RSM Indonesia : Investor Menginginkan Stabilitas

RSM Indonesia menanggapi peluang Indonesia tetap bertumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tarif resiprokal. Menurut Senior Partner RSM Indonesia dan anggota Direksi RSM Internasional, Angela Simatupang, pemerintah Indonesia harus menciptakan iklim usaha yang suportif dan stabil.

“Investor itu mau stabilitas, stabilitas dalam kebijakan, enforcement, kejelasan, kebijakan tentang ketenagakerjaan dan penanganannya,” tegas Angela kepada swa.co.id di Jakarta pada Selasa (20/5/2025).

RSM Indonesia meyakini Indonesia semakin diperhatikan oleh investor dan klien internasional, termasuk sektor ekonomi digital dan sumber daya manusia yang terus berkembang. Sementara dari sisi produk domestik bruto (PDB), Indonesia diperkirakan akan tumbuh di rentang 4,7-5% pada tahun ini.

Namun kinerja produk domestik bruto (PDB_ Indonesia pada kuartal I/2025 bergerak lamban lantaran pertumbuhannya di 4,87%. Ini pencapaian terendah sejak kuartal III/2021. Angka tersebut juga berada di bawah konsensus para ekonom.

Sedangkan menurut pemaparan Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Mei 2025, bahwa jumlah orang yang bekerja sebanyak 145,77 juta orang. Adapun tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2025 mencapai 4,76%, turun 0,06% secara tahunan dibandingkan Februari 2024 sebesar 4,82%. Penurunan ini disebabkan kenaikan angkatan kerja pada bulan tersebut.

Angela juga menyinggung bahwa stabilitas turut membuka lapangan pekerjaan dan rasa aman bagi tenaga kerja. Ini juga berkaitan dengan langkah pemerintah Indonesia untuk terlibat dalam strategi China Plus One atau China + 1, salah satu strategi Cina untuk menarik investasi asing ke sejumlah negara. Dengan adanya strategi tersebut, Indonesia dapat menyerap tenaga kerja di berbagai sektor.

“Kita itu butuh bagaimana bisa menampung tenaga kerja padat karya, dengan 280 juta orang yang sebagian besar adalah berusia 30 tahunan. Itu adalah orang-orang yang perlu bekerja,” tambah Angela.

Selain negara melirik ke sektor ekonomi digital dan teknologi, sektor padat karya seperti manufaktur diharapkan dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak. Namun, langkah tersebut akan lebih efektif jika iklim bisnis lebih stabil serta kebijakan yang menciptakan rasa aman kepada tenaga kerja.

“Kita [semua] kembangkan, kita ciptakan lingkungan yang membuat orang merasa aman dan nyaman untuk berbisnis di Indonesia,” tutup Angela.

RSM Indonesia mengamati sejumlah peluang strategis yang dapat negara kembangkan, yaitu pengembangan rantai pasok kendaraan listrik (EV), energi hijau, keuangan digital (fintech), pariwisata, hingga teknologi kesehatan. Kebijakan hilirisasi industri dan pengembangan 24 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga diklaim membuat investor asing tertarik berbisnis ke Indonesia.(*)

# Tag