Dorong Pendidikan STEM, Stephanie Riady: “Masa Depan Tak Dibangun oleh Hafalan”
Metode pembelajaran sains dan matematika di Indonesia dinilai masih belum mengikuti pendekatan modern.
Menurut Stephanie Riady, Anggota Tim Penasihat Ahli Kementerian Pendidikan Dasar Menengah (Kemendikdasmen), selama ini pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) masih terpaku pada hafalan rumus, ujian pilihan ganda, dan minimnya praktik langsung di kelas.
Akibatnya, banyak siswa merasa asing dengan pelajaran STEM, padahal di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pendidikan berbasis STEM bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
“Pendidikan berbasis STEM mendorong generasi muda yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif,” ujar Stephanie dalam siaran pers, Jumat (23/5/2025).
Stephanie, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, mencontohkan negara-negara tetangga yang telah berhasil melakukan transformasi pendidikan.
Vietnam, misalnya, mereformasi kurikulumnya sejak 2010 dengan pendekatan berbasis proyek. Kini, performa siswa Vietnam sejajar dengan negara-negara maju. Sementara Malaysia terus mendorong partisipasi siswa dalam jalur STEM lewat pelatihan guru, insentif sekolah, dan kemitraan dengan industri.
Indonesia, menurutnya, memiliki potensi besar di bidang sains dan teknologi, terutama dari sisi kemampuan generasi mudanya. Namun, potensi ini hanya akan berkembang jika didukung oleh sistem pendidikan yang tepat serta kebijakan yang berpihak pada masa depan.
“Tidak semua anak harus jadi ilmuwan. Namun, setiap anak perlu tahu cara mengamati, berpikir, dan menyelesaikan masalah. Karena masa depan tak dibangun oleh hafalan, tetapi oleh keberanian untuk bertanya, mencoba, dan gagal, lalu bangkit kembali,” pungkasnya.
Sebagai upaya konkret, Riady Foundation melalui program STEM Indonesia Cerdas terus mendorong transformasi pendidikan nasional. Program ini dijalankan bersama Kemendikdasmen, Kementerian Pendidikan Tinggi Sainstek, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta lebih dari 500 satuan pendidikan perintis di seluruh Indonesia.
Mochtar Riady, pendiri Riady Foundation, menegaskan pentingnya investasi pada pendidikan. “Pendidikan adalah warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan untuk generasi penerus. Anak-anak kita tidak hanya butuh mimpi, mereka butuh bekal untuk mewujudkannya,” ucapnya.
Program STEM Indonesia Cerdas berfokus pada penguatan kompetensi guru, pengembangan kurikulum berbasis proyek dan kecerdasan buatan (AI), serta penyediaan ekosistem belajar yang kontekstual dan kolaboratif. Targetnya menjangkau 10 juta siswa Indonesia dalam lima tahun ke depan.
Untuk itu, Riady Foundation bersama mitra menyiapkan modul ajar inklusif, pelatihan guru, platform pembelajaran digital, serta sistem pemantauan dan evaluasi yang komprehensif.
Sebagai gambaran kondisi saat ini, laporan PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 71 dari 80 negara dalam literasi sains, menunjukkan masih rendahnya kemampuan berpikir ilmiah siswa. Sementara laporan Fixing the Foundation dari Bank Dunia menyoroti lemahnya desain pelatihan guru di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, khususnya dalam penguasaan konten dan metodologi pengajaran STEM.
Dengan tantangan tersebut, upaya memperkuat pendidikan STEM di Indonesia menjadi bukan hanya penting, tapi mendesak. (*)