JEKI Berbagi Modal, Siapkan Dana Usaha untuk Pelaku Usaha Mikro dan Kecil: Caranya?

null
Jaringan Ekonomi Kreatif Indonesia (JEKI) Berbagi Modal, siap danai pelaku usaha kecil dan mikro yang memenuhi kualifikasi akan mendapat modal usaha. (Foto: JEKI)

Di balik pertumbuhan pesat industri kreatif Indonesia, masih banyak pelaku usaha kecil dan mikro yang berjalan sendiri, bertahan di tengah keterbatasan modal, pasar, dan akses sumber daya. Bagi mereka, mimpi sering kali harus ditunda karena tidak cukupnya dukungan. Namun, sebuah inisiatif baru hadir membawa semangat baru — bukan sekadar bantuan, tetapi tawaran untuk tumbuh bersama. Namanya: JEKI Berbagi Modal.

Platform ini lahir dari semangat kolaborasi yang diusung Jaringan Ekonomi Kreatif Indonesia (JEKI). Sebuah gerakan yang tidak hanya ingin mengangkat potensi lokal, tetapi juga mendorongnya agar bersaing di panggung global. Dalam peluncurannya, JEKI memperkenalkan program “Berbagi Modal” sebagai langkah awal konkret dalam mewujudkan misi besar tersebut.

Program ini terbuka bagi pelaku usaha kecil dan mikro di Indonesia yang siap mengembangkan usahanya. Caranya sederhana: kirimkan proposal ke alamat email: [email protected] dan ikuti informasi lengkap di akun Instagram @jekikreatif. Tapi yang ditawarkan bukan hanya modal. Di baliknya, ada upaya lebih besar: membangun ekosistem yang saling menguatkan.

“Besarnya modal yang dikucurkan tergantung dari proposalnya. Untuk pelaku usaha mikro, kami menyiapkan dana sekitar Rp20 juta–50 juta, dan juga akan melakukan pendampingan,” ujar Wirson Selo, Konsultan Bisnis Kerakyatan yang juga menjadi inisiator dari gerakan ini.

Bukan hanya soal angka, tapi tentang membangun rumah bersama. Wirson melihat JEKI sebagai ruang terbuka bagi para kreator, UMKM, dan pelaku industri kreatif untuk bertumbuh—dari yang semula hanya dikenal di kampung halaman, hingga menembus pasar luar negeri.

Platform ini dirancang dengan satu tujuan: menjadikan industri kreatif sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia, berbasis inovasi dan kearifan lokal yang punya daya saing global. Maka dari itu, JEKI tidak hanya membuka akses permodalan, tapi juga menawarkan pelatihan, pendampingan, serta dukungan terhadap digitalisasi sektor kreatif.

“Platform ini dibangun untuk menjadi rumah bagi para kreator, UMKM, dan pelaku industri kreatif agar bisa tumbuh bersama, dari skala lokal hingga internasional,” lanjut Wirson.

Rangkaian peluncuran JEKI juga dirancang bukan sekadar seremoni. Mereka menggelar diskusi bertajuk “Ekonomi Kreatif: dari Analog sampai Digital”, yang menjadi ruang refleksi sekaligus inspirasi. Hadir dalam diskusi tersebut antara lain Fina Thorpe-Willett, pengusaha kuliner Padang yang sukses di Australia, Tuhu Nugraha, pakar digital yang lama mengadvokasi transformasi UMKM, dan dan Wirson Selo (Konsultan Bisnis Kerakyatan) sebagai inisiator JEKI.

Melalui JEKI, benih-benih usaha kecil yang selama ini tersebar tanpa arah kini ditawarkan jalan baru: untuk tumbuh bersama, saling belajar, dan berjejaring. Dan pada 17 Agustus 2025 nanti — bertepatan dengan ulang tahun ke-80 Republik Indonesia — sekitar 10 pelaku usaha terpilih akan diumumkan sebagai penerima program ini. (*)

# Tag