Rp158 Triliun dan Terus Tumbuh: Potensi Ekonomi Kosmetik Indonesia Menanti Digali

Rp158 Triliun dan Terus Tumbuh: Potensi Ekonomi Kosmetik Indonesia Menanti Digali
Taruna Ikrar, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam sambutannya di acara Indonesia Cosmetic Ingredient 2025 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta. Foto: Syifa/SWA

Tanah Indonesia yang kaya dan subur menyimpan ribuan potensi tersembunyi, termasuk untuk industri kosmetik. Dengan lebih dari 30 ribu spesies tumbuhan yang hidup di dalamnya, negeri ini sebetulnya memiliki peluang besar untuk menjadi pemasok bahan baku kosmetik alami, bukan hanya untuk kebutuhan domestik, tetapi juga untuk pasar global.

Taruna Ikrar, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), menyampaikan bahwa potensi ini harus dioptimalkan melalui penguatan inovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta hilirisasi bahan baku lokal.

“Jadi kosmetik itu sangat penting dibutuhkan dan punya nilai ekonomi yang sangat besar. Nilai ekonomi yang kita hitungkan baru sekitar Rp158 triliun setiap tahun, tapi itu bisa tumbuh berkembang lebih besar lagi,” tuturnya saat ditemui awak media dalam acara Indonesia Cosmetic Ingredient 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (14/5/2025).

Untuk itu, BPOM akan memberi rambu-rambu regulasi yang memungkinkan industri kosmetik dalam negeri mengembangkan dan mematenkan bahan baku lokal. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi industri dalam negeri melalui hak kekayaan intelektual, sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar ekspor.

Taruna menegaskan, BPOM tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan pelaku industri lokal, menjadi kunci dalam mendorong hilirisasi bahan baku lokal.

Salah satu contoh konkret adalah kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam meneliti potensi cangkang telur ayam khas Indonesia sebagai bahan kosmetik.

Dari hasil penelitian, cangkang telur tersebut mengandung kolagen dan asam amino spesifik yang bernilai tinggi untuk formulasi produk perawatan kulit. Bahan ini kini mulai didaftarkan dalam basis data BPOM sebagai bahan baku kosmetik lokal — langkah awal menuju kemandirian industri dalam memanfaatkan kekayaan alam sendiri.

Hilirisasi yang dimaksud bukan sekadar proses produksi, tetapi juga pengakuan resmi terhadap bahan baku lokal sebagai produk unggulan Indonesia. Dengan begitu, produk-produk berbasis kekayaan hayati dalam negeri akan memiliki identitas dan nilai jual yang lebih tinggi, baik di pasar lokal maupun global.

"Target ke depannya juga, kita memproduksi bukan hanya untuk kepentingan di dalam negeri saja. Kita berharap bisa ekspor, menjadi kosmetik yang merajai dunia," pungkas Taruna.

Lewat pendekatan ini, BPOM tidak hanya mengatur, tapi juga menjadi motor penggerak. Mendorong industri kosmetik lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sekaligus menyiapkan jalan menuju panggung global melalui bahan baku yang tumbuh dan hidup di tanah Indonesia sendiri. (*)

# Tag