Indri Nova Lestari: Berhenti dari Perbankan, Sukses di Bisnis Pisang Big Bananas
Indri Nova Lestari tak pernah membayangkan bahwa keputusan meninggalkan dunia perbankan akan membawanya pada dunia baru yang penuh kejutan. Setelah tujuh tahun berkarier di sektor keuangan, ia memutuskan berhenti pada 2016 demi alasan sederhana: ingin dekat dengan anak. Keinginan itulah yang kemudian membawanya membangun Big Bananass, sebuah usaha camilan ringan berbahan dasar pisang di kota Makassar.
Inspirasi bisnisnya datang dari tren yang tengah naik daun saat itu, yakni keripik pisang. Banyak anak muda menyukai camilan ini, dan Indri melihat peluang besar di balik kegemaran tersebut.
Selain menjanjikan pasar, bisnis ini bisa dijalankan dari rumah. Sebuah solusi sempurna bagi Indri yang ingin tetap produktif tanpa harus jauh dari buah hatinya.
Awalnya, Big Bananass hanya sekadar “proyek iseng” berbekal modal Rp500 ribu. Tapi siapa sangka, bisnis rumahan itu tumbuh menjadi jaringan retail yang mengesankan. Kini, Big Bananass telah memiliki 15 toko offline yang tersebar di berbagai wilayah Makassar. Tantangan terbesar, menurut Indri, justru ada di strategi pemasaran. “Awal-awal (jualan) kita pakai endorse. Jadi itu cukup membantu,” katanya.
Lebih dari sekadar bisnis, Big Bananass menjadi wadah pemberdayaan. Indri menggandeng ibu-ibu rumah tangga berusia 40–50 tahun di sekitarnya untuk ikut terlibat dalam proses produksi. Langkah ini tak hanya menghidupkan dapur, tetapi juga membuka pintu penghasilan tambahan bagi banyak keluarga.
Komitmen terhadap kualitas juga menjadi prinsip utama Big Bananass. Semua bahan baku yang digunakan berasal dari Makassar. Setiap hari, sekitar 200–300 sisir pisang kepok diolah menjadi 500 kemasan keripik siap jual. Dari dapur kecilnya, Indri menjaga rantai pasok lokal tetap berputar.
Namun, seiring dengan era digital yang semakin kompetitif, Indri menyadari pentingnya beradaptasi. Ia terus berinovasi, baik dari sisi produk maupun kanal distribusi.
“Kami menghadirkan menu baru untuk menggaet minat pembeli, misalnya menu pisang nugget yang diberi berbagai topping hingga keripik pisang dibalut cokelat dan tiramisu,” jelasnya.
Selain memperkaya varian produk, Big Bananass juga memanfaatkan kanal penjualan digital, mulai dari TikTok hingga e-commerce. “Kami juga menjajal platform e-commerce seperti TikTok Shop by Tokopedia, serta memanfaatkan TikTok untuk menghasilkan konten video promosi, baik short video maupun live streaming,” lanjut Indri.
Hasilnya luar biasa. Berkat strategi live streaming dan kolaborasi dengan kreator TikTok, penjualan Big Bananass melonjak signifikan. “Bahkan TikTok Shop by Tokopedia menyumbang 90% dari keseluruhan penjualan online dengan rata-rata ribuan pesanan per bulan,” ungkapnya.
Melihat respons pasar yang kian positif, Big Bananass kini hadir juga di Tokopedia melalui fitur integrated seller center. “Dengan sekarang hadir juga di Tokopedia, mudah-mudahan Big Bananass bisa lebih maju lagi,” tutup Indri optimistis.
Pertumbuhan bisnis Big Bananass seolah menjadi cerminan geliat industri makanan dan minuman Indonesia yang terus bertumbuh. Data pemerintah mencatat, industri makanan dan minuman olahan tumbuh 5,53% pada kuartal II 2024, dengan kontribusi 6,97% terhadap PDB di kuartal I 2024.
Di tengah angka-angka itu, Big Bananass hadir sebagai bukti nyata bahwa bisnis dari rumah pun bisa menjangkau pasar yang luas, asal dijalani dengan hati dan strategi yang tepat. (*)