Industri Manufaktur Menggeliat, Laju Industri Kulit dan Alat Kaki Melambat
Pada Mei 2025, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) manufaktur menunjukkan kinerja positif dengan kembali bertahan pada fase ekspansi yang mencapai level 52,11.Meski begitu, masih ada dua subsektor yang mengalami kontraksi yakni industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki; serta industri peralatan listrik.
Menanggapi hal ini, Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Rizky Aditya Wijaya mengatakan kontraksi industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki itu disebabkan kenaikan harga sejak Maret 2025. Hal ini memicu harga jual produk sehingga konsumen domestik menahan konsumsi barang tahan lama, seperti alas kaki.
Selain itu, penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) di AS menyebabkan pesanan alas kaki dari Indonesia menurun. Sedangkan, 43% hasil produksi alas kaki Indonesia di ekspor ke berbagai negara, termasuk AS. Di sisi lain, dampak dari negosiasi tarif resiprokal yang diterapkan oleh Amerika Serikat telah menyebabkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri. "Banyak perusahaan yang mengambil sikap wait and see serta pembatalan investasi hingga iklim usaha lebih stabil," tutur Rizky pada taklimat media tertulis yang dikutip di Jakarta, Rabu (28/5/2025).
Meskipun demikian, Rizky menilai masih terdapat optimisme pada sektor industri alas kaki. Sebab sejak bulan Januari sampai Mei 2025, telah terdapat 12 investasi Penanaman Modal Asing (PMA) baru dengan skala besar masuk ke Indonesia.Adapun, izin investasi ini telah terbit dengan total nilai investasi mencapai Rp8 triliun dengan total kapasitas produksi 64,6 juta pasang alas kaki serta 214,6 juta pasang komponen alas kaki. (*)