilnya, lahirlah model AI yang lebih efisien, membutuhkan daya komputasi lebih rendah, serta lebih murah dalam pembuatannya.
Inovasi ini tidak hanya memungkinkan DeepSeek untuk bersaing, tetapi juga berpotensi mengubah lanskap industri AI secara menyeluruh. Dengan biaya yang lebih rendah dan efisiensi yang lebih tinggi, DeepSeek menjadi ancaman nyata bagi dominasi ChatGPT.
Dalam sebuah sesi wawancara, pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa "China should stop relying on others' achievements and, in line with its economic growth, gradually switch its role to becoming a contributor to innovations." Ia menekankan pentingnya peralihan peran, dari mengandalkan pencapaian pihak lain menjadi kontributor utama dalam berinovasi.
Faktor Kepemimpinan
Pada tahun 2023, Deloitte menyelenggarakan survei untuk menangkap persepsi dunia bisnis terhadap inovasi. Meskipun dilakukan di Yunani, temuan dalam survei berjudul Innovation Survey: Elevating the Pivotal Role of Innovation within the Greek Business Community ini tetap relevan sebagai rujukan global.
Salah satu temuan menarik adalah bahwa, selain faktor eksternal, inovasi dalam lingkungan internal memainkan peran krusial dalam mendukung keberhasilan dan keberlanjutan perusahaan. Faktor ini menjadi kunci bagi perbaikan berkelanjutan, pemupukan kreativitas, serta upaya mempertahankan keunggulan kompetitif.
Mayoritas responden sepakat bahwa pemantauan tren dan teknologi baru (62%), dukungan kepemimpinan (60%), perancangan strategi inovasi (55%), serta pengelolaan budaya (55%) adalah elemen terpenting dalam mengejar inovasi. Fakta bahwa kepemimpinan memiliki pengaruh sebesar 60% menegaskan pentingnya peran pemimpin dalam mendorong perubahan dan merancang strategi inovasi yang solid.
Dalam lanskap bisnis yang semakin dinamis, pemimpin tidak hanya dituntut menjaga keberlangsungan operasional (survive), tetapi juga mendorong pertumbuhan (grow). Untuk itu, dibutuhkan gaya kepemimpinan yang mampu menjaga stabilitas sekaligus menumbuhkan inovasi.
Ambidextrous Leadership
Studi oleh Kathrin Rosing, Michael Frese, dan Andreas Bausch dalam Explaining the Heterogeneity of the Leadership-Innovation Relationship: Ambidextrous Leadership menunjukkan bahwa berbagai gaya kepemimpinan — transformasional, transaksional, dan kemitraan — memiliki perannya masing-masing. Namun, kepemimpinan ambidextrous terbukti paling efektif dalam mendorong inovasi.
Hal ini karena ambidextrous leadership mampu menyeimbangkan dua aspek penting: eksplorasi ide-ide baru (exploration) dan optimalisasi sumber daya yang ada (exploitation). Dengan keseimbangan ini, pemimpin dapat menciptakan ekosistem inovasi berkelanjutan: tanggap terhadap perubahan sekaligus mampu memperkuat keunggulan jangka panjang.
Salah satu contoh keberhasilan model ini adalah Astra International. Perusahaan multinasional ini mampu menjaga posisi terdepan di berbagai sektor — otomotif, infrastruktur, hingga layanan keuangan — dengan terus berinovasi sekaligus menjaga efisiensi operasional.
Komitmen Astra terhadap inovasi diwujudkan dalam program InnovAstra yang telah berjalan sejak 1982. Pada tahun 2023 saja, terdapat lebih dari 1,3 juta proyek inovasi yang diajukan oleh karyawan Astra di berbagai lini bisnis. Program ini mencakup kategori seperti Quality Control Circle (QCC), Business Performance Improvement (BPI), dan Value Chain Innovation (VCI) — semuanya dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan menyelesaikan tantangan bisnis secara inovatif.
Sebagai penutup, dalam dunia yang terus berubah, pemimpin tidak cukup hanya menjadi penjaga stabilitas. Mereka juga harus menjadi agen perubahan. Kepemimpinan ambidextrous menawarkan pendekatan yang relevan: bukan memilih antara eksploitasi atau eksplorasi, melainkan menggabungkan keduanya dengan cerdas. (*)
Penulis: Kun Wahyu Wardana, Komisaris PT Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah dan penulis buku Beyond Average