Phintraco Yakin ACES Tetap Prospektif, Targetkan Harga Rp685 per Saham

null

Di tengah lanskap ritel yang kian kompetitif, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) membuka tahun 2025 dengan semangat tinggi. Namun, realitas bisnis selalu menghadirkan dua sisi mata uang. Di satu sisi, pendapatan naik. Di sisi lain, margin menyempit, laba bersih pun tertekan.

Pada triwulan pertama 2025, ACES mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 7,2% secara tahunan (YoY) menjadi Rp2,13 triliun. Angka ini bukan sekadar hasil jual beli barang, tapi cermin dari strategi ACES yang memperluas portofolio gaya hidupnya.

Produk gaya hidup mencatatkan lonjakan penjualan sebesar 10,64% YoY menjadi Rp930 miliar, sementara produk perbaikan rumah juga tumbuh 5,5% YoY menjadi Rp1,1 triliun.

Namun, tidak semua lini mencatat kinerja serupa. Produk mainan mengalami stagnasi di angka Rp72 miliar, dan penjualan berbasis konsinyasi justru turun 8,38% YoY menjadi Rp34 miliar. Secara kuartalan (QoQ), pendapatan juga turun 9,3%, mencerminkan adanya perlambatan penjualan di seluruh kategori produk pada awal tahun ini.

Kenaikan pendapatan tak serta-merta berbanding lurus dengan laba. ACES justru dibayangi lonjakan beban operasional yang meningkat 19,97% YoY menjadi Rp802 miliar.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada beban penjualan, yang naik 26,11% YoY menjadi Rp651 miliar, dan beban umum dan administrasi yang melonjak 22,98% YoY menjadi Rp223 miliar.

Salah satu penyebab utama lonjakan beban ini adalah aktivitas promosi besar-besaran yang dilakukan ACES untuk mendukung rebranding AZKO — merek baru yang menjadi wajah segar perusahaan.

Beban iklan dan promosi pun melambung jadi Rp41 miliar pada kuartal pertama 2025, dibandingkan hanya Rp18 miliar di periode yang sama tahun lalu. ACES sendiri memperkirakan pengeluaran promosi ini akan kembali normal di tahun depan, setelah fase pengenalan merek selesai.

Beban gaji dan tunjangan juga turut menekan, seiring dengan tradisi tahunan perusahaan untuk membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) di kuartal pertama. Secara historis, dalam 3 tahun terakhir, selalu terjadi kenaikan beban gaji dan tunjangan saat ada pembayaran THR. Tak heran jika laba bersih ACES anjlok 32% YoY menjadi Rp138 miliar, atau baru mencapai sekitar 15% dari proyeksi laba setahun penuh.

Dalam pandangan analis, ini masih dalam batas yang wajar. “Kami mempertahankan peringkat ‘beli’ untuk ACES dengan proyeksi dan nilai wajar yang sama dengan pembaruan perusahaan ACES sebelumnya pada Rp685/saham,” ujar Muhamad Heru Mustofa, Research Analyst Phintraco Sekuritas, dalam keterangannya pada Kamis (22/5/2025).

Penurunan laba bersih ini juga dipicu oleh peningkatan beban keuangan sebesar 34,26% YoY menjadi Rp42 miliar. Faktor utamanya berasal dari naiknya bunga atas kewajiban sewa guna usaha serta biaya administrasi bank. Alhasil, margin laba bersih ACES terkikis 370 basis poin menjadi hanya 6,5% pada kuartal pertama tahun ini.

ACES memang tengah berada di persimpangan penting: antara agresivitas branding dan ketatnya kendali biaya. Tahun ini akan menjadi ujian seberapa jauh rebranding AZKO dan ekspansi gaya hidup bisa mendorong pemulihan margin dan pertumbuhan laba. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag