Mutuagung Lestari (MUTU) Bakal Menyebar Rp7,21 Miliar untuk Dividen, Ekspansi Tetap Prudent
PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) atau MUTU International menetapkan pembagian dividen final tunai kepada para pemegang saham sebesar Rp2,30 per saham atau senilai Rp7,21 miliar. Perseroan menetapkan aksi korporasi ini pada Rapat Umum Pemegang Saham di Depok, Jawa Barat yang digelar pada Rabu pagi ini.
Pembagian dividen sesuai Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta peraturan yang berlaku di bidang pasar modal dan peraturan Bursa Efek Indonesia. Sisa laba bersih setelah dikurangi penyisihan cadangan wajib dan pembagian dividen final tunai sebesar Rp16.83 miliar dialokasikan perseroan untuk menambah saldo laba ditahan.
Emiten di bidang jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi (testing, inspection & certification/TIC) ini berambisi meningkatkan pangsa pasar di industri TIC nasional. Kemudian, perseroan membidik pendapatan melejit di tahun ini. Direktur Keuangan MUTU, Sumarna, mengatakan perseroan membagikan dividen ini seperti yang tertera pada prospektus IPO (initial public offering) di 2023. Perseroan merealisasikan IPO di BEI pada 9 Agustus 2023.
"Perseroan terus berkomitmen dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Hal ini terbukti dengan telah disetujuinya pembagian dividen," kata Sumarna pada paparan publik di Depok, Rabu (28/5/2025)
Lebih lanjut, Sumarna menyampaikan perseroan berekspansi mengedepankan prinsip kehati-hatian meski struktur permodalan cukup kuat. Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity/DER) MUTU di bawah 0,1 kali. Artinya, keuangan atau kas perseroan lebih banyak dibandingkan utang. Ekuitas MUTU per Maret 2025 senilai Rp222,23 miliar atau lebih tinggi dibandingkan liabilitas senilai Rp74,83 miliar.
"DER perusahaan memang rendah dan kami punya saldo laba ditahan dari laba bersih di 2024. Walau memiliki dana yang cukup, strategi kami berekspansi mengedepankan prinsip prudent," ucap Sumarna. Dia mencontohkan ekspansi perseroan adalah menambah jumlah kantor cabang menjadi 12 unit dari sebelumnya 6 unit.
Presiden Direktur MUTU, Arifin Lambaga, mengatakan perseroan telah menyusun berbagai strategi inovatif yang mencakup pengembangan laboratorium, skema sertifikasi baru, serta perluasan jasa inspeksi dan kajian guna memperkuat kinerja dan memperluas jangkauan pasar.
Strategi tersebut terbagi terfokus pada tiga pilar utama. Pilar pertama adalah Green Economy. Regulasi-regulasi baru secara global terkait dengan karbon dan transisi energi ke sumber yang lebih ramah lingkungan mendorong Perseroan untuk terus mengembangkan bisnis pada fokus strategi Green Economy, salah satunya dengan mengembangkan skema Green Gold Label, Sustainable Biomass Program, dan skema terkait dengan EU Deforestation Regulation (EUDR).
Pilar kedua adalah Shariah Economy. Negara-negara seperti Malaysia, Arab Saudi, dan Indonesia memimpin ekonomi halal dengan kebijakan nasional yang mendukung. Kesadaran konsumen dari Negara Non-Muslim terkait dengan ekonomi halal pun terus meningkat. Hal ini menjadi pemicu Perseroan untuk mengembangkan skema Sertifikasi dan Inspeksi di bidang Halal
. Sementara itu, pilar ketiga yakni Digital Economy. Tren digitalisasi yang terus diterapkan di berbagai industri tentunya juga menjadi prospek usaha yang relevan bagi Perseroan melalui penyediaan sistem traceability, terutama untuk aset sumber daya alam.
“Dengan rangkaian strategi ini, kami optimistis MUTU dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memperkuat posisi sebagai pemimpin industri TIC (Testing, Inspection, Certification) di Indonesia maupun kawasan regional,” tambah Arifin.
MUTU International pada 2024 mencatatkan pendapatan Rp308,84 miliar, meningkat 7,72% dari Rp286,71 miliar di 2023. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan pendapatan di segmen pengujian (testing) yang tumbuh signifikan 22,5%.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba kotor perseroan juga meningkat menjadi Rp139,11 miliar, atau naik 2,46% dibandingkan 2023 sebesar Rp135,76 miliar.
Beban pokok pendapatan naik 12,45% menjadi Rp169,73 miliar dari sebelumnya Rp150,94 miliar. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh bertambahnya beban penyusutan aset tetap, beban karyawan, dan biaya subkon pengujian, yang berkaitan langsung dengan peningkatan aktivitas operasional.
Beban usaha juga tercatat meningkat 15,92% menjadi Rp97,52 miliar, dibandingkan Rp84,12 miliar pada tahun sebelumnya, terutama disebabkan oleh peningkatan beban pegawai dan biaya pemasaran. Kenaikan beban menyebabkan laba usaha turun menjadi Rp41,59 miliar, menurun 19,46% dari Rp51,64 miliar.
Penurunan ini turut berdampak pada laba bersih yang sebesar Rp24,11 miliar, atau turun 22,10% dibandingkan Rp30,96 miliar.. Meski begitu, penghasilan komprehensif lain setelah pajak mengalami naik menjadi Rp1,21 miliar, dibandingkan rugi tahun sebelumnya Rp1,66 miliar.
Hal ini terutama disebabkan oleh keuntungan aktuaria dari imbalan pasca kerja. Secara keseluruhan, jumlah penghasilan komprehensif tahun berjalan tercatat Rp25,33 miliar, mengalami penurunan 13,56% dibandingkan tahun sebelumnya Rp29,30 miliar. Harga saham MUTU pada penutupan perdagangan hari ini naik tipis, sebesar 0,93% atau menjadi Rp103 dari perdagangan sebelumnya. (*)