BPD Bali: Transformasi Digital Tak Hanya untuk Kepentingan Bisnis, tapi Juga untuk Ekonomi Daerah

I Nyoman Sudharma, Direktur Utama Bank BPD Bali (Foto: Pribadi)
I Nyoman Sudharma, Direktur Utama Bank BPD Bali (Foto: Pribadi)

Transformasi digital menjadi kebutuhan strategis bagi perbankan daerah di era yang semakin kompetitif dan dinamis saat ini. Perbankan nasional dan financial technology (fintech) yang terus memperluas jangkauan layanan mereka ke daerah menuntut perbankan daerah untuk meningkatkan daya saing. Salah satunya, dengan adopsi teknologi yang mendukung efisiensi operasional dan inovasi produk.

Sebagai penggerak ekonomi lokal, Bank Pembangunan Daerah (BPD), menurut I Nyoman Sudharma, Direktur Utama Bank BPD Bali, memiliki peran penting dalam meningkatkan inklusi keuangan, sehinga harus melakukan transformasi digital. Digitalisasi memungkinkan perbankan daerah menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama di daerah terpencil, dengan biaya operasional yang lebih rendah.

Pemerintah, kata Sudharma, juga mendorong perbankan untuk mendukung transformasi ekonomi digital melalui berbagai inisiatif. Di antaranya, percepatan layanan nontunai dan interoperabilitas sistem pembayaran, yang menjadi pendorong agar perbankan daerah segera beradaptasi.

Transformasi digital di Bank BPD Bali, Sudharma mengungkapkan, bertujuan agar bank ini menjadi agile menghadapi perubahan; mendorong pertumbuhan bisnis, khususnya kredit; serta mengoptimalkan sumber daya manusia dan inovasi teknologi.

Bank BPD Bali menerapkan produk digital dan elektronik yang meliputi: mobile banking, internet banking, internet banking bisnis/koperasi, laku pandai, automatic teller machine (ATM), cash recycling machine (CRM), dan produk ekosistem digital lainnya untuk mendukung digitalisasi serta elektronifikasi pendapatan dan penerimaan Provinsi Bali beserta kabupaten/kota se-Bali.

Dalam melaksanakan transformasi digital, menurut Sudharma, Bank BPD Bali tidak hanya berfokus pada kepentingan dan kebutuhan bisnis, tetapi juga pada konstribusi terhadap pembangunan ekonomi daerah. Beberapa di antaranya, pertama, meningkatkan inklusi keuangan di Bali dengan memperluas akses pembiayaan UMKM melalui proses digital serta mengenalkan sistem pembayaran digital kepada UMKM.

Kedua, meningkatkan efisiensi dalam tata kelola keuangan daerah dengan menggunakan teknologi, sehingga tidak hanya meningkatkan pendapatan asli daerah, tapi juga dapat memonitor pengelolaan anggaran daerah.

Ketiga, mendorong percepatan digitalisasi ekonomi daerah dengan pembangunan infrastruktur keuangan yang lebih baik serta ekosistem ekonomi yang terintegrasi, dengan mengikutsertakan UMKM untuk dapat berperan dalam proses digitalisasi ekonomi daerah.

Keempat, memperluas jaringan nasabah dan meningkatkan pengalaman pelanggan dengan mengenalkan layanan digital yang mudah digunakan dan terintegrasi. “Sehingga, perluasan implementasi layanan digital tersebut dapat menjangkau masyarakat yang belum mendapat pelayanan Bank BPD Bali (unbankable maupun underbankable), yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” Sudharma menjelaskan.

Kelima, memperkuat daya saing dalam industri keuangan dengan menggunakan layanan digital, sembari menggunakan inovasi tersebut untuk mendiversifikasi sumber pendapatan Bank BPD Bali.

Dan, keenam, mengefisienkan aktivitas operasional, baik dalam aktivasi internal maupun eksternal, yang melibatkan nasabah.

Menghadapi tantangan di era digital, Sudharma menjelaskan, Bank BPD Bali mengutamakan infrastruktur TI. Baginya, infrastruktur yang kuat tidak hanya mendukung operasional bisnis yang efisien, tapi juga menjadi fondasi untuk memberikan layanan yang aman dan andal bagi nasabah.

“Dengan transformasi digital, volume transaksi dan data yang dikelola Bank BPD Bali akan meningkat signifikan,” ungkapnya. Maka, peningkatan infrastruktur TI, seperti server berkapasitas tinggi dan penggunaan teknologi berbasis cloud, memungkinkan operasional perusahaan yang lebih responsif dan punya skalabilitas untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Sementara, di tengah meningkatnya ancaman siber, Bank BPD Bali terus meningkatkan sistem yang mampu melindungi data nasabah dari risiko pencurian dan penyalahgunaan.

“Investasi pada teknologi enkripsi, firewall, serta sistem deteksi dan respons ancaman siber menjadi prioritas untuk menjaga kepercayaan nasabah,” kata Sudharma.

Sebagai pimpinan di Bank BPD Bali, Sudharma menyadari bahwa keberhasilan transformasi digital juga tergantung pada bagaimana mengeksekusinya. Dan, dia memiliki tanggung jawab utama untuk memastikan keberhasilan transformasi digital dengan membangun visi, mendorong perubahan budaya, dan mengarahkan organisasi menuju tujuan yang telah ditetapkan.

Selanjutnya, Bank BPD Bali juga telah membentuk Divisi Pengembangan Digital dalam mendukung transformasi digital. Tujuannya, mengoptimalkan pengembangan dan pengelolaan produk/aktivitas layanan baru serta kerjasama dalam rangka pengembangan produk dan layanan berbasis digital.

Tujuan lainnya, Bank BPD Bali dapat bersaing dengan bank lain, khususnya dalam inovasi transaksi digital dan penguatan ekosistem digital. Selain itu, juga mendorong percepatan perkembangan bisnis, terutama untuk meningkatkan fee-based income yang diharapkan meningkatkan labanya.

Agar karyawan mampu mengadopsi teknologi, Bank BPD Bali juga menyelenggarakan program peningkatan keterampilan digital karyawan. Antara lain, melalui reskilling (penugasan karyawan berkenaan dengan project-project yang berkaitan dengan digitalisasi) dan upskilling (pemberian pendidikan dan pelatihan, serta sertifikasi kepada karyawan khususnya bidang TI berkenaan teknologi baru).

Reskilling dan upskilling yang telah dilakukan juga menggunakan platform Udemy Business sebagai media self learning yang memiliki topik kursus dan dapat dipilih karyawan,” tutur Sudharma.

Di samping itu, perekrutan karyawan yang telah dilakukan tahun 2024, khususnya pada bidang TI dan analisis bisnis, untuk mendukung percepatan pengembangan digital di Bank BPD Bali.

Transformasi digital yang dijalankan Bank BPD Bali telah membuahkan hasil. Pertumbuhan user BPD Bali Mobile (mobile banking) yang diluncurkan pada 1 Juli 2015, dari Nopember 2023 hingga November 2024, sebesar 21,77% (year on year/YOY), dengan peningkatan volume transaksi bulanan 27,11% (YOY) dan peningkatan nominal transaksi bulanan sebesar 27,85% (YOY).

Dalam kurun waktu tersebut, Internet Banking Bisnis/Internet Banking Korporasi yang diluncurkan pada 29 September 2017, user-nya tumbuh 20,56%, dengan peningkatan volume transaksi bulanan 30,10% (YOY) dan peningkatan nominal transaksi bulanan sebesar 19,85% (YOY).

Kemudian, realisasi kredit melalui aplikasi Digiloan juga mengalami peningkatan. Realisasi kredit tahun 2023 sejumlah plafon Rp 6,38 triliun dengan 34,9 ribu rekening, pencairan melalui aplikasi Digiloan sebanyak 31 ribu rekening, sedangkan 3.900 rekening secara manual.

Sementara di tahun 2024, dari realisasi kredit sejumlah plafon Rp 7,19 triliun dengan 36 ribu rekening, pencairan melalui aplikasi Digiloan sebanyak 31 ribu rekening dan 5 ribu rekening secara manual.

“Realisasi kredit semenjak penerapan aplikasi Digiloan meningkat 12,73% dari tahun 2023 sampai dengan 2024,” ujar Sudharma.

Indikator keberhasilan transformasi digital Bank BPD Bali juga terlihat pada peningkatan penggunaan Kartu Kredit Indonesia (KKI). Pada November 2024 tercatat sebesar Rp 3,3 miliar, terdiri dari 310 Dinas di Provinsi/Kabupaten/Kota di Bali. Angka ini melonjak 3.080% secara YOY karena pada November 2023 baru sebesar Rp 103,8 juta, terdiri dari 10 Dinas di Provinsi/Kabupaten/Kota di Bali.

Sudharma menjelaskan, kehadiran KKI ini dapat meningkatkan fungsi layanan Bank BPD Bali kepada ekosistem pemerintah daerah terkait digitalisasi pembayaran pembelian barang dan jasa oleh pemerintah, serta penguatan modal oleh UMKM.

Dengan transformasi digital, Bank BPD Bali pun terlihat makin efisien dari sisi operasional. Ini terlihat dari peningkatan return on assets (ROA): tahun 2022 hanya 2,62%, pada September 2024 telah naik menjadi 3,62%.

Demikian pula dengan return on equity (ROE)-nya, tahun 2022 masih di angka 17,78% meningkat menjadi 26,19% di September 2024. “Transformasi digital yang telah dilakukan oleh Bank BPD Bali membawa dampak signifikan dalam mendorong perbaikan berkelanjutan di berbagai aspek operasional, layanan, dan manajemen,” Sudharma menandaskan. (*)

Riset: Ayusha Laksmi Sitepu

# Tag