Meski Laba Menyusut Tajam, Elzatta (ZATA) Tetap Bagi Dividen Rp430 Juta

Meski Laba Menyusut Tajam, Elzatta (ZATA) Tetap Bagi Dividen Rp430 Juta
Suasana ruang temu publik di Mainhall Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada 15 Mei 2025. Gedung tersebut menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) beserta saham-saham perusahaan dari berbagai sektor. Foto Nadia K. Putri/SWA

Di tengah tantangan bisnis dan turunnya kinerja keuangan, PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) membuat keputusan yang cukup mengejutkan: tetap membagikan dividen tunai kepada pemegang sahamnya.

Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang baru saja digelar dan mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga hubungan baik dengan para investornya, meskipun sedang berada dalam tekanan.

Perusahaan yang dikenal mengelola merek fashion muslim Elzatta dan Dauky ini mengalokasikan sebagian laba bersih tahun buku 2024 untuk dividen. “RUPS memutuskan dan menyetujui sebagian dari laba bersih perseroan yang sebesar Rp430.360.000 akan dialokasikan untuk dividen kepada para pemegang saham,” tegas Direktur Keuangan PT Bersama Zatta Jaya Tbk, Ronny Soleh Pahlevi dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/5/2025).

Ronny menjelaskan bahwa rincian total nilai dividen dan jumlah per saham akan diumumkan oleh direksi, sesuai ketentuan yang berlaku. Yang jelas, keputusan ini diambil dari laba bersih ZATA sepanjang 2024, yang juga akan digunakan untuk modal kerja dan dana cadangan perusahaan.

Tahun 2024 memang bukan tahun yang mudah bagi ZATA. Mengacu pada laporan keuangan tahunan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya mencapai Rp2,15 miliar — turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di angka Rp9,96 miliar. Di tengah penurunan ini, keputusan untuk tetap membagikan dividen menjadi sinyal bahwa ZATA masih berpegang pada tanggung jawabnya sebagai emiten terbuka.

Selain untuk dividen, RUPST juga menetapkan penggunaan laba bersih sebesar Rp500 juta untuk dana cadangan. Jumlah ini sejalan dengan ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas, serta Anggaran Dasar perusahaan. Sementara itu, sisa laba sebesar Rp1,22 miliar akan dicatat sebagai laba ditahan untuk keperluan modal kerja.

Meski langkah ZATA bisa dibaca sebagai upaya untuk menjaga kepercayaan investor, kondisi pasar masih menunjukkan tantangan. Harga saham ZATA pada hari pengumuman tidak bergerak dari Rp10 per saham, mencerminkan stagnasi di pasar. Volume transaksi tercatat sebanyak 4,46 juta saham dengan frekuensi hanya 78 kali. Kapitalisasi pasarnya terakhir kali tercatat sebesar Rp84,96 miliar.

ZATA sendiri hingga kini masih menyandang notasi khusus dari BEI, menandakan status pengawasan khusus atas efek bersifat ekuitas. Namun dengan tetap dibagikannya dividen, perusahaan tampaknya ingin menunjukkan bahwa meski bisnis tengah tidak mudah, komitmen terhadap tata kelola dan akuntabilitas tidak luntur. (*)

# Tag